Teheran, LiputanIslam.com – Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan bahwa normalisasi hubungan dengan Israel hanya meningkatkan penindasan terhadap umat Islam dan meningkatkan biaya untuk mengalahkan rezim Zionis tersebut.
“Apa yang dilakukan rezim Arab dengan dalih menormalisasi hubungan dengan rezim Zionis hanya meningkatkan penindasan terhadap bangsa-bangsa Islam,” katanya dalam pidato televisi pada Kamis malam (27/2).
“Mengingat pendekatan buta ini oleh pemerintah dan rezim Arab dan Islam, biaya kekalahan dan keruntuhan rezim Zionis meningkat dari hari ke hari,” tambahnya.
Sayyid al-Houthi mengatakan demikian di tengah tekanan AS untuk normalisasi hubungan antara negara-negara Muslim dan Israel. Uni Emirat Arab, Maroko, dan Bahrain bergabung dengan apa yang disebut Perjanjian Abraham pada tahun 2020 ketika Palestina mengecam langkah tersebut sebagai “tikaman di punggung mereka.”
Di bagian lain pidatonya, al-Houthi menunjuk pada skema ekspansionis rezim tersebut.
“Musuh Israel hampir tidak ambigu atau misterius, mengingat pernyataan terbukanya tentang tujuan ekspansionis dan agresif untuk mendominasi wilayah geografis yang luas dari tanah umat Islam,” ungkapnya.
Dia juga upaya AS dan Israel melucuti senjata Hizbullah di Lebanon. “Apa yang dilakukan musuh ini terhadap bangsa Lebanon dan serangan terus-menerus terhadap Hizbullah bertujuan untuk melucuti Lebanon dari semua sarana kekuasaan dan pertahanan,” tuturnya.
Dia menambahkan, “Musuh ini tidak mencari perdamaian dengan Lebanon, bertentangan dengan apa yang dibayangkan oleh beberapa orang yang delusional dan bodoh.”
Pemimpin Ansarullah menyatakan demikian ketika rezim Israel terus menyerang Lebanon hampir setiap hari meskipun ada perjanjian gencatan senjata yang disepakati pada November 2024. (mm/presstv)