ISIL terrorists return to Yarmouk, abuse Palestinians


ISIS di Suriah

Oleh: M. Alfian Aulia, Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Di tengah banyak klaim tentang kebenaran yang berujung saling menghakimi satu sama lain, terdapat sekian banyak perdebatan yang tak kunjung usai. Perdebatan seputar kebenaran ini biasanya diperdebatkan oleh seorang atau sekelompok orang yang awam atau bodoh. Mereka yang datang dari kelompok A merasa pemikiran atau alirannya yang paling benar, mereka yang datang dari kelompok B merasa pemikiran atau alirannya yang diinginkan oleh Tuhan, serta mereka yang datang dari kelompok C merasa pemikiran atau alirannya adalah keputusan final yang tidak bisa diganggu gugat, sesuai dengan keinginanTuhan, harus ditegakkan meskipun dengan jalan kekerasan atau propoganda dusta. Karena, bagi mereka, itu adalah misi suci dan akan dibalas dengan surga oleh Tuhan.

Sebagian besar umat manusia memang memiliki rasa ingin tahu yang amat tinggi. Rasa ingin tahu memungkinkan manusia untuk berproses lebih jauh. Berbeda dengan hewan, manusia memiliki peradaban yang jauh lebih maju ketimbang hewan. Manusia mampu membaca, menulis, mendengarkan berbagai macam berita, argumen, dan lainnya, kemudian menjadikannya sebagai sebuah pengetahuan. Manusia memiliki fitrah sebagai makhluk yang bijaksana. Akal yang sehat memungkinkan manusia menjadi seorang yang bijaksana. Melalui akal sehat, manusia mampu membedakan mana yang baik dan buruk, salah dan benar, bahkan kemampuan analisa manusia sangat tinggi. Hanya saja, sejauh yang saya ketahui, tidak semua manusia menggunakan akal sehat mereka dan rasa ingin tahu tersebut. Akal sehat dan rasa ingin tahu seolah-olah terkubur dalam karena agama dan atau kitab suci. Saya tidak sedang mengatakan bahwa kitab suci adalah sesuatu yang usang dan tidak penting. Akan tetapi, saya ingin menekankan peran akal sehat serta keseimbangan antara akal, agama, dan kitab suci.

Memang, saya adalah seorang mahasiswa Filsafat yang membiarkan akal sehat saya untuk terbang stinggi-tingginya. Saya memeluk agama Islam. Saya menganut mazhab Ja’fariyah. Dan mengikuti garis kepemimpinan para imam setelah meninggalnya Nabi Muhammad SAW. Orang-orang biasa menyebut mereka yang berwilayah pada Imam Ali sebagai seorang Syiah. Terlahir dari ayah yang menganut mazhab Hambali dan Ibu yang menganut mazhab Syafi’i, tidak mengakibatkan saya sebagai seorang anak yang menganut mazhab Hambali maupun Hanafi. Sejak kecil bahkan hingga saat ini, orang tua saya selalu mengajarkan saya beragama Islam, bukan bermazhab. Menjadi pengikut para imam suci sepeninggal Nabi Muhammad SAW, terjadi setelah melalui perjalanan panjang. Belajar, berdiskusi, dan mendengarkan ceramah-ceramah adalah kegiatan yang tak pernah saya tinggalkan.

Sebagai seorang mahasiswa Filsafat di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta adalah sebuah kebanggaan bagi saya. Saya berada di antara dosen, teman, dan lingkungan yang mendukung kebebasan berpikir. Dan manakala kebebasan berpikir itu berbuah manis, dengan menemukan berbagai macam nilai-nilai kebenaran yang ada, ingin rasanya saya menari kegirangan. UIN Sunan Kalijaga adalah sebuah universitas yang bisa dikatakan sebagai kampus ‘liberal’ dan menjadi barometer kajian keagamaan di Yogyakarta, Indonesia, bahkan dunia. Di UIN Sunan Kalijaga anda bisa menemukan berbagai macam aliran pemikiran. Aliran-aliran pemikiran tersebut eksis hingga saat ini. Aliran garis keras hingga moderat terdapat di UIN Sunan Kalijaga. Aliran yang bernuansa Arab, Indonesia, bahkan Persia bisa anda temukan di universitas ini. Kesemuanya membentuk harmoni yang saling bersatu padu satu sama lain.

Saya berada di fakultas Ushuluddin. Sebuah fakultas yang berdiri di kampus Timur. Di fakultas ini terdapat jurusan Perbandingan Agama. Jurusan Perbandingan Agama adalah sebuah jurusan yang bisa dikatakan plural. Jurusan Perbandingan agama memungkinkan kita untuk mengkaji agama-agama selain Islam, mulai dari Hindu, Buddha, Yahudi, hingga Nasrani. Apa artinya semua itu? Artinya adalah di universitas ini, anda bisa berpikir terbuka, toleran, dan adil dalam berpikir, karena anda juga mengkaji kebenaran-kebenaran yang ada di luar agama Islam. Selain itu, mereka yang datang dari kalangan NU, Muhammadiyah, IJABI, juga bisa menyuarakan pemikiran mereka dengan sesuka hati. Tak hanya itu, di universitas ini, anda juga mampu menemukan literatur-literatur Sunni maupun Syiah. Bahkan, Iranian Corner pun eksis dengan berbagai macam buku kajian tentang Iran dan Syiah, yang dapat andai jumpai di perpustakaan lantai 3.

Saya banyak terinspirasi oleh dosen saya. Mereka mengajak kami untuk membuka cakrawala pemikiran Islam tanpa harus bersikap fanatik dan mementingkan ideologi kelompok atau golongan. Kami mengkaji setiap pemikiran yang ada. Mempelajari pemikiran berbagai macam tokoh, walaupun kami tidak sejalan dengan pemikirannya. Tetapi itulah kami. Bagi kami, belajar adalah sebuah keharusan. Belajar adalah kebutuhan, yang dengan semua itu kami mampu menjadi seorang pemikir yang universal.

Tidak ada salahnya jika di sini saya mencoba untuk mengkaji Syiah melalui jendela UIN Sunan Kalijaga. Berbagai macam pertanyaan muncul tatkala Syiah menjadi sebuah topik pembahasan. Syi’ah yang kita kenal dikebanyakan tempat, identik dengan hal-hal buruk. Bahkan sejumlah situs yang menamakan diri mereka ‘Islam’ macam Arrahmah.com, Muslim.or.id, Voa-Islam, atau sederet situs kebencian yang berkedok Islam, tak bisa diabaikan begitu saja. Situs-situs ini konsisten menebarkan kebencian kepada Syiah, dimanapun dan kapanpun, bahkan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tak luput dari pengaruh situs yang katanya ‘Islami’ ini.

Tentu, orang akan bertanya, bagaimana bisa UIN Sunan Kalijaga yang dikenal sebagai kampus liberal, mendadak menjadi kampus yang ramai di isi oleh poster-poster kebencian kepada Syiah? Jawabannya ada pada mahasiswa yang bermasalah. Kita tentu tidak bisa membandingkan kualitas pemahaman politik keislaman mahasiswa Indonesia dengan kualitas pemahaman politik mahasiswa di Iran. Karena, sejujurnya, tingkat kecerdasan mahasiswa di Indonesia, masih berada di bawah Iran apabila dilihat secara menyeluruh. UIN Sunan Kalijaga yang saya kenal sebagai sebuah universitas liberal, mendadak menjadi kampus yang berisi kebencian terhadap Syiah dikarenakan ulah sekelompok mahasiswa/i yang menjadi agen kebencian atas nama mazhab atau agama. Agen-agen ini rutin menyebar buletin, poster, dan fitnah tentang Syiah.

 “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [QS Al Maaidah: 8]

Bagian Pertama: http://liputanislam.com/opini/uin-sunan-kalijaga-yogyakarta-syiah-dan-konflik-suriah-1/

Bagian Kedua: http://liputanislam.com/opini/uin-sunan-kalijaga-yogyakarta-syiah-dan-konflik-suriah-2/

Bagian Ketiga: http://liputanislam.com/opini/uin-sunan-kalijaga-yogyakarta-syiah-dan-konflik-suriah-3-tamat/

——————-

Redaktur menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini. Silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL