Mendekati Tuhan dengan Menjadi Orang yang Berilmu

0
5292

Dr. Otong Sulaeman*

LiputanIslam.com –Mendekatkan diri kepada Tuhan (taqarrub ilaa-Allah) adalah salah satu terma yang sangat terkenal dalam ilmu akhlak dan juga ‘irfan (tasawuf). Disebutkan bahwa setiap manusia itu pada dasarnya sedang melakukan perjalanan spiritual menuju kampung abadi; menuju Tuhan, baik dengan cara taat atau dengan terpaksa (thaw’an awa karhan). Dikatakan juga bahwa kedekatan kepada Tuhan akan memberikan kepada manusia kebahagiaan hakiki; kebahagiaan yang sama sekali tak bisa dibandingkan dengan kelezatan dunia apapun (harta, makanan, seksual, dll). Taqarrub adalah kunci kebahagiaan.

Istilah  ‘mendekatkan’ (taqarrub) memiliki tiga bentuk: tempat, waktu, dan spiritual. Kota Bekasi disebut ‘dekat’ dengan kota Jakarta, terutama jika dibandingkan dengan kota-kota lain semisal Bandung, Semarang, Surabaya, dll. Kata ‘dekat’ yang dipakai untuk menyifati kota Bekasi dan Jakarta terkait dengan ‘tempat’.

Kadang kala, kata dekat dipakai untuk menggambarkan waktu. Misalnya, para siswa kelas 3 SMU semakin sering merasakan depresi manakala ujian sudah semakin ‘dekat’. Kata ‘dekat di sini merujuk kepada waktu. Atau, bagi orang yang sudah berada di usia senja, dikatakan bahwa hari kewafatannya sudah semakin dekat.

Bentuk ketiga dari pengertian ‘dekat’ adalah spiritual. Misalnya, jika dikatakan bahwa di antara empat madzhab fiqih Ahlu Sunnah, madzhab Syafi’i paling ‘dekat’ dengan madzhab Ahlul Bait, pengertian dekat di sini tentulah tidak mengacu kepada waktu atau tempat, melainkan kepada sifat-sifat yang dimiliki oleh kedua madzhab itu. Hal yang sama kita temukan pada beberapa pernyataan lainnya, misalnya: Partai “A” sangat dekat dengan rakyat; negara “B” dekat dengan Israel; dan lain sebagainya. Kata dekat pada kalimat-kalimat tadi sama sekali tidak mengacu kepada tempat atau waktu.

Terkait dengan kata ‘dekat’ atau ‘mendekatkan diri’ yang dihubungkan dengan Allah, tentulah dengan mudahnya kita bisa ambil kesimpulan bahwa kata tersebut menunjukkan hal-hal yang bersifat spiritual. Mengapa? Karena Allah adalah Zat yang bersifat spiritual. Dia tidak terikat dengan ruang dan waktu. Di berada di luar dimensi waktu, karena justru Allah lah yang menciptakan ruang dan waktu. Allah tidak berada di manapun. Allah juga sudah ada sebelum waktu diciptakan, juga akan selalu ada meskipun waktu sudah hancur. Allah itu azali dan abadi.

Dengan pengertian seperti itu, tak mungkin bagi manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah dalam pengertian jarak tempat. Juga tak mungkin manusia mendekati Allah secara waktu. Satu-satunya cara mendekati Allah adalah melalui spiritual.

Dalam literatur irfan, dikatakan bahwa yang dimaksud dengan pendekatan spiritual adalah upaya untuk “menyerupakan diri” dengan Allah, yaitu menghiasi diri dengan berbagai sifat terpuji yang ada pada-Nya. Sebagai contoh, Allah memiliki sifat Mahapemberi, Mahapengampun, dan Mahapengasih. Orang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah harus berupa keras menghadirkan sifat-sifat baik Allah itu dalam dirinya. Termasuk hal yang sangat efektif membuat seorang hamba semakin dekat dengan Allah adalah meniru sifat Allah sebagai Zat yang Mahatahu. Tentu yang bisa melakukan hal ini adalah para pencari ilmu.

Mencari ilmu bisa menjadi salah satu cara yang sangat efektif untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ilmu adalah cahaya (al-‘ilmu nuurun). Ia adalah refleksi dari hakikat Tuhan sebagai Zat yang digambarkan oleh Al-Quran sebagai Cahaya di atas cahaya (nuurun ‘ala nuurin). Ilmu yang dimiliki seorang manusia adalah cahaya yang memungkinkannya untuk melebur dengan Cahaya Tuhan. Semakin banyak ilmunya, semakin kuat pula cahanya; dan semakin dekat dia dengan Allah.

 Fase-Fase Pendekatan kepada Allah

Kedekatan kepada Allah harus dilalui dengan tiga fase: takhalli, tahalli, dan tajalli. Fase pertama adalah apa yang diistilahkan dengan proses pengosongan (takhalli). Pada fase ini, seorang hamba harus mengosongkan, membersihkan, dan menyucikan jiwanya dari segala macam sifat tercela. Jika ruh belum suci dan bersih, ia tak mungkin bisa diisi dengan sifat-sifat baik, sebagai prasyarat kedekatan kepada Allah. Anggaplah jiwa kita itu seperti botol, dan air yang suci sebagai sifat-sifat baik. Jika botol masih penuh dengan cairan kotor dan tertutup, maka seberapa lamapun botol itu ditenggelamkan ke dalam air, botol tersebut tetap akan berisikan cairan kotor itu.

Takhalli adalah proses menghilangkan segala sifat tercela yang ada pada diri manusia. Dikaitkan dengan upaya untuk menggapai ilmu, beberapa sifat buruk yang sering menghinggapi para pencari ilmu adalah kemalasan, kesombongan, dan sifat hasud. Akan tetapi, yang paling berat dan paling penting dari fase ini adalah menghilangkan sifat cinta dunia. Rasulullah SAW bersabda bahwa ‘Cinta kepada dunia adalah biang segala keburukan’ (Hubbud-dunya ra`su kulli khathi`at). Perlu diingatkan kembali bahwa yang dimaksud dengan ‘dunia’ dalam hal ini adalah segala hal yang ada dalam kehidupan ini yang digunakan untuk kepentingan selain Allah. Karena itu, seorang pelajar agama atau seorang ulama sekalipun, jika mencari ilmu dalam rangka meraih duniawiah, maka ilmu agamanya pun menjadi “urusan dunia” baginya.

Fase kedua adalah tahalli (menghias). Tahalli, sebagai tahap kedua berikutnya, adalah upaya pengisian hati yang telah dikosongkan dengan isi yang lain, yaitu sifat-sifat yang baik. Ada sejumlah sifat baik yang harus diprioritaskan, seperti kecenderungan bertaubat, wara’, sabar, dermawan, pemaaf, penyayang, rajin, dan lain-lain. Dihubungkan dengan pencarian ilmu, sifat-sifat rajin, tabah, sabar, dan rendah hati haruslah diisikan ke dalam hati manusia agar diperoleh ilmu yang diinginkan.

Setelah tahap ‘pengosongan’ dan ‘pengisian’, sebagai tahap ketiga adalah tajalli, yaitu, tahapan di mana kebahagian sejati telah datang. Ia lenyap dalam wilayah Jalla Jalaluh, Allah SWT. Ia lebur bersama Allah dalam kenikmatan yang tidak bisa dilukiskan. Ia bahagia dalam keridho’an-Nya. Pada tahap ini, para kaum ‘arif menyebutnya sebagai ma’rifah, orang yang sempurna sebagai manusia luhur.

Pada peringkat ini, seorang tidak akan menghadap dan berharap kepada selain Allah, tidak akan merasa takut kepada siapa pun selain Allah, dan hatinya tidak akan terikat kepada yang lain selain Allah.

*Peneliti ICMES, Dosen STFI Sadra

DISKUSI: