LiputanIslam.com – Narasi berikutnya yang kita bahas terkait dengan falasi menganggap seuatu yang berbeda sebagai hal yang pasti bertentangan. Perhatikan narasi dari kubu Zionis berikut ini.
“Dalam menghadapi Israel, mestinya orang-orang Palestina itu diam dulu, mengatur strategi, dan mencari celah untuk bernegosiasi atau berunding. Itulah pilihan yang rasional. Jadi, perilaku orang-orang Palestina sekarang ini menunjukkan bahwa mereka bukan orang yang rasional.”
Salah satu materi penting dari ilmu logika adalah pembahasan tentang kata-kata yang memiliki makna berbeda (differentia). Kata adalah simbol dari makna. Ketika dua kata disandingkan satu sama lain, makna dari masing-masing kata itu bisa jadi sama, atau berbeda. Contoh kata dengan makna sama adalah “orang” dengan “manusia”, “bisa” dengan “racun”, dan lain-lain. Sementara itu, kata-kata yang memiliki makna berbeda disebut kata yang “berbeda”. Sebagian besar kata-kata yang ada dalam kamus pikiran kita memiliki relasi berbeda ini, seperti kata “manusia” dan “batu”; “kucing” dan “matahari”, dan lain sebagainya.
Nah, salah satu kesalahan berpikir yang kerap muncul adalah falasi yang menyatakan bahwa semua yang berbeda itu bertentangan (kontradiktif) atau beroposisi satu sama lain. Padahal, tidak setiap yang berbeda itu pasti berlawanan, apalagi sampai menciptakan situasi dilematis di mana salah satunya harus kita pilih.
Konsep “perlawanan bersenjata” memang berbeda dengan konsep “berdiplomasi”. Tapi, apakah kedua langkah ini bersifat dilematis? Tentu saja tidak. Kedua langkah ini bahkan bersifat komplementer, alias saling melengkapi. Ingat, dulu para pendiri bangsa Indonesia menjadikan peristiwa “Serangan Umum 1 Maret 1948” sebagai dasar untuk melakukan diplomasi di tingkat dunia, sehingga Belanda dan sekutu akhirnya mengakui kemerdekaan Indonesia.
Dalam kasus Palestina, pilihan untuk bertahan dan melawan (choice of resistence), adalah pilihan yang bermartabat. Ketika Anda dirampok, anakmu diculik, istrimu dipukuli, dan adikmu dibunuh oleh para perampok yang kejam dan bersenjata, apa yang akan Anda lakukan? Diam saja?
Melawan adalah tindakan bermartabat, alih-alih irasionalitas. Sementara itu, berdiam diri saja saat kita dizalimi dan kehormatan kita dijatuhkan tak lebih dari sikap pengecut yang hina. Shame on you! (os/liputanislam)