Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Kajian Islam

Falsafah Kematian: Mengenang Gugurnya Soleimani

Published 07/01/2020 6 Min Read
Share
6 Min Read
SHARE

Otong Sulaeman*

LiputanIslam.com –Ada yang unik dengan tanggal 2 Mei bagi bangsa Indonesia dan Iran. Kedua bangsa sama-sama memperingatinya sebagai Hari Pendidikan Nasional (atau tepatnya, kalau di Iran disebutnya Hari Penghormatan kepada Guru, Rouz-e Moallem). Bagi bangsa Indonesia, tanggal 2 Mei ditetapkan sebagai Hari Pendidikan karena di hari itulah pada tahun 1889, lahir seorang tokoh pendidikan bangsa bernama Ki Hadjar Dewantara. Sementara itu, bagi bangsa Iran, tanggal 2 Mei dinyatakan sebagai hari penghormatan terhadap guru karena di tanggal itu pada tahun 1979, ilmuwan besar Iran bernama Murtadha Muthahhari tewas akibat serangan teror Milisi Furqan.

Sungguh unik. Bagi bangsa Iran, kematian dipandang lebih bermakna ketimbang kelahiran. Iran lebih memilih tanggal 2 Mei sebagai hari besar, ketimbang tanggal 31 Januari (tahun 1929) yang merupakan hari kelahiran Muthahhari. Sebaliknya, kita tak pernah memperingati (bahkan kita tak pernah peduli) tanggal 26 April 1959 yang merupakan hari wafatnya Ki Hadjar Dewantara.

Bangsa Iran memang memiliki cara pandang yang unik dalam memandang kehidupan. Bagi mereka, kematian jauh lebih bermakna ketimbang kelahiran. Ada dua perspektif yang bisa dipakai. Pertama, kematian adalah titik akhir dari kehidupan di dunia. Tak ada lagi yang bisa dilakukan untuk memperbaiki kekurangan/kekeliruan, juga tak ada waktu lagi untuk menambah value diri atau menebarkan cahaya kebaikan bagi yang lain. Kematian seharusnya menjadi peak performance seorang manusia.

Dalam perspektif seperti ini, prestasi kebaikan apapun yang dibuat oleh seseorang masih belum dianggap hebat selama dia masih diberi kesempatan untuk bernafas. Masih selalu terbuka kemungkinannya, kebaikan yang telah dibuat olehnya itu akan berubah menjadi keburukan, manakala ia gagal menjaga konsistensi. Masih sangat mungkin amalan baik yang telah ia lakukan itu malah diikuti dengan amalan buruk. Bukankah dalam berbagai teks agama banyak disebutkan tentang amalan buruk yang menghapus amalan baik? Bukankah gara-gara menggunjing, amalan kebaikan seseorang itu akan lenyap dan ter-transfer kepada catatan amalan orang yang ia gunjing? Bukankah ada orang yang pergi haji, tapi sepulangnya dari ibadah haji itu ia malah menjadi orang yang sombong sehingga hajinya menjadi mardud (tertolak)?

Penilaian akhir atas kebaikan dan keburukan seseorang sepenuhnya bergantung kepada posisi dirinya di saat meninggal dunia. Seseorang disebut baik jika ia baik di saat meninggal, meskipun dalam penggalan hidupnya ada sejumlah noda hitam. Sebaliknya, seseorang akan disebut buruk jika di saat menghembuskan nafasnya yang terakhir, dirinya diselimuti noda hitam pekat, meskipun sepanjang hidupnya ia banyak berbuat baik. Atas dasar itulah maka salah satu doa yang sangat populer, dan Rasulullah SAW menekankan kepada kita untuk membacanya, adalah doa agar kita mati dalam keadaan husnul khatimah (akhir yang baik). Bahkan para nabi pun berdoa agar diwafatkan bersama orang-orang yang baik (tawaffanaa ma’al abrar).

Adapun perspektif kedua, kenapa kematian itu sangat penting, adalah keyakinan eskatologis, yaitu kepercayaan adanya kehidupan setelah kematian. Kaum Muslimin percaya bahwa ada alam akhirat, dan kematian adalah pintu gerbang untuk memasuki alam tersebut.

Akhirat adalah alam yang utama dan abadi. Segala alam yang dilalui manusia tak lain hanyalah terminal perlintasan dengan tujuan akhir kampung abadi di akhirat. Alam dunia tempat kita sekarang berada tak lebih dari tempat persinggahan sementara. Jangka waktu kehidupan di dunia ini, jika dibandingkan dengan seluruh waktu yang dibutuhkan manusia dalam perlintasan perjalanan hidupnya itu seperti berlalunya waktu dari pagi sampai petang (‘asyiyyatan aw dhuhaahaa)

Dari sisi ini, saat seseorang meninggal, ia membuka gerbang yang lebih besar, dan kampung yang akan dimasukinya itu juga sangat besar sekaligus menjadi tempat tinggal selamanya. Sementara itu, kelahiran seeeorang akan menjadi suatu peristiwa yang ‘kecil’ saja. Saat lahir, seseorang ‘hanya’ akan masuk ke tempat persinggahan sementara, tempat ia harus mengumpulkan bekal untuk sebuah perjalanan berikutnya, perjalanan yang abadi.

Dengan dua perspektif inilah maka bagi bangsa Iran, kematian menjadi sesuatu yang jauh lebih bermakna ketimbang kelahiran. Kematian lebih  layak direnungi, dimaknai, serta menjadi bahan kontemplasi bagi manusia. Kematian lebih banyak memberikan pelajaran, pesan moral, dan insight. Kematian lebih layak diperingati ketimbang kelahiran.

Tanggal 3 Januari lalu, seorang Jenderal Iran dibunuh oleh tentara AS. Peristiwa ini memicu kehebohan di seluruh dunia. Bangsa Iran yang memang memiliki perspektif unik dalam memandang kematian tenggelam dalam suasana yang aneh dan mistis. Jutaan orang tumpah ruah ke jalanan. Mereka serempak menangis sambil menyampaikan kata-kata kepada orang-orang yang sudah meninggal, seakan-akan orang-orang itu masih hidup dan membalas kata-kata mereka. Mereka memberikan penghormatan kepada para martir yang kerandanya memang diarak melalui kota-kota besar seperti Ahvaz, Mashad, Teheran, Qom, dan Kerman. Ada amarah, kesedihan, kebanggaan, dan semangat pembalasan yang membuncah.

Jenderal Qassem Soleimani sudah tewas. Rakyat Iran akan memaknai tanggal 3 Januari sebagai hari yang sangat istimewa. Mungkin saja, mereka akan memberi sebuah nama khusus untuk tanggal 3 Januari ini, entah apa namanya. []

*Peneliti Indonesia Center for Middle East Studies (ICMES), Dosen STFI Sadra

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Internasional

Teror Qassem Soleimani Diduga untuk Halangi Rujuknya Iran-Saudi

By Hadi
Amerika - Eropa

Terlibat Teror Soleimani, Pompeo Mengeluh Hidupnya Tak Normal lagi

By Hadi
Internasional

Dianggap Masih Terancam oleh Iran, AS Perpanjang Perlindungan untuk Pompeo dan Hook

By Hadi
Internasional

Diduga Terlibat Teror Jenderal Soleimani, Hizbullah Irak Sebut Mantan PM Irak Tak Bisa Lolos dari Hukum

By Hadi
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account