Oleh: Otong Sulaeman

Di kampus STFI Sadra, saya mengajar beberapa mata kuliah yang terkait dengan filsafat politik Islam. Dalam perkuliahan, saya mengajak mahasiswa untuk mengkritisi berbagai pilar filsafat politik Barat dengan menggunakan perspektif logika dan filsafat Islam. Salah satu yang sering kami kritisi adalah filsafat liberalisme.

Kebebasan adalah konsep yang sangat ajaib. Saya melihat bahwa di dunia Barat, konsep kebebasan itu sedemikian rupa menjadi aneh, manakala mereka yang mengklaim sebagai pihak yang menjunjung tinggi kebebasan itu justru terbelenggu kepada banyak sekali keterikatan.

Saya ambil contoh, sebagai salah satu isu paling populer, adalah konsep kebebasan berpakaian. Perempuan Barat yang bebas berbusana malah terikat untuk ‘harus’ berpakaian terbuka di tempat-tempat tertentu atas nama norma. Mereka terikat ‘harus’ menghabiskan waktu berdandan merias diri sebelum pergi keluar rumah, untuk mempercantik bagian-bagian tubuh yang ‘terbuka’. Mereka bahkan terikat ‘harus’ mengikuSti mode pakaian terbaru, jika tak ingin disebut ketinggalan zaman. Dan itu berarti, banyak uang yang ‘harus’ disiapkan untuk keperluan tersebut.

Situasi seperti ini tak dialami oleh muslimah yang memutuskan untuk mengenakan hijab secara ‘ideal’. Kata ideal saya tambahkan karena ada juga fenomena hijaber yang masih belum mampu mengenakan hijab sesuai dengan filosofi berhijab itu sendiri, yaitu meminimalisir ekspolitasi seksual kaum perempuan di ruang publik.

Secara sepintas, para hijaber memang terlihat banyak terikat karena ‘harus’ menutup aurat ketika beraktivitas di ruang publik. Akan tetapi, justru keterikatan itulah yang membuat kaum perempuan terbebas dari banyaknya keruwetan yang dialami kaum perempuan Barat.

Situasi ini bisa tercipta karena bebas dan terikat adalah dua situasi yang saling terhubung. Keduanya bisa digambarkan seperti dua sisi mata uang. Kemunculan salah satunya pasti akan diiringi dengan kemunculan yang lain. Tak ada orang yang melulu bebas, atau melulu terikat.

Pola bebas-terikat itu terlihat pada fenomena tawaf di sekeliling Ka’bah. Baitul ‘Atiq itu punya dua makna: pertama, rumah tua, dan yang kedua adalah rumah kebebasan. Dalam beberapa catatan sejarah yang saya baca, Ka’bah disebut Rumah Kebebasan, salah satunya adalah karena sepanjang sejarahnya, bangunan itu bebas dari kepemilikan siapapun, kecuali Tuhan.

Siapa yang memiliki Ka’bah? Jawabannya adalah: tak ada. Sekarang pun, ketika secara hukum Ka’bah berada di bawah pemerintahan Kerajaan Arab Saudi, setiap raja Saudi yang naik takhta hanya berani mengklaim dirinya sebagai ‘khadim’ atau pelayan, bukan pemilik.

Baitul ‘Atiq bermakna Rumah Kebebasan; bebas dari kepemilikan siapapun, dan juga, bebas dari intervensi pihak manapun. Orang-orang yang melakukan tawaf di sekeliling Ka’bah melakukan baiat, meleburkan diri bergabung dengan bangunan yang bebas ini.

Baitul ‘Atiq memberikan perspektif tentang bagaimana konsep kebebasan yang meluas, bukan hanya pada liberalisme gaya Barat (yang justru banyak menawarkan banyak belenggu). Kita justru dianggap orang yang bebas manakala dengan kesadaran penuh, tanpa paksaan siapapun, memilih untuk mengalungkan rantai belenggu penghambaan hanya kepada Tuhan yang Maha Pengasih; yang mengajarkan kepada kita cara agar bisa terbebas dari belenggu hawa inafsu dan godaan setan yang menjerumuskan.

Selamat merayakan hari kemerdekaan, hari kebebasan, hari pembebasan.

(Catatan 17 Agustus 2019)

Baca:
Efek ‘Wow’ Melihat Ka’bah

Jejak-Jejak Makna di Baitul ‘Atiq

Menjadi Setitik Noktah

Bara’ah di Arafah dan The Not-To-Do-List

Qurban, Ibadah di Atas Limpahan Kesyukuran

You Two Were Made for Each Other

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*