Falsafah Kematian: Mengenang Gugurnya Soleimani

0
5101

Otong Sulaeman*

LiputanIslam.com –Ada yang unik dengan tanggal 2 Mei bagi bangsa Indonesia dan Iran. Kedua bangsa sama-sama memperingatinya sebagai Hari Pendidikan Nasional (atau tepatnya, kalau di Iran disebutnya Hari Penghormatan kepada Guru, Rouz-e Moallem). Bagi bangsa Indonesia, tanggal 2 Mei ditetapkan sebagai Hari Pendidikan karena di hari itulah pada tahun 1889, lahir seorang tokoh pendidikan bangsa bernama Ki Hadjar Dewantara. Sementara itu, bagi bangsa Iran, tanggal 2 Mei dinyatakan sebagai hari penghormatan terhadap guru karena di tanggal itu pada tahun 1979, ilmuwan besar Iran bernama Murtadha Muthahhari tewas akibat serangan teror Milisi Furqan.

Sungguh unik. Bagi bangsa Iran, kematian dipandang lebih bermakna ketimbang kelahiran. Iran lebih memilih tanggal 2 Mei sebagai hari besar, ketimbang tanggal 31 Januari (tahun 1929) yang merupakan hari kelahiran Muthahhari. Sebaliknya, kita tak pernah memperingati (bahkan kita tak pernah peduli) tanggal 26 April 1959 yang merupakan hari wafatnya Ki Hadjar Dewantara.

Bangsa Iran memang memiliki cara pandang yang unik dalam memandang kehidupan. Bagi mereka, kematian jauh lebih bermakna ketimbang kelahiran. Ada dua perspektif yang bisa dipakai. Pertama, kematian adalah titik akhir dari kehidupan di dunia. Tak ada lagi yang bisa dilakukan untuk memperbaiki kekurangan/kekeliruan, juga tak ada waktu lagi untuk menambah value diri atau menebarkan cahaya kebaikan bagi yang lain. Kematian seharusnya menjadi peak performance seorang manusia.

Dalam perspektif seperti ini, prestasi kebaikan apapun yang dibuat oleh seseorang masih belum dianggap hebat selama dia masih diberi kesempatan untuk bernafas. Masih selalu terbuka kemungkinannya, kebaikan yang telah dibuat olehnya itu akan berubah menjadi keburukan, manakala ia gagal menjaga konsistensi. Masih sangat mungkin amalan baik yang telah ia lakukan itu malah diikuti dengan amalan buruk. Bukankah dalam berbagai teks agama banyak disebutkan tentang amalan buruk yang menghapus amalan baik? Bukankah gara-gara menggunjing, amalan kebaikan seseorang itu akan lenyap dan ter-transfer kepada catatan amalan orang yang ia gunjing? Bukankah ada orang yang pergi haji, tapi sepulangnya dari ibadah haji itu ia malah menjadi orang yang sombong sehingga hajinya menjadi mardud (tertolak)?

Penilaian akhir atas kebaikan dan keburukan seseorang sepenuhnya bergantung kepada posisi dirinya di saat meninggal dunia. Seseorang disebut baik jika ia baik di saat meninggal, meskipun dalam penggalan hidupnya ada sejumlah noda hitam. Sebaliknya, seseorang akan disebut buruk jika di saat menghembuskan nafasnya yang terakhir, dirinya diselimuti noda hitam pekat, meskipun sepanjang hidupnya ia banyak berbuat baik. Atas dasar itulah maka salah satu doa yang sangat populer, dan Rasulullah SAW menekankan kepada kita untuk membacanya, adalah doa agar kita mati dalam keadaan husnul khatimah (akhir yang baik). Bahkan para nabi pun berdoa agar diwafatkan bersama orang-orang yang baik (tawaffanaa ma’al abrar).

Adapun perspektif kedua, kenapa kematian itu sangat penting, adalah keyakinan eskatologis, yaitu kepercayaan adanya kehidupan setelah kematian. Kaum Muslimin percaya bahwa ada alam akhirat, dan kematian adalah pintu gerbang untuk memasuki alam tersebut.

Akhirat adalah alam yang utama dan abadi. Segala alam yang dilalui manusia tak lain hanyalah terminal perlintasan dengan tujuan akhir kampung abadi di akhirat. Alam dunia tempat kita sekarang berada tak lebih dari tempat persinggahan sementara. Jangka waktu kehidupan di dunia ini, jika dibandingkan dengan seluruh waktu yang dibutuhkan manusia dalam perlintasan perjalanan hidupnya itu seperti berlalunya waktu dari pagi sampai petang (‘asyiyyatan aw dhuhaahaa)

Dari sisi ini, saat seseorang meninggal, ia membuka gerbang yang lebih besar, dan kampung yang akan dimasukinya itu juga sangat besar sekaligus menjadi tempat tinggal selamanya. Sementara itu, kelahiran seeeorang akan menjadi suatu peristiwa yang ‘kecil’ saja. Saat lahir, seseorang ‘hanya’ akan masuk ke tempat persinggahan sementara, tempat ia harus mengumpulkan bekal untuk sebuah perjalanan berikutnya, perjalanan yang abadi.

Dengan dua perspektif inilah maka bagi bangsa Iran, kematian menjadi sesuatu yang jauh lebih bermakna ketimbang kelahiran. Kematian lebih  layak direnungi, dimaknai, serta menjadi bahan kontemplasi bagi manusia. Kematian lebih banyak memberikan pelajaran, pesan moral, dan insight. Kematian lebih layak diperingati ketimbang kelahiran.

Tanggal 3 Januari lalu, seorang Jenderal Iran dibunuh oleh tentara AS. Peristiwa ini memicu kehebohan di seluruh dunia. Bangsa Iran yang memang memiliki perspektif unik dalam memandang kematian tenggelam dalam suasana yang aneh dan mistis. Jutaan orang tumpah ruah ke jalanan. Mereka serempak menangis sambil menyampaikan kata-kata kepada orang-orang yang sudah meninggal, seakan-akan orang-orang itu masih hidup dan membalas kata-kata mereka. Mereka memberikan penghormatan kepada para martir yang kerandanya memang diarak melalui kota-kota besar seperti Ahvaz, Mashad, Teheran, Qom, dan Kerman. Ada amarah, kesedihan, kebanggaan, dan semangat pembalasan yang membuncah.

Jenderal Qassem Soleimani sudah tewas. Rakyat Iran akan memaknai tanggal 3 Januari sebagai hari yang sangat istimewa. Mungkin saja, mereka akan memberi sebuah nama khusus untuk tanggal 3 Januari ini, entah apa namanya. []

*Peneliti Indonesia Center for Middle East Studies (ICMES), Dosen STFI Sadra

DISKUSI: