London, LiputanIslam.com – Ketika kekuatan regional besar sekelas Iran mengungkap rahasia perang 12 hari Juni lalu, dan mengakui gugurnya beberapa pemimpin militer seniornya, terutama di Pasukan Pertahanan Udara, hal ini merupakan bukti kepercayaan diri, kapabilitas militer, transparansi, dan keinginan untuk melibatkan publik dalam mempelajari fakta-fakta, baik negatif maupun positif, serta memberikan gambaran singkat tentang persiapan menghadapi konfrontasi yang diperkirakan akan terjadi di masa mendatang.
Di pihak lain, rezim pendudukan Israel, yang memulai agresi ini dengan keyakinan akan meraih kemenangan telak, menimbulkan kekalahan telak bagi lawan, dan mengubah rezim serta menggulingkannya, ternyata tidak pernah berani jujur kepada “para pemukim”-nya tentang fakta-fakta tersebut, meninggalkan arogansi palsunya, mengakui kerugian, atau mengizinkan publikasi barang satu gambar pun terkait dengan kehancuran yang menimpanya dan ibu kotanya, Tel Aviv, akibat gempuran 500 rudal Iran yang menembus dan mencapai targetnya dengan tingkat akurasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Brigjen Reza Khajeh, Wakil Komandan Operasi Pertahanan Udara Angkatan Bersenjata Iran, di televisi pemerintah pada hari Jumat (28/11) mengungkap rahasia perang 12 hari Iran melawan AS dan Israel. Untuk pertama kalinya, tidak hanya dalam sejarah Iran, melainkan juga seluruh Timur Tengah, rahasia-rahasia ini mengejutkan, tidak hanya bagi rakyat Iran tetapi juga bagi musuh-musuh mereka.
Rahasia-rahasia ini dirangkum oleh Jurnalis Senior Arab Abdel Bari Atwan dalam beberapa poin berikut sebagai pengantar analisis dan komentar mereka selanjutnya;
Pertama, Khoja mengungkapkan bahwa 33 negara berpartisipasi dalam perang ini, sebagian besar merupakan sekutu NATO dan Barat, memberikan dukungan militer dan intelijen langsung kepada negara pendudukan dan menggunakan semua teknologi militer Barat di berbagai bidang untuk melawan Iran sebelum dan selama perang.
Kedua, pertahanan udara Iran menjadi sasaran serangan gencar terhadap sistem dan komandan mereka, yang mengakibatkan gugurnya sejumlah komandan dan perwira senior Angkatan Bersenjata dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Namun, penargetan ini tidak menghancurkan jaringan pertahanan sebagaimana mestinya, dan tetap efektif serta dapat beroperasi selama agresi.
Ketiga, pertahanan udara Iran menembak jatuh 196 pesawat nirawak Israel jenis Heron dan Hermes 450.
Keempat, semua celah segera diatasi setelah perang berakhir, dan sistem pertahanan segera ditingkatkan.
Kelima, sistem pertahanan Iran saat ini sedang mengalami peningkatan besar-besaran, dan setiap agresi di masa mendatang akan ditanggapi dengan respon yang lebih tegas dan sengit.
Keenam, hal yang tidak disebutkan Jenderal Khoja adalah bahwa Iran memperoleh sistem rudal darat-ke-udara dari Rusia, Tiongkok, dan Korea Utara untuk mengatasi celah pertahanan udaranya, selain memproduksi rudal di dalam negeri, sebagaimana diungkapkan oleh sumber yang informasinya terpercaya.
Sementara itu, ada empat perkembangan positif yang memperkuat rasa percaya diri Iran saat ini dan memastikan kebangkitannya dari perang ini (Perang 12 Hari atau True Promise) menjadi lebih kuat dan tangguh. Empat perkembangan itu ialah sebagai berikut;
Pertama, pernyataan Pemimpin Besar Ayatullah Ali Khamenei belakangan ini dalam bentuk audio dan video, yang menegaskan bahwa pemerintahan Presiden AS Trump “tidak layak” untuk berkomunikasi atau bekerja sama dengan Iran, dan bahwa semua rumor dan kebocoran tentang pengiriman pesan dari Iran ke Washington yang mencakup dimulainya kembali perundingan adalah “kebohongan belaka”, dan bahwa AS dan Israel gagal mencapai satu pun tujuan mereka dalam Perang 12 Hari pada Juni 2025.
