pasukan isisOleh: M. Arief Pranoto

Berbagai berita dan kajian tentang Islamic State of Irak and Syam (ISIS), telah banyak kita baca di berbagai media baik cetak, online, elektronik, media sosial, blog pribadi, dan lain-lain, oleh para pakar, peneliti, akademisi, ataupun pengamat. Tentunya dengan beragam sudut pandang serta variatif hasil. Apapun kesimpulan telaah, tak boleh dikatakan secara hitam putih: “salah atau benar”, karena selain berbasis fakta serta data-data, kajian tersebut juga menggunakan teori, postulat, asumsi, ataupun perspektif tertentu sebagai pisau bedahnya. Sah-sah saja.

Tulisan saya kali ini, perspektifnya tak lazim yaitu Erezt Israel (Negara Israel Raya), cita-cita Zionist yang belum tercapai. Ya. Ambisi bangsa Israel hingga kini, memang menginginkan teritorialnya sebagaimana Raja Salomo (Nabi Sulaiman) yang dulu membentang antara Pantai Barat Syam (Lebanon dan Syria) hingga ke tepi sungai Eufrat (Kawasan Barat Iraq). Pantaslah bila isue dan “lembaga”-nya bertitel “Irak dan Syam” (ISIS), bukan cuma “Syria”, tetapi “Syam”, yang meliputi Lebanon, Irak, Palestina, Jordania. Bukankah publik global mengakui teritorial Israel hanya seluas sekarang ini, bahkan beberapa negara di dunia termasuk Indonesia pun masih belum mengakui keberadaan Israel sebagai negara?

Sebelum melangkah jauh, kita urai sedikit tentang ‘perang hibrida’ yang menjadi perspektif kali ini. Catatan ini, tidak lagi bicara mengenai definisi secara lengkap, atau epistimologi, ontologi, aksiologi, dll terkait sifat dan karakteristik perang, kecuali mungkin hanya sedikit guna mengantar bahasan (menyambungkan) semata. Tak ada maksud menggurui siapapun, terutama pihak-pihak yang berkompeten, atau lebih ahli, dll. Artinya, jika timbul perbedaan pendapat, anggaplah kewajaran yang perlu didiskusikan kembali tanpa harus mengabaikan substansi.

Sekilas Perang Hibrida

Meski dalam sedikit hal kurang selaras isi paparan KSAD, Jenderal TNI Gatot Nurmantyo tentang ‘perang asimetris’, akan tetapi untuk jenis perang-perang lainnya, saya sangat sepakat. Menurutnya, sifat dan karakteristik perang telah bergeser seiring dengan perkembangan teknologi. Kemungkinan terjadi perang konvensional (perang militer terbuka) semakin kecil. Ada tuntutan kepentingan kelompok untuk “menciptakan” perang-perang jenis baru yang meliputi perang asimetris, perang proxy, dan perang hibrida.

Perang asimetris adalah perang antara belligerent atau pihak-pihak berperang yang kekuatan militernya sangat berbeda. Jujur saja, inilah “isi materi” yang (saya) kurang sepakat. Esensi dan kharakter peperangan asimetris tidak hanya antara pihak serta kekuatannya, namun lebih kepada peperangan dengan medan tempur yang luas meliputi ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dll dilakukan secara nir-militer (asimetris). Peperangan antar pihak-pihak yang tak berimbang sebagaimana pemaparan Pak Gatot di atas, lebih cenderung disebut taktik gerilya, modus pemberontakan, dsb. (baca: Meluruskan Makna dan Hakekat Perang Asimetris di www.theglobal-review.com). Silahkan didiskusikan lebih dalam.

Selanjutnya, perang proxy atau proxy war ialah konfrontasi antardua (negara) kekuatan besar dengan menggunakan pemain pengganti untuk menghindari konfrontasi secara langsung dengan alasan untuk mengurangi konflik langsung yang beresiko kehancuran fatal. Ada pihak ketiga sebagai pemain pengganti, biasanya negara kecil, namun sering juga nonstate actors seperti LSM, organisasi massa, Multinational Corporations (MNCs), kelompok masyarakat, perorangan, dll. Dan dalam perang proxy ini, sulit dikenali siapa kawan dan siapa lawan karena musuh dikendalikan nonstate actors dari kejauhan.

Sedangkan perang hibrida, merupakan perang yang menggabungkan (kombinasi) teknik perang konvensional, perang asimetris, proxy, perang informasi, dll untuk mendapat kemenangan atas pihak lawan. Pada saat kondisi kuat, perang konvensional dilakukan untuk mengalahkan pihak lawan. Namun, pada saat situasi kurang menguntungkan, cara-cara lain dilakukan untuk melemahkan pihak musuh. Intinya, perang hibrida adalah kombinasi dari perang konvensional, dan jenis-jenis perang baru sebagaimana sekilas diurai di atas.

Kita kembali ke ISIS lagi. Setidaknya, sejak dideklarasikan tanggal 29 Juni 2014 oleh Abubakar al-Baghdadi (sebagai Khalifah), bendera ISIS semakin berkibar, kian mengglobal. Entah kenapa, media-media mainsteam aktif menggebyarkan kiprah serta kekejamannya (menyembelih manusia) yang merupakan ‘core business’-nya daripada modus bom-bom bunuh diri seperti lazimnya. Al Baghdadi yang ternyata bernama Simon Elliot —agen Mossad, Badan Intelijen Israel— memiliki misi guna memperluas wilayah ISIS dari mulai Allepo di Syria hingga ke Propinsi Diyala, Irak Timur sebagaimana wilayah Erezt Israel yang dicita-citakan Israel.

Melalui Al Furqon sayap medianya, al-Baghdadi mengingatkan umat Islam yang tertindas di (Cina, India), Palestina, Somalia, Jazirah Arab, Kaukasus, Syam, Mesir, Irak, Pakistan, Iran, Afghanistan, (Philipina, Indonesia), Tunisia Iran, Libya, Aljazair dan Maroko perlu segera dibantu. Ia bersumpah untuk “memberi pertolongan dan membalas” secara setimpal atas penindasan terhadap umat Islam tersebut.

Retorika pun muncul, “Mengapa sumpah al Baghdadi hanya ditujukan kepada bangsa di negara-negara yang kaya (potensi) sumberdaya alam/SDA, dan wilayah yang memiliki derajat geopolitik tinggi dari perspektif (konflik) politik global?” Kenapa ia tidak melindungi Malaysia, atau Singapore, Myanmar, Thailand, Vietnam, dan lainnya; apakah karena mereka telah masuk orbit pengaruh AS dan sekutu?  (bersambung ke bagian kedua)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL