LiputanIslam.com –  Aksi saling gertak antara militer Iran dan militer Israel belakangan ini meningkat bersamaan dengan adanya desas-desus di media mengenai adanya rencana AS dan Israel melancarkan serangan rudal untuk menghancurkan fasilitas-fasilitas infrastruktur militer dan ekonomi Iran, terutama instalasi nuklir.

Konflik yang terjadi sekarang  bahkan bukan lagi Arab-Israel, melainkan Arab-Iran di satu sisi, dan Iran-Israel di sisi lain. Ketika negara-negara Arab bergerak menuju normalisasi hubungan dengan Rezim Zionis Israel, Poros Resistensi yang berada di bawah komando Iran terus memperkuat daya defensif dan ofensifnya bersamaan dengan aksi Iran memacu proyek pengayaan uranium di instalasi-instalasi nuklirnya.

Pemicu eskalasi terbaru ini adalah ancaman Menteri Perang Israel Naftali Bennett bahwa pihaknya akan menjadikan Suriah sebagai Vietnam jilid II bagi Iran. Dia bersumbar akan menyudahi eksistensi militer Iran di Suriah, menyerukan kepada pemerintahan transisional Israel agar beralih dari tahap defensif ke tahap ofensif, dan berjanji mencegat apa yang disebutnya upaya Iran meraih senjata nuklir.

Baca: Israel Mengancam Jadikan Suriah sebagai Vietnam bagi Iran

Di pihak lain, para petinggi Iran memandang ancaman Israel itu bertolak dari depresi Tel Aviv akibat kegagalan tekanan ekonomi AS terhadap Iran dan kekandasan upayanya mengguncang Teheran dengan aksi jalanan dan kerusuhan, yang ternyata justru dibungkam oleh gelombang unjuk rasa akbar pro-pemerintah dan kontra-perusuh di seantero Iran, di saat Israel juga sedang dicekam oleh krisis politik.

Baca: Iran: Kami akan Buat Israel Sesali Semua Agresinya

Dari tanggapan Iran atas gertakan Israel itu terlihat bahwa Iran tidak ingin menjadi pihak yang memulai perang. Sebaliknya, Iran menyilakan kepada Israel untuk melepaskan peluru pertama demi membuka sendiri pintu jahannam bagi kaum Zionis.

Tentang ini, penasehat pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Mayjen Morteza Ghorbani telah memberikan gambaran yang akurat ihwal strategi Iran. Dia mengatakan, “Kami akan menghancurkan Israel tanpa melepaskan satupun rudal dari wilayah Iran sendiri… Sedikit saja Israel bertindak ceroboh terhadap Iran maka kami dari Libanon akan meratakan Tel Aviv dengan tanah tanpa perlu perlengkapan ataupun penembakan rudal dari Iran.”

Ghorbani memastikan bahwa jari pasukan Iran ada pada pelatuk dan hanya tinggal menunggu instruksi dari Pemimpin Besar Iran Grand Ayatullah Sayid Ali Khamenei.

“Jika Pemimpin Besar memerintahkan serangan rudal ke Israel maka semua orang Zionis akan mengangkat tangan dan menyerah. Kami akan potong telinga mereka. Kami tidak takut kepada bakteri pembusukan!” sumbar Ghorbani.

Baca: Pasukan Elit Iran Bersumpah akan Ratakan Tel Aviv dengan Tanah

Pernyataan Jenderal Ghorbani ini tergolong paling bombastis selama setidaknya satu dekade terakhir, terutama sejak era pemerintahan Ahmadinejad  di Iran. Ini mengindikasikan bahwa Iran sekarang seakan merasa berada dalam “suasana perang”, dan ini juga terjadi pada sekutu militer Iran seperti Hizbullah di Lebanon, Ansarullah di Yaman, Hamas dan Jihad Islam di Gaza, dan al-Hashd al-Shaabi di Irak.

Di sisi lain, pernyataan jenderal Iran ini disesalkan oleh Menteri Pertahanan Libanon Elias Bou Saab karena mengesankan bahwa Iran menjadikan Libanon sebagai pangkalan militernya untuk membumi hanguskan Israel.  Bou Saab menyebutnya “pernyataan yang patut disayangkan, tak dapat diterima, dan merupakan pelanggaran terhadap wilayah kedaulatan Libanon.”

Baca: Erdogan: Kekerasan Israel Mendapat Motivasi dari Sebagian Negara Arab

Keprihatinan Bou Saab tentu saja patut dimaklumi. Hanya saja, ketika perang sudah berkobar dan rudal-rudal berterbangan dari tempat-tempat persembunyian maka bukanlah pekerjaan yang mudah untuk mengendalikan pihak-pihak yang terlibat dalam konflik dengan Israel, termasuk Libanon sendiri. Perang akan melanda seluruh kawasan karena kondisi sekarang jauh berbeda dengan sebelumnya. Kapasitas dan potensi serangan militer akan menjadi puluhan kali lebih besar daripada sebelumnya. Singkatnya, perang itu dapat menjadi perang penghabisan di mana berbagai bangsa dihadapkan bukan pada pilihan ihwal nasib dan jirannya.

Baca: Jenderal Israel Himbau Tel Aviv Manfaatkan Demo Lebanon

Belakangan ini konspirasi AS-Israel yang didukung oleh Arab Saudi dan sekutunya hendak dialihkan dari Suriah ke semua negara dan anggota Poros Resistensi. Namun, sebagaimana Suriah yang didukung Iran, Rusia, dan Hizbullah berhasil mengandaskannya, hal yang sama juga akan terulang jika konspirasi itu mulai diterapkan, karena metode perlawanan terhadapnya akan sama dan dilakukan oleh poros yang sama pula.

Pernyataan Jenderal Ghorbani bukan sebatas gertakan dan dalam konteks perang dingin, melainkan juga lebih karena memang ada data-data mengenai kemungkinan Israel bertindak nekat sewaktu-waktu akibat depresinya. Dan sebagaimana terlihat dalam berbagai peristiwa, IRGC tak cuma cakap bermain kata, melainkan juga lihai dan tegas dalam membuktikan kata-katanya.

IRGC terbukti telah menampilkan banyak kejutan. Penembak jatuhan drone jumbo supercanggih Global Hawk milik AS di Selat Hormuz hanyalah satu di antaranya, yang telah membuat Presiden AS Donald Trump hanya dapat menelan ludah dan kemudian menarik ancamannya untuk membalas.

Baca: Hamas dan Jihad Islam Bantah Isu Gencatan Senjata Jangka Panjang dengan Israel

Demikian pula penembakan rudal cruise yang disebut-sebut buatan Iran dari Sa’dah, Yaman, ke fasilitas minyak Aramco di Abqaid dan Khurais, Arab Saudi.  Rudal bersayap itu menerjang sasaran-sasarannya dengan presisi yang menakjubkan sehingga Saudi tak dapat berharap banyak lagi kepada perlindungan AS, dan Riyadh lantas terpaksa bersedia bernegoasiasi dengan Ansarullah di Muscat, ibu kota Oman.

Alhasil, suasana di Timur Tengah tampak semakin mendidih dan seakan hanya tinggal menunggu letusan peluru pertama untuk menyulut kobaran perang, entah terbatas ataupun total. Dan tak jelas, peluru pertama itu akan melesat dari mana; Libanon selatan, Tel Aviv, Sa’dah, atau Irak barat. (mm/raialyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*