Oleh: Otong Sulaeman

Dalam salah satu sesi pelatihan neuro semantic yang saya ikuti, peserta ditanya, apakah saat ini merasa dirinya sebagai orang sukses. Mayoritas peserta menyatakan ‘tidak’. Rata-rata alasan mereka adalah, masih terlalu banyak harapan di masa lalu yang belum terwujud.

Jika alasannya adalah seperti itu, sampai kapanpun, orang tersebut tak akan pernah merasa sebagai orang sukses. Kenapa? Karena ketika ia berhasil mewujudkan salah satu harapan hidupnya, masih ada harapan lain yang belum tercapai. Orang itu akan bergerak melangkah dari satu titik harapan yang belum tercapai ke harapan yang belum tercapai lainnya. Jika demikan, kapan dia akan merasa menjadi orang sukses?

Ketika Iblis diusir dari surga karena menolak perintah Allah agar bersujud kepada Adam, ia lalu bersumpah untuk menyesatkan Adam dan anak keturunannya. “Akan aku goda mereka dari depan, belakang, serta sisi-sisi samping kanan dan kiri. Dan Engkau, tak akan mendapati banyak yang bersyukur.” (Al-A’raf: 17)

Ternyata hal pertama yang disasar oleh Iblis, dan dianggap sebagai titik terlemah manusia, adalah masalah kesyukuran. Iblis menyasarnya dari segala arah. Manusia digoda untuk melihat masa lalu sebagai keburukan, sehingga kehidupan pun akan dijalani dengan kebencian, dendam, kemarahan, dan kesedihan. Ia akan menghela nafas hidup dengan berat dan terseret-seret. Al-Quran menyebutnya sebagai huzn (kesedihan).

Iblis juga menggoda manusia dari arah masa depan, yang juga rentan dengan berbagai macam kekhawatiran dan ketakutan. Masa depan menjadi serba tak pasti, suram, dan mengancam. Al-Quran menyebutnya sebagai perasaan tidak aman (khouf). Karenanya, menurut Al-Quran, orang yang mendapatkan jalan terang Tuhan adalah orang yang tidak terancam dengan kekhawatiran akan masa depan, ataupun yang dibebani oleh kesedihan atas masa lalu (wa laa khofun ‘alaihim wa laa hum yahzanuun).

Godaan Iblis membuat kita lalai memberi value atas capaian-capaian kita di masa lalu; lalai atas kelimpahan karunia Ilahi yang menjaga seluruh kehidupan kita. Akibatnya, yang kita perbesar adalah apa yang belum didapat, atau apa yang tak ada pada kita namun ada pada orang lain. Yang kita perbesar adalah hal-hal negatif yang sebenarnya hanya menjadi penjeda di antara limpahan karunia lainnya.

Dua malam yang lalu, saya dan istri saya duduk di dalam Masjidul Haram, di depan Ka’bah. Kami bersimpuh bersujud syukur karena telah melewati puncak rangkaian ibadah haji yang cukup berat. Kami juga mensyukuri momen 20 tahun usia pernikahan kami; pernikahan yang kami lalui dengan suka dan duka, dengan tawa dan deraian air mata.

Kami mencoba menepis dan mengecilkan segala hal negatif yang pernah kami rasakan. Kami kasih ‘high-light’ seterang mungkin ucapan selamat dari kedua anak kami, dan ketika mereka menyatakan, “You two were made for each other.”

Kami lalu melantunkan doa yang kami baca dari kitab Ash-Shahifah As-Sajjadiyyah. Berikut ini adalah terjemahan dari petikan doa tersebut. Di beberapa tempat, saya selipkan kata-kata tambahan dari saya.

 

Ilahi,
Runtunan karunia-Mu telah melengahkan kami untuk benar-benar bersyukur pada-Mu
Limpahan anugerah-Mu telah melemahkan kami untuk menghitung pujian atas-Mu
Iringan ganjaran-Mu telah menyibukkan kami, hingga kami jarang menyebut-nyebut keutamaan-Mu

Ilahi,

Di halaman-Mu inilah kami singgah sebagai kafilah pengharap
Di serambi-Mu inilah kami berhenti sejenak, mendamba-Mu, mencari-cari karunia
Ilahi
Saat ini kami memanjatkan puji dan syukur kepada-Mu

Tapi, besarnya nikmat-Mu mengecilkan rasa syukur kami.
Pujian dan sanjungan kami memudar, di samping limpahan anugerah-Mu,
Anugerah-Mu tak terhingga sehingga kelu lidah kami menyebutkannya
Karunia-Mu tak berbilang sehingga lumpuh akal kami untuk memahaminya

Bagaimana mungkin kami mampu mensyukuri nikmat-nikmat-Mu,
Karena rasa syukur kami pada-Mu memerlukan kesyukuran lagi?

Ilahi
Bahkan ujian dari-Mu adalah keindahan dan rahmat-Mu semata
Ujian dari-Mu membuat kami tersadarkan tentang besarnya karunia-Mu selama ini
Seringnya, kami baru menyadari nikmat kesehatan, justru ketika kami sakit;
Nikmatnya makanan, justru kami rasakan setelah seharian kelaparan.

Ilahi
Bagi-Mu pujian atas keindahan ujian-Mu dan limpahan kenikmatan-Mu
Bagi-Mu pujian yang selaras dengan ridha-Mu yang sepadan dengan kebesaran kebajikan-Mu
Wahai Yang Maha Agung, Wahai Yang Maha Pemurah Dengan rahmat-Mu
Ya Arhamar-Rahimin, Wahai Yang Paling Pengasih dari semua yang mengasihi.

 

(Catatan tanggal 16 Agustus 2019)

 

Baca:
Efek ‘Wow’ Melihat Ka’bah

Jejak-Jejak Makna di Baitul ‘Atiq

Menjadi Setitik Noktah

Bara’ah di Arafah dan The Not-To-Do-List

Qurban, Ibadah di Atas Limpahan Kesyukuran

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*