UIJakarta, LiputanIslam.com--Paham radikal Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) telah merasuk ke kampus-kampus, termasuk Universitas Indonesia. Hal ini diungkapkan Dosen Agama Islam Universitas Indonesia (UI), Abdi Kurnia. Menurut Abdi, ada seorang mahasiswanya angkatan tahun 2010 yang saat ini sudah menjadi anggota ISIS.

“Contoh mahasiswa saya angkatan 2010, selama di perkuliahan tak terlihat ke arah radikal, namun 2-3 tahun kemudian jadi pendukung ISIS saya lihat facebook-nya, sampai sekarang masih. Di UI kan juga sempat gempar seorang mahasiswi siap jadi istri mujahidin,” kata Abdi, dalam Silaturahim Nasional Tentang Penguatan Aswaja dan Penanggulangan Terorisme dalam Ketahanan Nasional di Pondok Pesantren Al Hikam, Beji, Depok, seperti dilaporkan rimanews.com (29/12).

Menurut Abdi, faham ISIS tidak hanya menjangkiti UI, tetapi juga kampus-kampus negeri lainnya. Untuk itu, lanjut dia, setiap kampus harus mampu melakukan proteksi dan membatasi kegiatan yang mencurigakan. “Radikalisme dan terorisme bukan hanya di UI, tapi di ITB, Undip. Kalau tak disikapi, saya khawatir ini hanya masalah yang akut,” ungkap dia. (baca: Habib Mahdi: ISIS Sudah Diprediksi 1400 Tahun yang Lalu)

Andi menegaskan bahaya ISIS dan radikalisme dapat merusak kohesi dan keutuhan sosial. Paham ini tentu merugikan negara dan antipemerintah. “Belum pernah ada sepanjang rezim Indonesia sekelompok orang terang-terangan berani hadapi lembaga-lembaga negara. Padahal seharusnya menjadi institusi harus dihormati dan dihargai, tetapi ini justru berani ancam institusi negara. Wibawa negara sudah runtuh,” papar dia.

Berbagai Strategi ISIS

Kelompok-kelompok pro-ISIS di Indonesia melakukan aksi-aksi deklarasi baiat terhadap Khalifah ISIS, Abu Bakar Al Baghdadi di berbagai kota di Indonesia (baca:Baiat ISIS di Malang: Ribet dan No Free Ta’jil). Mereka juga berusaha menarik simpati dengan bagi-bagi sembako pada bulan Ramadhan lalu di Ambon. (baca: Kelompok Pro ISIS Bagi Sembako). Di Solo mereka menggambar lambang ISIS di tempat-tempat umum, namun kemudian dihapus warga (baca: Seperti Ini Nasib Lambang ISIS di Solo)

Pengamat politik, M. Arief Pranoto mempertanyakan mengapa wilayah operasi ISIS selalu di daerah-daerah kaya minyak yang memang jadi incaran Barat (baca: ISIS dalam Perspektif Perang Hibrida).

“Mengapa sumpah al Baghdadi hanya ditujukan kepada bangsa di negara-negara yang kaya (potensi) sumberdaya alam/SDA, dan wilayah yang memiliki derajat geopolitik tinggi dari perspektif (konflik) politik global? Kenapa ia tidak melindungi Malaysia, atau Singapore, Myanmar, Thailand, Vietnam, dan lainnya; apakah karena negara-negara ini telah masuk orbit pengaruh AS dan sekutu?” tanyanya secara retoris. (fa)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL