Oleh: Otong Sulaeman

Al-Kisah, ada tiga orang yang sama-sama berprofesi sebagai tukang ojek. Yang satu (katakanlah Si A), menjalani pekerjaannya dengan susah hati. Dia merasa sangat berat menjalani profesinya itu. Tiap hari dia harus bangun pagi, berpayah-payah di jalanan yang berdebu, panas. Kalau musim hujan, dia kehujanan, terancam banjir, dan sering sakit-sakitan. Tapi, dia harus menjalani semua itu. Kalau tidak, dia tidak akan mendapatkan uang nafkah. Hidupnya selalu berada dalam ancaman.

Si B menjalani profesinya itu dengan lebih bersemangat. Baginya, pekerjaan mengojek ini adalah peluang buat mendapatkan uang. Jika dia rajin, bisa jadi dia dapat bonus yang cukup besar. Dia yakin bahwa kalau mau berusaha keras, pasti dia akan mendapatkan uang. Lebih dari itu, suatu saat, dia bertemu dengan seorang penumpang yang baik, yang menawari dia pekerjaan lain yang lebih menjanjikan uang lebih. Maka, melalui pekerjaannya mengojeknya itu, dia akhirnya mendapatkan pekerjaan lain yang lebih baik. Baginya, pekerjaan mengojek adalah peluang untuk mendapatkan pekerjaan lainnya.

Si C lain lagi. Dia hanya menjadi tukang ojek bagi satu keluarga kaya yang baik hati. Dan dia tidak meminta bayaran atas pekerjaan mengojeknya itu. Tadinya, dia hanya tetangga biasa bagi si orang kaya. Dia bukan tukang ojek. Dia bekerja sebagai kuli bangunan.

Nah, orang kaya itu ternyata sangat dermawan. Dia banyak memberikan santunan kepada orang-orang kurang mampu yang ada di sekitarnya. Si C punya anak, dan biaya sekolah nakanya itu ditanggung sama orang kaya. Si C merasa punya utang budi kepada orang kaya itu. Sebagai ucapan terima kasihnya kepada kebaikan orang kaya, si C secara sukarela membantu orang kaya, di antaranya dengan cara mengantar keluarga orang kaya itu ke manapun mereka perlu.

Karena memang niatnya sekedar membantu, dan memang melakukannya sebagai bentuk ucapan terima kasih, si C tidak minta bayaran apapun kepada si orang kaya. Ia melakukan pengantaran dengan senang hati. Akan tetapi, karena pada dasarnya orang kaya itu adalah orang yang dermawan, dia tetap memberi tips kepada si C. Tentu saja kebahagiaan si C berlipat-lipat ketika mendapatkan hadiah dari orang kaya.

Begitulah gambaran motivasi kerja tukang ojek, dan begitu pula sebenarnya cara beragama. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa ada tiga cara beragama: cara budak, yaitu yang beragama karena takut siksaan; cara pedagang, yaitu beragama karena ingin mengambil untung; dan cara pecinta, yaitu beragama karena cinta kepada Allah; karena ingin berterima kasih (bersyukur) kepada Allah.

Agama (diin), memiliki akar kata yang sama dengan utang (dayn). Kedua kata ini memang punya kaitan erat. Beragama yang baik adalah beragama yg dilandasi oleh motif karena kita ingin membayar utang kepada Allah. Kita telah mendapatkan banyak sekali nikmat. Sebagai bentuk rasa syukur, kita melakukan apapun yang Allah perintahkan kepada kita.

Tentu Allah, Allah jauh lebih kaya dan jauh lebih dermawan ketimbang orang kaya nan dermawan yang ada dalam kisah di atas. Nikmat yang Allah berikan juga luar biasa melimpah bagi kita. Maka, selayaknyalah kita untuk menjadi orang miskin tadi yang dengan senang hati melakukan pelayanan dan pengabdian. Allah dengan segala kelimpahan karunia-Nya itu seperti ‘konsumen’ yang telah terlanjur membeli produk jasa kita dengan sistem inden. Dan Tuhan berani membayar mahal atas jasa ‘ibadah’ kita.

Hari-hari ini kita masih dalam suasana Idul Adha, hari raya qurban. Di dalam Al-Quran, perintah agar kita menyembelih hewan qurban itu didahului dengan reminder dari Tuhan bahwa limpahan nikmat karunia-Nya itu sangat besar. “Sungguh, telah Kami anugerahkan kepadamu nikmat yang banyak. Maka, salatlah, dan berkurbanlah.” (Al-Kautsar 1-2)

Banyak yang menduga bahwa ibadah dengan kualitas tertinggi itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang suci. Saya berpendapat bahwa pada dasarnya, kita sangat sering melakukannya. Yang diperlukan adalah mengubah cara pandang kita terhadap perilaku ibadah itu. Kita tambahkan value bagi perilaku kita.

Bisa jadi, perbedaan kita dengan orang-orang saleh itu hanya pada cara pandang terhadap ibadah tersebut. Tokh perilakunya sama. Sama-sama salat, dan sama-sama menyembelih hewan. Bedanya, kita melakukannya masih dengan mental pedagang, bahkan mungkin mental budak. Sedangkan para wali iuu melakukannya dengan riang gembira.

Ketika melempar jumrah, bertawaf, sa’i, wuquf, dan lain-lain, saya sering kali ‘celingukan’ mencari-cari sosok kekasih Tuhan yang menjalani semua ibadah haji yang ‘berat’ ini dengan tenang dan penuh keriangan.

(Catatan tanggal 14 Agustus 2019)

Baca:
Efek ‘Wow’ Melihat Ka’bah

Jejak-Jejak Makna di Baitul ‘Atiq

Menjadi Setitik Noktah

Bara’ah di Arafah dan The Not-To-Do-List

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*