Oleh: Otong Sulaeman

Ibadah haji merekam banyak sekali peristiwa dalam lintasan sejarah Islam. Salah satu peristiwa politik yang cukup fenomenal adalah pembacaan surah At-Taubah atau dikenal juga dengan nama Al-Bara’ah (surah ke-9 dalam Al-Quran) di sela-sela pelaksanaan ibadah haji. Surah ini sebenarnya turun di Madinah. Menariknya, isi surah ini ditujukan kepada kaum Musyrikin yang ada di Mekah. Maka, Rasulullah pun mengutus salah seorang sahabatnya untuk membacakan pesan yang ada di dalam surah ini di hari Arafah.

Surah Al-Bara’ah adalah satu-satunya surah di dalam Al-Quran yang tidak diawali dengan kalimat basmalah. Alasannya, surah ini dipenuhi dengan pesan-pesan penegasian, penolakan, pernyataan berlepas diri, dan kecaman terhadap perilaku buruk.  Memang akan terasa janggal jika kecaman diantarkan dengan senyum. Pesannya bisa jadi tidak akan sampai.

Di dalam literatur pemikiran politik Islam modern, kata bara’ah menjadi salah satu kata kunci. Kata ini disandingkan dengan kata wilayah (atau kadang dikenal konsep wala dan bara’). Wilayah berkonotasi penerimaan (acceptance) sedangkan bara’ah  berkonotasi penolakan (refusal). Ide dasar dari penyandingan wilayah dengan bara’ah ini adalah: penerimaan atas seuatu saja tidak cukup. Anda harus juga menunjukkan penolakan atas sesuatu yang lain. Penerimaan atas sesuatu tanpa disertai dengan penolakan terhadap lawannya hanya akan membuat langkah menjadi lemah, dan berujung kepada kegagalan.

Meskipun memiliki sejarah yang terkait dengan masalah politik, dan sekarang juga lebih banyak dipakai di dunia politik, bara’ah sejatinya merupakan konsep hidup yang universal. Kalau Anda ingin berhasil, Anda tidak hanya harus membuat daftar rencana dan hal-hal yang harus Anda lakukan (To-Do-List –TDL). Anda juga harus membuat daftar penolakan atas beberapa hal lain (Not-To-Do-List –NTDL).

Misalnya, Anda sedang menyelesaikan sebuah laporan, dan pekerjaan itu menggunakan komputer. Anda bukan hanya harus punya daftar hal-hal yang harus dikerjakan agar laporan itu selesai. Anda juga harus me-list beberapa hal yang biasanya menjadi pengganggu saat Anda memegang komputer: main medsos, membaca infotaintment, main game, dan beberapa kebiasaan buruk lainnya.

Dalam konteks tasawuf, NTDL bukanlah konsep yang asing. Bahkan, NTDL harus didahulukan dari TDL. Perjalanan spiritual manusia dimulai dari terminal takhalli, yang bermakna mengosongkan diri dari segala sifat buruk. Barulah ia menapaki jalan tahalli (menghiasi diri), lalu akan muncul tajalli (keagungan jiwa).

Arafah satu akar kata dengan makrifat, yang memiliki makna “pengetahuan”. Di sini, jutaan hujjaj diperintahkan untuk berdiam diri (wuquf) dan merenung. Untuk itu, hal terbaik dan yang pertama kali harus dilakukan oleh seorang jamaah haji di Arafah adalah merenungi dan mengenali sifat-sifat buruk yang masih menjadi karat bagi hatinya; menjadi beban bagi jiwanya.

Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa ketika Allah hendak menurunkan hikmah kepada seorang hamba, yang pertama kali Dia lakukan adalah Dia tunjukkan aib-aib hamba tersebut, supaya hamba itu sibuk memperbaiki dirinya. Hari ini, di Padang Arafah, bersama jamaah haji lainnya, saya mencoba mengais-ngais percikan cahaya hikmah Ilahi yang bertaburan di bentangan padang pasir yang tandus dan luas ini.

Labbaik Allahumma labbaik!

(Catatan di Hari Arafah, 10 Agustus 2019)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*