Kedua, semua babak dalam perang Israel telah gagal menumpas perlawanan Lebanon atau melucuti senjatanya. Milisi perlawanan Hizbullah masih kuat, dan persenjataannya terus berkembang dan meluas, baik dalam jumlah maupun efisiensi, baik di tingkat pimpinan maupun kader, dan telah mencapai tingkat kesiapan yang tinggi. Responnya mungkin tertunda, tetapi pasti akan datang, sebagaimana ditegaskan oleh Sekjen Hizbullah Syeikh Naim Qassem dalam pidato terbaru pada hari Jumat (28/11).
Ketiga, kekuatan Poros Perlawanan, terutama poros Yaman, telah menjadi lebih kuat, dan telah mengembangkan serta memperkuat persenjataan militer mereka dengan rudal yang lebih canggih, dengan kecepatan yang tak terduga, dengan dukungan jaringan suplai Iran yang luas dan bercabang di Laut Arab dan Laut Merah, melalui jalur darat, udara, dan laut rahasia. Fakta ini diperkuat oleh laporan AS yang diterbitkan oleh surat kabar Israel Hayom pada hari Kamis (27/11), dan beberapa surat kabar serta media lainnya, bahwa pasukan Yaman kubu Ansarullah telah memasuki tahap baru pengorganisasian dan penguatan kemampuan rudal mereka, pengembangan dan modernisasinya sebagai persiapan untuk melanjutkan serangan terhadap Israel, yang akan menjadi kejutan, dan telah menjadi sangat dekat akibat rapuhnya gencatan senjata di Jalur Gaza, dan meningkatnya kemungkinan serangan besar-besaran Israel terhadap Lebanon.
Keempat, pembukaan front Suriah melawan Israel, dan kegagalan besar infiltrasi Israel ke kota Beit Jann di lereng Gunung Hermon yang diduduki, serta kerugian besar dan tak terduga yang ditimbulkan oleh para pejuang terhadap barisan pasukan serbu Israel, baik dari segi personil di mana 3 perwira dan 3 tentara terluka, yang sebagian besar luka parah, maupun moral. Ini adalah ketiga kalinya tentara Israel menderita kerugian manusia setelah okupasi diam-diam di Suriah selatan, dan kedatangan pasukannya di gerbang selatan Damaskus, akibat tembakan peluru perlawanan Islam nasional, dan pada peringatan pertama jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad, serta perebutan kekuasaan oleh rezim Mohammad Al-Julani alias Ahmed al-Sharaa yang didukung AS dan Arab.
Abdel Bari Atwan memastikan bahwa bahwa jerat semakin mengetat di sekitar Israel, dan front konfrontasi terhadapnya meluas, semakin kuat, dipersenjatai dengan lebih baik, dan semakin intens, meskipun ada upaya nyata untuk menyembunyikan realitas ini melalui pembunuhan berkala.
Pembunuhan ini tidak melemahkan kekuatan Poros Perlawanan di Lebanon, Gaza, Iran, dan Yaman. Sebaliknya, justru memperkuat, mengembangkan, dan memodernisasi mereka di semua tingkatan. Apa yang sedang terjadi di AS berupa krisis keamanan, disintegrasi internal, dan keruntuhan moral dan politik akibat fasisme dan rasisme pemerintahan Trump, serta menurunnya popularitas Trump bisa jadi merupakan awal dari pergeseran besar, baik di tingkat global maupun regional. Pergeseran ini sama sekali tidak sejalan dengan kepentingan perang Israel di masa mendatang.
“Kami menyimpulkan dengan menyoroti fakta yang mencolok dan penting; berkurangnya intensitas ancaman agresi AS dan Israel terhadap Iran dan penghancuran fasilitas nuklirnya. Untuk memahami alasannya, bacalah kembali artikel ini,” pungkas Atwan. (mm/raialyoum)