Oleh: Otong Sulaeman

Bartawaf di musim haji tidaklah ‘senyaman’ jika dilakukan di masa umrah. Kita harus berdesak-desakan dengan ribuan, bahkan jutaan orang, yang datang bergelombang silih berganti selama 24 jam dalam sehari. Sangat sulit untuk berdiri secara nyaman di sudut Hajarul Aswad dan menyampaikan salam baiat ke arah Ka’bah. Juga sangat sulit bertawaf masuk ke ‘lorong’ antara Maqam Ibrahim dan Ka’bah. Jika kita ingin bertawaf dengan jarak yang pendek, kita harus melakukannya di lingkaran terdekat ke Ka’bah, dan itu berarti kita akan berdesakan dan tergencet oleh orang lain. Jika ingin agak longgar, kita harus menjauh dari Ka’bah, dan itu artinya kita menempuh jarak yang melelahkan.

Istri saya yang beberapa bulan lalu melakukan ibadah umrah sempat ciut untuk melakukan ibadah tawafnya di waktu musim haji ini. Meskipun akhirnya bisa menyelesaikan dengan baik, ia tetap terlihat kelelahan.

Selain terkait dengan urusan tawaf, musim haji juga bermakna sangat repotnya melakukan berbagai macam ibadah sunnah lainnya di sekitar Ka’bah. Di musim haji ini, hampir mustahil bisa mencium Hajarul Aswad, berdoa di Multazam, salat di Hijir Ismail, dan lain sebagainya. Banyak yang kemudian merasa  kecewa, karena kehilangan kesempatan mendapatkan pahala dari ibadah-ibadah sunnah tersebut.

Besoknya, saya dan istri saya naik ke lantai atas Masjidul Haram. Kami memandangi orang-orang yang bertawaf dari atas. Sangat indah, sangat teatrikal. Ribuan orang mementaskan pagelaran seni koreografi yang sangat artistik. Seperti putaran bintang mengelilingi pusat galaksi; atau seperti sekumpulan laron yang mengelilingi cahaya.

Kami melihat titik-titik yang bergerak melingkar secara alamiah; memadat di satu waktu, lalu merenggang di waktu lain. Di saat ada ruang kosong, segera ada titik yang mengisinya. Lalu ada titik-titik yang menjauh dari pusaran. Itulah mereka yang selesai melakukan tawaf. Tapi, tak lama kemudian, datang gelombang titik-titik yang baru bergabung. Sedangkan Sang Magnet, yaitu Ka’bah, dengan agungnya kukuh dan tegak berada di tengah pusaran.

Air mata kami mengalir sambil mengucapkan tasbih menyaksikan pemandangan yang menakjubkan itu. “Ma, kemarin, kita adalah noktah itu, lho,” kata saya. “Dan hampir pasti, saat kita menjadi bagian dari pementasan itu, ada orang yang memandangi kita dan merasakan keagungan rumah Allah, sebagaimana yang kita rasakan saat ini.”

Haji adalah panggilan Tuhan kepada seluruh orang Islam. Haji dilaksanakan dilaksanakan di tempat tertentu, dan di waktu tertentu. Ada sekitar 2,5 juta orang yang memenuhi panggilan, dan semuanya secara bergiliran menjadi noktah di setiap pementasan tawaf. Saat kita menjadi noktah, kita melebur dan membentuk gelombang syiar Rumah Tuhan. Setiap diri kita meleburkan ego, menjadi tak tampak. Tapi, titik-titik itu menjadi bagian penting dari sebuah pementasan maha dahsyat

Dengan persektif seperti itu, alih-alih kecewa, kita mestinya merasa bangga di saat kita harus berdesakan dan berlelah-lelah melakukan tawaf. Inilah salah satu bentuk penghambaan yang hakiki. Bahkan, kalau direnungkan lebih jauh lagi, inilah justru tujuan dari ibadah haji: menghancurkan ego ke-aku-an. Kita menjadi bagian dari syiar, tanpa ketahuan oleh siapapun, kecuali oleh Allah.

Hari ini, kami berangkat menuju Arafah di hari Tarwiyah. Besok, tanggal 10 Agustus, kami akan melaksanakan wuquf di Arafah, dan kami kembali menjadi titik teramat kecil dari jutaan hujjaj yang akan mementaskan pertunjukan malakuti yang lain. Labbaik Allahumma labbaik!

(Catatan tanggal 9 Agustus 2019)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*