Oleh: Otong Sulaeman

Ka’bah adalah bangunan yang sangat tua. Bahkan, salah satu nama lain Ka’bah adalah Baitul ‘Atiq, yang bermakna “bangunan tua”. Dari riwayat yang pernah saya baca, nama Baitul ‘Atiq memang menunjukkan kepada makna harfiahnya, karena Ka’bah adalah bangunan pertama di muka bumi yang dibuat oleh manusia, yaitu Adam.

Dikisahkan bahwa ketika Adam dan Hawa melanggar perintah Tuhan soal larangan memakan buah Khuldi, keduanya diturunkan ke Bumi di tempat yang berbeda. Adam jatuh di kawasan India, dan Hawa turun di Jeddah. Adam lalu mencari-cari Hawa dalam keadaan hati yang hancur. Dia kehilangan istrinya, dan dia juga menanggung perasaan bersalah karena melanggar perintah Tuhan

Ketika sampai di Mekah, Jibril memberi tahu Adam, bahwa ia harus membangun sebuah rumah Tuhan dan bertawaf di sekeliling bangunan itu. Tawaf itu dilakukan untuk meniru tawafnya para malaikat di rumah Tuhan lain bernama Baitul Ma’mur di langit ketujuh. Maka, setelah bertawaf di sekeliling bangunan itu, Allah memaafkan kesalahan Adam, dan iapun dipertemukan dengan Hawa di Jabal Rahmah.

Berdasarkan riwayat tersebut, usia Ka’bah memang setua usia manusia itu sendiri. Maka, sebagai bangunan tua yang hingga kini masih ada, Ka’bah kemudian merekam banyak sekali peristiwa besar dalam sejarah peradaban manusia. Di tempat inilah Nabi Ismail dan ibunya, Siti Hajar, mementaskan perilaku yang sangat dramatis dan fenomenal. Ada peristiwa Sa’i, melimpahnya air Zamzam, perintah menyembelih anak sendiri, hingga melempar setan pengganggu.

Lalu, di masa kehidupan Rasulullah, banyak sekali momen di sekitar Ka’bah. Ada mukjizat burung-burung Ababil yang meluluhlantakkan pasukan gajah Abrahah. Rasulullah SAW sendiri lahir di sebuah rumah yang berjarak hanya beberapa puluh meter dari Ka’bah. Kemudian, dakwah terang-terangan pertama kali Rasulullah disampaikan di Bukit Safa, di dekat Ka’bah. Dan, penaklukan kota Mekah oleh kaum Muslimin ditandai dengan pembersihan Ka’bah dari unsur-unsur paganisme. Seiring dengan perguliran waktu, makin banyak peristiwa penting yang direkam oleh Ka’bah.

Di tulisan sebelumnya, saya menyatakan bahwa kita masih akan tetap merasakan ketakjuban terhadap bangunan Ka’bah karena persepsi kita tentang Ka’bah selalu dinamis. Di sini, saya tambahkan bahwa bukan hanya persepsi kita yang dinamis, bahkan Ka’bah pun bersifat dinamis. Sebagai penstudi filologi, saya terbiasa memandang naskah dari sebuah manuskrip kuno tidak sebagai benda mati semata. Para arkeolog juga tak akan memandang artefak hanya sebagai hiasan bisu. Benda-benda itu menyimpan cerita dan menorehkan jejak-jejak penuh makna.

Hari ini, ketika saya memandang Ka’bah untuk kesekian kalinya, bangunan itu memberikan kepada saya satu pencerahan lain yang sangat berharga. Saya yakin seyakin-yakinnya, banyak juga orang lain yang mengalami apa yang saya rasakan.

(Catatan tanggal 8 Agustus 2019) 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*