ISIL terrorists return to Yarmouk, abuse Palestinians

ISIS di Suriah

Oleh: M. Alfian Aulia, Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Fakta yang ada di lapangan menunjukkan bahwa terdapat ‘duri’ yang menjadi penyebab hancurnya persatuan antara Sunni-Syi’ah (baik itu antara NU, Muhammadiyah, IJABI, atau lainnya) di Indonesia. Melalui pengamatan atas berbagai persitiwa yang marak terjadi, seperti pembantaian muslim Syi’ah di Sampang, mengakibatkan orang bertanya-tanya, sekiranya Sunni-Syiah memiliki banyak kesamaan atau benang merah, lantas, mengapa mereka harus di bantai di Sampang? Bukankah ini sangat bertentangan dengan jalan pemikiran para petinggi NU yang menyatakan bahwa Sunni dan Syiah itu bersaudara?

Jawabannya, karena, di dalam tubuh Sunni (bahkan ‘duri’ ini berpura-pura menjadi NU) terdapat penumpang gelap yang mengatasnamakan diri mereka membela Sunni dan para penumpang gelap ini biasanya gemar menyesatkan dan mengkafirkan orang lain. Kelompok ini mengharamkan tahlilan, ziarah kubur, dan praktek lainnya. Bagi mereka, semua itu adalah bid’ah, karena pemahaman mereka yang minim.

Apa hubungan kelompok ini dengan konflik Suriah?

Apabila Anda mengkaji sebuah permasalahan, ada banyak faktor yang harus Anda pertimbangkan. Marilah kita bertanya, mengapa konflik itu bisa terjadi? Apa penyebab utamanya? Siapa pelakunya? Siapa yang menjadi korban? Siapa yang terlibat? Dan yang terpenting adalah, apa akibat dari konflik tersebut?

 Penumpang gelap ini, biasanya datang dari kalangan Islam garis keras. Mereka menggunakan ‘power’ (dana atau posisi strategis) yang mereka miliki untuk mempengaruhi masyarakat awam. Tidak sampai di situ, mereka juga tengah menyeret bangsa Indonesia untuk terlibat dalam konflik Timur Tengah, terutama konflik Suriah. Lebih tepatnya, menginginginkan masyarakat muslim Indonesia untuk mendukung teroris takfiri Wahabbi yang tengah berperang di Suriah.

Di Indonesia, kelompok garis keras ini (Wahabbi) membawa misi me-wahabi-kan Indonesia. Hanya saja, kelompok ini belum terlalu terang-terangan memusuhi kelompok Sunni, karena, Sunni di Indonesia adalah mayoritas. Sehingga, mereka melakukan gerakan mereka secara perlahan namun pasti. Memanfaatkan orang-orang awam dari kalangan Sunni untuk membantai saudara mereka yaitu muslim Syiah, adalah pesanan dari Saudi Arabia. Bagaimana mereka bisa melakukannya? Sederhana saja, mereka membawa seni adu domba, memfitnah dan berbohong pada level baru. Perang di Suriah, bukan hanya masalah ideologi semata. Namun, perang di Suriah adalah perebutan pengaruh kawasan dan kepentingan global. Suriah, sebuah negara yang didominasi oleh mayoritas muslim Sunni tak luput dari pembantaian yang dilakukan oleh kelompok Wahabbi yang mengatakan diri mereka tengah berjihad ke Suriah. Kelompok Wahabbi ini datang dari berbagai negara, bahkan banyak pula yang berasal dari negara Barat. Kelompok Wahabbi ini sangat memusuhi Syiah. Karena, Iran dan Hizbullah (Syiah) mendukung pemerintahan Bashar al-Assad yang konon dikatakan mendirikan pemerintahan Syiah? Terutama setelah Hizbullah terlibat dalam perang Suriah pada perebutan kota strategis, Qusyair. Padahal, faktanya adalah pemerintahan di Suriah didominasi oleh kalangan Sunni (perdana menteri, mufti agung, bahkan hampir semua menteri adalah Sunni). Dan yang lebih hebat lagi, 75% tentara Suriah adalah Sunni.

Perlu saya paparkan bahwa perang di Suriah memiliki kepentingan tersendiri. Rusia, China, Iran, Hizbullah, dan sekutunya berdiri tegak membela Suriah untuk melawan teroris berkedok jihad yang didukung oleh Arab Saudi, Qatar, Turki, Amerika Serikat, Israel, dan sekutunya.

Saya membaginya menjadi empat bagian;

Pertama, Suriah adalah sebuah negara jalur sutera yang memiliki letak yang sangat strategis dan sumber daya alam yang melimpah (gas dan minyak), sehingga Suriah adalah aset yang sangat besar untuk dimiliki oleh Amerika Serikat, Israel, dan sekutunya. Menduduki Suriah sama dengan mengendalikan pipa-pipa minyak Suriah. Terlebih dikarenakan kegagalan mereka menguasai Iran, yang juga kaya akan minyak dan gas. Sehingga Suriah adalah batu loncatan untuk menguasai Iran. Selain itu, Suriah adalah jalur suplai senjata oleh Iran untuk Hizbullah dan Hamas yang tengah berjuang melawan Israel. Suriah, dianggap negara yang merusak kawasan karena enggan tunduk pada Barat dan Israel. Tercatat beberapa kali Suriah berperang melawan Israel. Sedangkan, Arab Saudi sudah berada dalam cengkraman Amerika Serikat, Israel, dan sekutunya. Bahkan rezim yang berkuasa di Arab Saudi, rezim Saud adalah hasil kudeta yang dimotori oleh Inggris. Itulah sebabnya anda tidak mungkin menemukan Arab Saudi berperang melawan Israel atau Amerika Serikat. Kecuali rezim Saud tumbang dan diganti oleh rezim yang anti Israel

Kedua, Suriah adalah negara yang tidak memiliki hutang pada IMF (Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund). IMF (Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund) memberikan pinjaman kepada negara-negara dunia ketiga, termasuk Indonesia, dengan bunga yang sangat tinggi yang sangat sulit untuk dibayar oleh negara. Sehingga untuk menaklukkan Suriah tanpa ada intervensi militer, maka, Amerika Serikat, Israel, dan sekutunya menggunakan kelompok takfiri Wahabbi untuk menyerang Suriah dari dalam dengan berkedok ‘jihad’ melawan pemerintahan Bashar al-Assad. Para teroris takfiri Wahabbi yang mengaku sedang berjihad ke Suriah ini, melakukan pengerusakan makam, situs bersejarah, pembunuhan massal dengan cara menggorok, menyalib, menyemblih, dengan alasan seseorang dianggap kafir, dan yang tentu mengakibatkan kerugian besar adalah menghancurkan infrastruktur yang terdapat di Suriah. Dengan begitu, IMF akan menawarkan pinjaman uang guna menguasai Suriah, karena Suriah harus membangun kembali fasilitas-fasilitas yang hancur selama perang. Namun, Bashar al-Assad menolaknya.

Untuk lebih jauh lagi, silahkan membaca ini,

http://liputanislam.com/wawancara/mahasiswa-indonesia-suriah-hutang-luar-negeri-suriah-nol/

Ketiga, penyebaran ideologi Wahabbi. Dalam perang Suriah, Arab Saudi memiliki peranan yang sangat besar dalam menyuplai dana dan senjata kepada para teroris takfiri Wahabbi. Meskipun Israel, Turki, Qatar dan beberapa negara Barat mendukung para teroris ini dengan senjata, Arab Saudi memiliki pengaruh yang sangat besar. Hal itu bisa dilihat dari para kelompok yang berperang melawan pemerintahan Bashar al-Assad didominasi oleh kelompok yang menganut paham Wahabbi. Sehingga, apabila pemerintahan Suriah tumbang, maka dipastikan kelompok garis keras ini akan memegang pemerintahan. Apabila kelompok Wahabbi ini berkuasa, bisa dipastikan seluruh situs dan makam bersejarah akan rata dengan tanah. Contohnya, beberapa saat yang lalu teroris ini menggali makam sahabat Nabi Muhammad SAW, Hujr Ibn Adi, dan mencuri jenazahnya. Apakah tindakan itu benar? Akal sehat dan nurani yang jujur tentu akan berkata tidak.

Keempat, pendirian khilafah. Perlu diketahui, agenda perang di Suriah juga didasarkan pada jihad pendirian khilafah. Para pemuda dari berbagai negara berbondong-bondong datang ke Suriah untuk ikut berperang. Hizbut Tahrir, menyatakan baiat mereka kepada kelompok ini. Dengan segala kemampuannya, menyebarkan buletin di masjid dengan memfitnah dan menggambarkan bahwa pemerintah Suriah adalah pemerintah yang kejam dan haus darah. Mereka menganggap misi mereka adalah misi suci dan kematian mereka adalah syahid. Hal itu dikarenakan ulah dari ulama-ulama bayaran yang menyeru jihad ke Suriah. Jika Anda sedikit kritis, mungkin anda akan bertanya, jika memang mereka ingin berjihad, mengapa mereka tidak melakukannya ke Palestina? Bukankah Palestina telah menanggung luka lebih dari 60 tahun? Atau mungkin bagi mereka (teroris takfiri Wahabbi/orang yang hobi mengkafirkan) Palestina adalah negara kafir sehingga tidak perlu dibela.

Anda bisa membandingkannya, dan membacanya dengan akal sehat anda

http://dinasulaeman.wordpress.com/2014/02/14/update-suriah-baiat-dari-indonesia/

http://kabarislamia.com/2013/07/23/kenapa-iran-tidak-pernah-menyerang-israel/

Kemudian, di mana konflik antara Syiah dan Sunni? Jawabannya, tidak ada!

 Jika tidak ada mengapa media macam CNN, FOX, Al Jazeera, dan media propoganda munafik Barat lainnya mengatakan perang Suriah adalah perang antara Sunni melawan Syiah. Media arrahmah dan beberapa media ‘Islami’ lainnya di Indonesia juga mengatakan perang Suriah adalah perang antara Sunni melawan Syiah.Mengapa konflik Suriah dibalut dengan nuansa agama? Karena agama adalah hal yang seksi untuk dijadikan kedok. Mengapa tidak hukum? atau topik lainnya? Dalam konflik Suriah, itu kurang menarik.

Bertanyalah pada diri sendiri, mengapa berita yang mereka sampaikan selalu sama? Pertontonan apa ini? Apakah tujuan mereka sama? Ya! Tujuannya sama! Karena dengan menyerang Islam dari dalam, melalui berita-berita palsu, umat Islam akan terpecah belah. Semua dikarenakan, tidak semua umat Islam Indonesia memiliki sifat yang kritis.

Jika memang pemerintahan Bashar al-Assad adalah pemerintah yang dzalim? Mengapa hingga hari ini rakyat dan militer Suriah mendukungnya? Bukankah mayoritas masyarakat Suriah adalah Sunni? Bukankah mufti Suriah, Syaikh Ahmad Badrouddin Hassoun adalah Sunni? Dan, bukankah Syaikh Ramadhan al-Bouti adalah ulama Sunni terkenal? Namun tewas di bom oleh para teroris ini?

Silahkan lihat: http://www.youtube.com/watch?v=bWNzxP5eOyw

Jika memang Bashar al-Assad tidak memiliki tempat di Suriah dan ditolak oleh rakyat Suriah, seharusnya ia tidak mampu bertahan hingga saat ini. Tetapi, pada kenyataannya, ia didukung oleh mayoritas rakyat Suriah. Sehingga mampu bertahan hingga saat ini.

Untuk memperoleh dukungan, kelompok teroris seperti ISIS yang tengah berperang di Suriah, memiliki pendukung di Indonesia. Pendukung di Indonesia juga aktif mengkampanyekan perang dan jihad di Suriah. Kelompok Wahabbi jaringan ISIS di Indonesia gencar melakukan propoganda melalui buletin, jejaring sosial, bahkan seminar terkait konflik Suriah dengan mengatasnamakan diri mereka ahlus sunnah wal jamaah. Segalanya, mereka lakukan demi memperoleh dukungan dari masyarakat awam.

Untuk lebih jauh, silahkan membaca artikel ini: http://www.arrahmah.com/news/2014/02/20/kurang-cerdas-melarang-kaum-muslimin-indonesia-jihad-ke-suriah.html

http://dinasulaeman.wordpress.com/2014/02/14/update-suriah-baiat-dari-indonesia/

Melalui jejaring sosial, mereka juga menyebarkan berbagai macam foto yang diedit sedemikian rupa dan digambarkan seolah-olah akibat dari kekejaman Bashar al-Assad. Sehingga, orang-orang awam yang tidak kritis tentu akan terkena propoganda sesat ini dan akan menganggap semua orang Syiah sama seperti Bashar al-Assad yang konon difitnah sebagai penguasa haus darah (Alawi).

http://dinasulaeman.wordpress.com/2013/06/11/apa-sebenarnya-kata-rakyat-suriah/

http://dinasulaeman.wordpress.com/2013/06/11/sudah-terbit-prahara-suriah/

Terkadang saya berpikir, seandainya saja orang-orang bodoh ini diam. Tentu masalah kekerasan antar Sunni-Syiah di Indonesia bahkan di dunia tidak akan terjadi.

Bagaimana kita menyikapinya?

Islam adalah agama rasio. Islam adalah sebuah agama yang menekankan pengkajian atau verifikasi. Artinya, Islam mengajak kita untuk menjadi manusia yang kritis dan cerdas. Beberapa kasus yang saya temukan, banyak pemuda yang hingga hari ini beranggapan bahwa Islam adalah agama doktrin. Bagi mereka mungkin iya, tetapi, tidak bagi saya. Kita tidak sedang membicarakan bahwa filsafat identik dengan kritis atau sebaliknya. Kita juga tidak sedang membicarakan suatu ajaran dalam agama Buddha ‘Datang dan Buktikan’. Tetapi, kita harus melihat kebenaran dari berbagai macam sudut pandang. Karenanya, membandingkan informasi yang kita peroleh adalah suatu keharusan. Anda tidak bisa menelan mentah-mentah informasi yang anda peroleh melalui situs garis keras, kemudian mengenyampingkan situs Islam moderat (jika anda pengguna dunia maya). Anda juga tidak bisa mendengarkan ceramah dari para ulama intoleran tanpa membandingkannya dengan ceramah ulama moderat. Jika Anda hanya mendengar atau melihat informasi dari satu sumber, katakanlah sumber yang bernuansa kebencian, garis keras, kemudian mengenyampingkan bacaan serta mendengar informasi moderat, itu adalah naif.

Bagian Pertama: http://liputanislam.com/opini/uin-sunan-kalijaga-yogyakarta-syiah-dan-konflik-suriah-1/

Bagian Kedua: http://liputanislam.com/opini/uin-sunan-kalijaga-yogyakarta-syiah-dan-konflik-suriah-2/

Bagian Ketiga: http://liputanislam.com/opini/uin-sunan-kalijaga-yogyakarta-syiah-dan-konflik-suriah-3-tamat/

————-

Redaktur menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini. Silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*