Dari Palestina Hingga Amerika, Kita Harus Membela Hak Semua Orang untuk Bernapas

0
887

Oleh: Samah Jabr*

Kita semua telah bergerak dari solidaritas global akibat krisis Covid-19 untuk kembali ke keadaan perpecahan yang familiar dalam perjuangan melawan kekuasaan, dominasi, dan politik fasis yang menindas.

Frantz Fanon, di dalam bukunya Black Skin, White Masks, menjelaskan bahwa pemberontakan di Indocina “bukan karena orang Indocina menemukan budaya sendiri di dalam pemberontakan. Namun, sederhananya itu karena … menjadi tidak mungkin baginya untuk bernapas.”

Sutradara Prancis Alexandra Dols di dalam filmnya Beyond the Frontlines juga menggunakan metafora ‘sesak napas’ untuk menceritakan pengalaman warga Palestina di bawah penjajahan. Di pembukaan filmnya, dia menampilkan saya dalam percakapan dengan seorang psikoanalis asal Israel yang menantang saya untuk berempati dengan Israel. Saya menjawab: “Kita hidup dalam kenyataan di mana semakin banyak orang Israel bernapas, semakin banyak orang Palestina sesak.”

Di sepanjang film itu, kita bisa mendengar suara warga Palestina mengap-megap: selama interogasi di penjara, di pos pemeriksaan Qalandiya, dan di bawah pemboman di Gaza.

Tidak mengherankan bahwa rintihan George Floyd yang terkenal “Aku tidak bisa bernapas!” telah memicu begitu banyak reaksi di Palestina. Floyd mengucapkan kata-kata ini ketika lehernya dicekik di bawah lutut seorang petugas polisi hingga mati lemas, di tengah pandangan setuju dari polisi lain. Ini sebuah teknik yang biasa digunakan oleh tentara Israel kepada warga Palestina.

Memang, Israel telah mengembangkan industri yang berkembang untuk melatih polisi internasional menggunakan teknik fatal seperti itu. Keterhubungan simpatetik warga Palestina dengan napas sesak-nya Floyd bukan hanya disebabkan oleh tercekiknya seorang lelaki kulit hitam oleh seorang petugas kulit putih. Namun, hal itu beresonansi dengan “teknik tanpa sentuhan” Israel, di mana orang-orang Palestina dibiarkan berada di dalam posisi di mana berat tubuh mereka sendiri menimbulkan rasa sakit dan kerusakan, bahkan menyebabkan mereka mati sendirian.

 

Rasisme Institusional

Baik di AS dan Palestina, tindakan seperti itu tidak terbatas dikaitkan dengan perilaku individu petugas polisi yang gampang terpicu [membunuh]. Namun, keberadaan mereka adalah hasil dari dinamika rasisme institusional yang memungkinkan pola pembunuhan berkelanjutan berdasarkan etnis, warna kulit, atau keanggotaan kelompok.

Salah satu contohnya adalah pembunuhan Iyad al-Halak di Yerusalem baru-baru ini, seorang pria Palestina yang didiagnosis menderita autisme. Dia ditembak dan dibiarkan mati kehabisan darah di tanah, meski pengasuhnya sudah menjelaskan kepada polisi Israel bahwa dia menderita cacat.

Sekitar dua minggu sebelumnya, pasien psikiatris lainnya, Mustafa Younis, terbunuh di rumah sakit tempat ia dirawat. Setelah konfrontasi hebat dengan penjaga keamanan Israel, Younis dilucuti dan terbaring di tanah. Dia kemudian ditembak dengan beberapa peluru di depan ibunya.

Kita bisa belajar dua hal dari pembunuhan tersebut. Pertama, seperti pembunuhan Floyd, pembunuhan rasial atas warga Palestina dianggap hal yang normal–bahkan ketika Israel membual tentang normalisasi hubungan dengan negara-negara Arab.

Israel bertindak sesuai dengan moto bahwa “Arab yang baik adalah Arab yang mati”. Banyak cerita bualan yang sengaja dibuat untuk melgitimasi pembunuhan warga Palestina yang ditembak di bagian punggung atau tubuh bagian atas. Cerita itu misalnya, dugaan menyimpan pisau atau bukti-bukti lainnya.

Kedua, konteks politik yang penuh dengan kekerasan tidak hanya menghasilkan penderita cacat mental, tetapi juga membuat penderita-penderita tersebut lebih mudah dikorbankan. Saya tahu orang-orang yang memiliki masalah kejiwaan dan terbunuh karena delusi paranoid mereka membuat mereka membawa pisau, atau kemampuan kognitif mereka yang terbatas membuat mereka meremehkan risiko realistis, atau kemarahan mereka membuat mereka melawan ketika dipukuli atau dihina oleh tentara.

Reaksi terhadap pembunuhan yang mengerikan kepada Floyd, Younis, dan Halak tidak boleh dibatasi agar kita bisa mencapai keadilan bagi para korban dan keluarga mereka. Kematian mereka seharusnya memicu perjuangan yang lebih luas melawan rasisme, melawan polisi, dan kekerasan politik.

Respon kita seharusnya merangkul solidaritas yang lebih luas untuk mempertahankan hak bernapas untuk semua umat manusia. (LiputanIslam.com)

*Samah Jabr adalah seorang psikiater dan psikoterapis Yerusalem yang peduli pada kesejahteraan komunitasnya. Artikel ini diterjemahkan dari From Palestine to the US, we must defend people’s right to breathe

DISKUSI: