free tajil

Poster dari Ansharu Khilafah Katim, free ta’jil

Malang, LiputanIslam.com—Kontributor Liputan Islam di Malang menceritakan pengalaman mereka saat berusaha menghadiri baiat deklarasi ISIS di Malang. Di tengah cuaca panas di bulan Ramadhan, LI kerepotan mengikuti perpindahan lokasi acara itu. Acara yang bertajuk “Sosialisasi dan Dukungan pada Daulah Khilafah Islamiyah” (dan panitia pun lebih menggunakan istilah ‘sosialisasi’, bukan ‘baiat ISIS’) itu rencananya akan dilaksanakan di masjid Ibnu Sina, Jalan Veteran. Dalam poster acara pun dicantumkan “Free Ta’jil” (dengan gambar kepalan tangan) alias ta’jil gratis untuk berbuka puasa.

LI pun dengan bersemangat datang ke lokasi, pada hari Ahad 22 Ramadhan 1435 H atau bertepatan dengan tanggal 20 Juli 2014, pukul 14.00.  Namun, sesampainya di lokasi,  Masjid Ibnu Sina kami dapati dalam kondisi tertutup rapat dan terkunci. Hal ini sudah diduga LI sebelumnya, karena ketika LI mempublish rencana ini, salah satu pengunjung atas nama Syafi Kangen, menuliskan pernyataan sebagai berikut:

“Sehubungan dengan adanya postingan tanggal 15 Juli 2014 yang menyatakan bahwa akan diadakan “Sosialisasi AnshorulKhilafah” yaitu sosialisasi mendukung tegaknya Khilafah Daulah Islam Irak dan Suriah atau ISIS yang akan di selenggarakan pada hari Ahad 22 ramadhan 1435 H,  atau tepatnya pada tanggal 20 Juli 2014 pukul 14.00 WIB.

Maka kami Ta’mir Masjid Ibnu SinaJl Veteran Malang, dengan ini menyatakan bahwa kami tidak akan pernah memberikan izin terkait terlaksananya sosialisasi tersebut di Masjid Ibnu Sina, Jl Veteran Malang.

Demikian pernyataan ta’mir dari Masjid Ibnu Sina untuk dijadikan maklum bagi semua pihak yang berkepentingan.
Malang, 17 Juli 2014

Ketua Sekretaris

H.A Malik Ishaq, SH Drs. H. Soekarto”

 

Di depan masjid Ibnu Sina yang tertutup rapat. Foto: LI

Di depan masjid Ibnu Sina yang tertutup rapat. Foto: LI

Dari Masjid Ibnu Sina, ke Masjid Nurul Hidayah

Rupanya, benar, ta’mir Masjid Ibnu Sina melarang kegiatan ini. Namun, para pendukung organisasi teroris transnasional ini tidak patah arang. Mereka telah siaga dengan berbagai kemungkinan, termasuk memindahkan lokasi acara, ke  Masjid Nurul Hidayah yang terletak di dekat terminal Landungsari. LI pun segera bergerak menuju lokasi, yang sangat sulit untuk ditemukan. Ternyata, yang disebut dengan Masjid Nurul Hidayah, hanya sebuah mushalla kecil yang juga kosong melompong, tak ada tanda-tanda akan dilangsungkan sebuah deklarasi akbar.

Rupanya acara ‘sosialisasi’ ini tidak bisa diselenggarakan di Masjid Nurul Hidayah karena  warga sekitar masjid menolak kegiatan tersebut. Pihak Kepolisian lantas mengantisipasi dengan tidak memberi izin berlangsungnya acara di sana.

Dari Masjid Unmuh, Ke Junrejo Batu

Dari pantauan LI, beberapa dari mereka kembali bergerak dan  berkumpul di masjid Ar Fachruddin Universitas Muhammadiyah Malang, untuk melaksanakan ibadah shalat Ashar. Awalnya LI mengira acara akan dilaksanakan di Masjid Unmuh, namun ternyata tidak. Mereka hanya sekedar singgah dan mengumpulkan seluruh peserta acara, untuk kemudian berpindah lagi menuju ke sebuah masjid di pelosok Junrejo, Batu. Masjid ini terletak kurang lebih lima kilometer dari Masjid Nurul Hidayah, di tengah ladang tebu.

LI terus menanti, namun acara juga tidak kunjung dimulai. Orang yang datang juga terlihat sedikit, sekitar 50-an. Padahal dari poster-poster yang mereka sebarkan secara masif di jejaring sosial, acara ini akan dihadiri oleh tiga narasumber, yaitu: Ustadz M Fachry (Pimred Al-Mustaqbal Channel), Ustadz Muhammad Syaifudin Umar (Surabaya), dan Ustadz Abu Asybal Usamah (Jakarta).

Rombongan berkumpul di depan Masjid Unmuh, foto : LI

Rombongan berkumpul di depan Masjid Unmuh, foto : LI

Ustadz M Fachry, selaku Pimred al-Mustaqbal, tulisan-tulisannya bisa dibaca di Al-Mustaqbal net. Media ini merupakan pendukung kelompok Daulah Islam Irak dan Suriah (ISIS), yang telah mendeklarasikan Khilafah Islamiyah pada awal Ramadhan lalu, dan menguasai berbagai kawasan kaya minyak di Irak dan Suriah. Pemimpin kelompok ISIS adalah Abu Bakar al-Baghdadi, dan tanpa henti para pendukungnya meminta kepada seluruh kaum muslimin untuk mengucapkan janji setia kepadanya.

Berbagai pakar intelejen, seperti Edward Snowden dan Vyacheslav Matuzov,  mengungkapkan bahwa ISIS merupakan bentukan dari badan intelejen tiga negara (Inggris, Amerika Serikat, Israel), atau dengan kata lain, ISIS merupakan hasil olah racikan Mossad, CIA, dan M16.

Para ulama pun sudah mengecam ISIS. Ulama-ulama Ahlussunah Al-Azhar, ulama Ahlussunah Irak, hingga ulama Salafi Mesir, sepakat bahwa Kekhilafahan ISIS tidak sesuai dengan syariat. Mereka juga mengutuk kebrutalan yang dipertontonkan ISIS di Suriah dan Irak, yang membunuhi ulama dan rakyat sipil.

Kecaman juga  datang Hizbut Tahrir, kelompok pejuang khilafah lainnya. Menurut Dr. Mush’ab Abu Arqub, anggota Divisi Media Hizbut Tahrir Palestina, ISIS perlu menunda deklarasi Khilafah, karena gambaran tentang Khilafahnya belum jelas.

Di Indonesia, penolakan juga datang dari dua  ormas Islam terbesar, NU dan Muhammadiyah. Sekjen PP Muhammadiyah, Dr. Abdul Mu’thi, menyatakan bahwa Muhammadiyah menolak dan tak akan mematuhi Amir IS, Abu Bakar Al-Baghdadi.

“Muhammadiyah memandang apa yang dilakukan ISIS justru bisa menyulut terjadinya kekerasan dan konflik yg meluas. Di tengah realitas politik umat Islam dan negara-negara Muslim, yang diperlukan adalah kerjasama antar bangsa dan antar negara, bukan hegemoni dan utopia politik ala ISIS. Muhammadiyah menyatakan tidak menyetujui dan tidak akan mengikuti ajakan ISIS,” ujar Sekjen PP Muhammadiyah ini.

Majalah ISIS

Majalah dan stiker ISIS yang dibagikan panitia

Nahdlatul Ulama juga menolak  untuk mematuhi seruan Abu Bakar Al-Baghdadi. Menurut Khatib Aam PBNU, KH. Malik Madani, pegangan NU dalam menanggapi perang antar sesama Muslim adalah mengupayakan ishlah, sesuai dengan perintah Allah Swt dalam Q.S. Al-Hujurat; aslihuu baynahuma… (berdamailah antara kamu semua). NU tidak mencita-citakan sebuah khilafah dan menganggap ide itu sebagai sebuah utopia.

Panitia Bagi-Bagi Majalah

Di masjid terakhir pun, tidak ada kejelasan apakah acara akan dilangsungkan sore itu atau tidak. Saat itu, panitia hanya membagi-bagikan majalah yang berjudul Al-Mustaqbal, dengan berita utama “Khilafah Islamiyah Undercover” atau Di Dalam Naungan Khilafah Islamiyah. Di sampul majalah, seorang pria berjanggut sedang tersenyum lebar mengibarkan bendera ISIS.

Hari semakin senja, acara juga tak kunjung dimulai. LI pun merasa sudah kelelahan. Akhirnya, LI  bergegas pulang. Free ta’jil pun tiada didapat.

 

Catatan: menurut laporan Tempo, acara deklarasi tetap dilangsungkan. LI telah memberitakannya di sini. (lm/ba/dw/LiputanIslam.com) 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL