Oleh: Otong Sulaeman

Sepasang suami istri asal Medan itu mempersilakan kami duduk di dua kursi kosong di mejanya. Sambil menyantap hidangan makan malam, kami mengobrol tentang sangat buruknya situasi ketika kami berada di tenda-tenda yang kami tempati selama pelaksanaan ibadah haji, terutama tenda di Mina.

Kondisi tenda di Mina memang bikin ngeri dan mencabik-cabik rasa kemanusiaan siapapun. Konon, akibat adanya tambahan kuota 10.000 jamaah haji, space yang tersedia per jamaah menjadi semakin kecil, menjadi hanya 0,6 m persegi per orang.

Yang saya saksikan untuk maktab kami sendiri, tenda seluas kira-kira 3 x 15 itu (atau malah lebih sempit) dijejali oleh sekitar 90 orang. Jadi, malah space per orangnya sekitar 0,5 m persegi per orang. Sangat sempit. Bahkan beberapa orang tak punya tempat untuk sekedar duduk sekalipun di dalam tenda.

Masalah makin bertambah karena toilet yang disediakan amat-sangat sedikit dibandingkan dengan penggunanya, yaitu sekitar 10 toilet untuk lebih dari 2.000 jamaah. Maka, tak heran jika untuk sekedar buang air, jamaah haji harus mengantri sampai 7-8 orang, dan bisa memakan waktu sejam lebih. Ditambah dengan kualitas makanan, dan juga insiden hujan, banjir, matinya listrik, maka makin lengkaplah penderitaan jamaah haji tahun ini.

Situasi yang sama-sama kami alami ini kami obrolkan di meja makan salah satu sudut food court di Zamzam Tower. Fakta yang kami alami tentu saja sama. Akan tetapi, ketika saya gali persepsi terhadap fakta tersebut, di antara sepasang suami istri itu, masing-masing dari keduanya menyampaikan hal yang berbeda. Salah satunya terus mengeluhkan dan memendam amarah. Sepertinya ia bertekad untuk membawa beban kekecewaan hingga dibawa pulang ke Tanah Air.

Tapi, yang lainnya terlihat sekali berhasil mengecilkan segala macam kesulitan yang dialami dan siap untuk meninggalkan semua titik hitam itu di sini. Ia lebih memilih untuk melihat situasinya dari sisi peta besarnya, yaitu bahwa semua kesulitan itu muncul dalam konteks pelaksanaan ibadah haji, sebuah kesempatan langka dan kenikmatan besar yang didambakan oleh jutaan orang di Indonesia.

Dalam istilah neuro semantic, orang ini secara otentik dan bertanggungjawab memilih ruang pandang, jarak pandang, sudut pandang, sisi pandang, dan titik pandang berbeda dibandingkan dengan pasangannya. Orang ini tidak mengizinkan memori buruk selama di Mina masuk terlalu jauh ke dalam benaknya. Seandainyapun terlanjur masuk, ia berusaha mendesak si memori buruk hingga sesegera mungkin keluar dari benaknya.

Memori manusia adalah ruang yang punya kapasitas terbatas. Tak mungkin kita memasukkan semua memori yang ada ke dalam benak kita. Cara paling efektif di saat kita ingin menolak masuknya memori-memori buruk adalah dengan memenuhi benak kita dengan memori baik. “Sesungguhnya, kebaikan-kebaikan itu akan melenyapkan berbagai keburukan” (Hud: 114)

Jadi, semuanya sangat bergantung kepada kita, jenis memori apa yang kita izinkan untuk masuk dan menetap lama di dalam benak kita.

(Catatan tanggal 19 Agustus 2019)

Baca:
Efek ‘Wow’ Melihat Ka’bah

Jejak-Jejak Makna di Baitul ‘Atiq

Menjadi Setitik Noktah

Bara’ah di Arafah dan The Not-To-Do-List

Qurban, Ibadah di Atas Limpahan Kesyukuran

You Two Were Made for Each Other

Menghamba di Rumah Kebebasan

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*