Oleh: Otong Sulaeman

Sejak tanggal 16 Agustus lalu, gelombang kepulangan jamaah haji Indonesia sudah dimulai. Tiap hari saya menyaksikan di depan hotel-hotel yang dihuni jamaah haji Indonesia bertumpuk koper-koper besar berwarna hijau atau oranye yang siap diangkut sebagai bagasi pesawat. Sementara itu, per hari ini, kloter kami baru menempuh setengah perjalanan rencana 40 hari berada di Mekah dan Madinah.

“Beruntungnya mereka yang sudah mau pulang,” kata salah seorang teman satu kloter. Rupanya, dia termasuk di antara jamaah haji yang home sick. Saya bisa memaklumi perasaaan teman saya itu. Kami memang sama-sama menjalani masa-masa yang sangat berat selama menjalani ibadah haji ini. Di sisi lain, kawan saya ini punya toko yang pengelolaannya ia titipkan kepada anak buahnya. Rupanya, selama ia tinggal, aktivitas bisnis toko berjalan kurang maksimal. Baginya, syarat dan rukun haji sudah dijalani. Setelah berhasil menggugurkan kewajiban, untuk apa lagi berlama-lama di Arab Saudi, sementara di Tanah Air menunggu pekerjaan yang juga wajib ia kelola?

Kawan satu kloter saya yang lain punya tanggapan yang berbeda. Ia juga bersedih dengan fakta bahwa kami sudah mengarungi setengah perjalanan. Akan tetapi, kesedihannya itu justru karena ia mendapati betapa sisa hari-hari kami di Saudi tinggal 20 hari lagi. Ia mengatakan bahwa ibadah haji ini adalah kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas pekerjaan yang monoton dan melelahkan. Ia sedih karena benci dengan rutinitas pekerjaan di Indonesia. Di sini, segala sesuatunya sudah disediakan. Tak ada aktivitas apapun kecuali beribadah. Ia bersedih, karena tiba-tiba saja sudah berada di pertengahan jalan.

Kawan saya yang lain, yang berasal dari kloter berbeda, memberikan tanggapan yang berbeda. Ia sudah 33 hari di Saudi, dan berarti tinggal seminggu lagi berada di Mekah. “Saya sebenarnya merasa belum puas di Mekah ini. Ibadah di sini nikmat. Akan tetapi, di sisi lain, saya rindu sama anak-anak yang sudah sebulan lebih kami tinggalkan.”

Ketiga kawan saya itu sama-sama bersedih karena memberikan penebalan terhadap persepsi negatif atas salah satu sisi. Kawan saya yang pertama menempatkan kebaradaannya di Arab Saudi dalam konteks pelaksanaan kewajiban yang membebani. Kawan yang kedua malah melihat aktivitasnya di Indonesia itu yang membebani. Kawan yang ketiga berhasil menemukan sisi positif dari keduanya. Akan tetapi, ia memilih untuk berada di sisi seberangnya. Ia menempatkan dirinya sedang berada di Mekah di saat teringat kepada kehangatan keluarga. Sebaliknya, kesyahduan beribadah di Masjidul Haram malah ia tempatkan dalam keranjang kesedihan karena sebentar lagi ia harus sudah berada di Indonesia.

Dalam kehidupan, kita juga sering dihadapkan kepada situasi seperti itu. Anak saya, misalnya, punya kemampuan bermusik dan menulis yang baik. Kita bisa saja justru merasa gundah dengan adanya dua talenta itu, yaitu ketika melihatnya sebagai dilema. Jika memiih untuk berkarir di bidang musik, berarti anak saya mematikan potensi di bidang penulisan. Jika memilih karir sebagai penulis, sia-sialah ijazah ABRSM biolanya. Padahal, ia mendapatkan ijazah itu dengan susah payah.

Bayangkan jika kita adalah orang yang multi-talent. Makin sedihlah kita karena banyak sekali potensi-potensi yang terabaikan secara sia-sia, gara-gara kita harus fokus di salah satunya saja.

Itulah salah satu keanehan manusia. Makin berkelimpahan nikmat malah makin gelisah. Padahal, mestinya, makin banyak nikmat, ia makin punya banyak pilihan menikmati hidup. “Katakanlah, tiada yang kami tunggu kecuali satu di antara dua kebaikan.” (At-Taubah: 52)

Menjadi orang yang berbahagia atau bersedih itu pada akhirnya berpulang kepada kita.

(Catatan tanggal 21 Agustus 2019)

Baca:
Efek ‘Wow’ Melihat Ka’bah

Jejak-Jejak Makna di Baitul ‘Atiq

Menjadi Setitik Noktah

Bara’ah di Arafah dan The Not-To-Do-List

Qurban, Ibadah di Atas Limpahan Kesyukuran

You Two Were Made for Each Other

Menghamba di Rumah Kebebasan

Memilih Memori

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*