ISIL terrorists return to Yarmouk, abuse Palestinians

ISIS di Suriah

Oleh: M. Alfian Aulia, Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Sebagaimana yang sudah saya jelaskan,kelompok mahasiswa/i yang menjadi agen kebencian ini, biasanya datang dari kalangan garis keras atau orang awam yang otaknya sudah dicuci (brainwashing) kemudian ikut-ikutan. Mereka sibuk melakukan perpecahan, tanpa memikiran persatuan. Otak mereka dicuci oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Kebencian yang membabi buta mengakibatkan mereka buta akan kejujuran dan membunuh akal sehat mereka. Dengan lantang mereka meneriakkan slogan kebencian, mungkin tidak hanya kepada para muslim Syiah, bahkan umat beragama lain yang mereka anggap kafir.

Saya mencoba mendalami literatur apa yang mereka pergunakan serta kepada siapa mereka berguru, dan pengajian apa yang mereka ikuti. Maka dari itu, saya melakukan penelitian atas permasalahan ini. Dan ternyata, kebanyakan dari mereka memperoleh bacaan dari media-media yang katanya ‘Islami’ seperti Arrahmah atau Islampos sebagai rujukan utama. Jadi, dapat dikatakan, mereka adalah para penggila situs berkedok ‘Islam’ yang hampir semua isinya adalah sampah. Karena dalam hal ini saya memfokuskan pengkajian ini dengan menelusuri situs yang menjadi rujukan utama mereka, maka, saya akan memberikan situs perbandingan. Mengenai literatur dalam bentuk buku, saya akan membahasnya pada tulisan selanjutnya.

Anda bisa melihat salah satu fitnahnya,

http://www.islampos.com/saat-akan-dikuburkan-khomeini-tiga-kali-jatuh-dari-keranda-dan-auratnya-terbuka-71913/</a

Kemudian membandingkannya,

http://liputanislam.com/tabayun/menjawab-fitnah-takfiri-imam-khomeini-dihinakan-allah-bagian-kedua-tamat/

Lantas mengapa mereka mampu berbuat demikian? Ada banyak faktor mengenai permasalahan ini. Akan tetapi, yang menjadi faktor utama adalah lingkungan dan literatur. Lingkungan yang sehat, adalah lingkungan yang bersifat terbuka dalam pemikiran serta menjunjung tinggi akal sehat dan rasa ingin tahu. Manusia, memiliki akal dan rasa ingin tahu dalam menjalani hidup. Dengan akal mereka dapat membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang salah dan benar. Dan, rasa ingin tahu akan mengantarkan manusia untuk belajar, mencari, dan menemukan sesuatu yang ingin ia ketahui. Tuhan menciptakan manusia dan menganugerahkannya akal serta rasa ingin tahu agar manusia menjadi manusia yang merdeka dalam memilih (free will). Manusia memilih mana yang baik dan buruk, surga atau neraka? Seandainya, jika Tuhan tidak menganugerahkan akal dan rasa ingin tahu pada manusia, bukankah kedudukan kita akan jauh lebih rendah daripada hewan? Bukankah itu bertentangan dengan penciptaan manusia? Maka dari itu, gunakanalah akal dan rasa ingin tahu guna berproses lebih jauh, karena ayat al-Qur’an untuk ditafsirkan, bukan ditelan mentah-mentah. Dan untuk menafsirkannya, akal sehat sangat diperlukan.

Tetapi, sayangnya, mahasiswa/i ini telah mengantarkan dirinya selevel bahkan berada di bawah level hewan. Mereka, secara membabi buta memfitnah, menebar kebencian, dikarenakan doktrin-doktrin sesat yang mereka dapatkan. Tanpa membiarkan akal mereka untuk terbang setinggi-tingginya.

Dan yang lebih parah, mahasiswa/i ini tidak hanya menyebar kebencian dan mempengaruhi orang awam untuk membenci Syi’ah. Saat ini, mereka, tengah mencoba menyeret Indonesia menuju negara yang katanya ‘khilafah akan berjaya’ dengan mengimpor pemahaman takfiri dan perang Suriah.

A: Yang tidak shalat adalah kafir!

B: Mengapa anda kafirkan dia?

A: Karena dia tidak shalat, jadi dia adalah kafir.

B: Lalu, bagaimana caranya agar ia tidak dikatakan kafir dan kembali menjadi

seorang muslim?

A: Ia ucapkan kembali dua kalimat syahadat.

B: Lah, ini, dia tidak pernah meninggalkan dua kalimat syahadat. Mengapa anda

suruh Ia mengucapkan dua kalimat syahadat lagi?

Jadi, Dia bukan orang kafir. Tetapi, muslim yang berdosa!!!

Prof. Dr. Quraish Shihab, pengantar buku putih mazhab Syi’ah.

 Jujur pada diri sendiri

Mungkin anda teringat akan kalimat seorang filsuf legendaris Prancis, Rene Descartes “Cogito ergo sum” yang artinya, “aku berpikir, maka aku ada”. Descartes mengajak manusia menjadi seorang ‘manusia’. Maksudnya, adalah manusia yang mampu menggunakan akal sehat mereka. Membaca, membandingkan, menganalisa, kemudian menyimpulkan.

Selain itu, berkenaan dengan kasus semacam ini, al-Qur’an memberikan gambaran,

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” [Al Hujurat : 6].

Sejarah telah menunjukkan bahwa Islamberjaya tatkala mereka masih menghidupkan filsafat. Berbagai pemikiran para pemikir seperti Ibnu Sina, ar-Razi, Ibnu Rusyd, dan filsuf lainnya, telah mengantarkan Islam sebagai sebuah agama rasional. Banyak tokoh pemikir Islam yang membahas matematika, fisika, ruh, kosmologi, dan sederet pembahasan lain yang saat itu belum mampu dicapai oleh Barat dikarenakan pemikiran para tokoh Islam yang sangat mengagumkan saat itu. Apa rahasia dari semua itu? Mungkin lebih tepatnya dikarenakan mereka berpikir jauh lebih (kritis).

Seiring dengan berjalannya waktu, geliat filsafat mulai berkurang bahkan melemah di kalangan umat Islam. Dan banyak di antara mereka yang menolak filsafat dan cenderung meneriakkan slogan kembali pada al-Qur’an dan Sunnah. Henry Corbin, dalam bukunya, Histoire De La Philospohie Islamique, mengatakan bahwa sepeninggal Ibnu Rusyd, filsafat tersus berlanjut di kalangan Syiah. Apakah itu artinya pemikiran kritis hanya terdapat pada muslim Syiah? Tentu saja tidak. Sunni, yang kaya akan para pemikir, tentu memiliki pandangan yang mirip bahkan sama dalam banyak hal dengan Syiah. Namun, ketika Sunni di sandingkan dengan Wahabbi? Atau Syiah di sandingkan dengan Wahabbi? Perbedaannya terlalu jauh, baik itu dari segi pemikiran maupun kebudayaan. Sehingga, pemikiran kritis juga dapat dimiliki oleh mereka yang datang dari kalangan non-Syiah. Tetapi Wahabbi? Saya meragukannya. Hanya saja, sejujurnya, dalam hal ini, Syiah lebih menyadarinya daripada Sunni terkait dengan konflik Suriah. Karena, kebanyakan mereka (Sunni) beranggapan bahwa perang yang terjadi di Suriah adalah perang antara Sunni-Syiah. Padahal, yang sebenarnya terjadi adalah perang antara Sunni bergabung dengan Syiah melawan takfiri Wahabbi.

Seperti yang kita ketahui bersama, Indonesia adalah sebuah negara yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam. Kebanyakan dari mereka menganut mazhab Syafi’i. Selanjutnya, terdapat mazhab-mazhab lain seperti Ja’fariyah, Hambali, Hanafi, dan Maliki. Saya teringat akan kalimat yang pernah dikatakan oleh alm. Gus Dur, “Kita ini sebenarnya orang Islam yang kebetulan tinggal di Indonesia, atau orang Indonesia yang kebetulan memeluk agama Islam?” Sepintas, memang terkesan sepele, tetapi, jika dicermati secara mendalam, maknanya sangat jelas. Kalimat itu mengajak kita untuk mengenal diri sendiri. Apakah kita memeluk agama Islam melalui proses pencarian? Atau kita hanya memeluk agama Islam lantaran faktor geografis dan terlahir di keluarga yang kebetulan memeluk agama Islam?

Apakah hal itu penting? Jelas penting! Mengapa penting? Karena, Anda tidak mungkin menghakimi kelompok atau aliran lain seolah-olah anda sangat memahami pemikiran kelompok yang Anda benci. Padahal, anda sendiri tidak paham atau sok paham, dan, belum tentu memahami mazhab yang Anda anut. Atau mungkin Anda tidak tahu mazhab apa yang Anda anut serta alasan Anda menganut atau mengikutinya.

Alm. Gus Dur juga pernah mengatakan, “NU itu adalah Syi’ah minus imamah.” Artinya, secara garis besar, tradisi yang terdapat di kalangan NU, hampir sama dengan tradisi yang ada di Syiah, seperti tahlilan, ziarah kubur, dan sebagainya. Sehingga, tidak  perlu ada yang diperdebatkan. Mengapa kita memberikan perhatian yang lebih pada NU? Karena di Indonesia, NU adalah mayoritas.

Duri dalam daging

Fakta yang ada di lapangan menunjukkan bahwa terdapat ‘duri’ yang menjadi penyebab hancurnya persatuan antara Sunni-Syiah (baik itu antara NU, Muhammadiyah, IJABI, atau lainnya) di Indonesia. Melalui pengamatan atas berbagai persitiwa yang marak terjadi, seperti pembantaian muslim Syiah di Sampang, mengakibatkan orang bertanya-tanya, sekiranya Sunni-Syiah memiliki banyak kesamaan atau benang merah, lantas, mengapa mereka harus di bantai di Sampang? Bukankah ini sangat bertentangan dengan jalan pemikiran para petinggi NU yang menyatakan bahwa Sunni dan Syiah itu bersaudara?

 Jawabannya, karena, di dalam tubuh Sunni (bahkan ‘duri’ ini berpura-pura menjadi NU) terdapat penumpang gelap yang mengatasnamakan diri mereka membela Sunni dan para penumpang gelap ini biasanya gemar menyesatkan dan mengkafirkan orang lain. Kelompok ini mengharamkan tahlilan, ziarah kubur, dan praktek lainnya. Bagi mereka, semua itu adalah bid’ah, karena pemahaman mereka yang minim.

Bagian Pertama: http://liputanislam.com/opini/uin-sunan-kalijaga-yogyakarta-syiah-dan-konflik-suriah-1/

Bagian Kedua: http://liputanislam.com/opini/uin-sunan-kalijaga-yogyakarta-syiah-dan-konflik-suriah-2/

Bagian Ketiga: http://liputanislam.com/opini/uin-sunan-kalijaga-yogyakarta-syiah-dan-konflik-suriah-3-tamat/

 

——————————–

Redaktur menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini. Silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL