Oleh : Nur el-Fikri*

ashura091Dalam ritual Asyura, orang-orang datang berduyun-duyun dengan berbagai kenderaaan, baik mobil, sepeda motor, atau bahkan berjalan kaki, untuk berkumpul pada suatu tempat peringatan Asyura dilaksanakan. Mereka terdiri dari para wanita dan pria dengan beragam usia, dari bayi yang masih dalam gendongan ibunya, hingga orang tua renta yang dipapah keluarganya. Mereka semua turut andil dalam kafilah duka cita. Semua mereka bergabung dengan dasar cinta.

Bagi yang telah berkeluarga membawa seluruh keluarganya ke acara tesebut baik yang sudah tua maupun yang masih balita. Mereka membawa seluruh keluarganya merupakan efek semangat dari Asyura, sebab Sayidina Husein pada saat peristiwa Karbala tersebut juga membawa seluruh keluarganya ke medan laga, termasuk isteri dan anak-anaknya yang masih balita. Jadi, dengan membawa semua keluarga, mereka ingin merasa sedang ikut serta berjuang bersama kafilah Sayidina Husein. Inilah empati yang datang dari rasa cinta.

Wajah-wajah mereka nyaris tanpa keceriaan, kecuali seberkas senyum singkat yang kadang terlihat saat terjadi tutur sapa antara sesama jamaah. Selebihnya, kita menyaksikan wajah-wajah yang diliputi duka dan penyesalan. Wajah sendu itu, semakin terlihat kaku, saat dikontraskan dengan pakaian seragam yang mereka gunakan, karena para jamaah hampir seluruhnya berpakaian hitam. Pakaian hitam ini menjadi simbol berkabung sebagai lambang atas duka cita yang mendalam. Hitam adalah simbol ungkapan duka  dengan pakaian cinta.

Di saat matahari tergelincir dan jamaah selesai melaksanakan salat Dhuhur, maka ritual peringatan Asyura pun dimulai. Pilihan waktu ini, diakui karena mengikuti waktu terjadinya peristiwa Karbala dahulu, dimana perang antara Sayidina Husein dan pasukan Yazid dimulai pada siang hari setelah salat Dhuhur dan berakhir di sore hari. Jadi, untuk mendapatkan momen historisnya, sampai-sampai waktu acaranyapun disamakan dengan kejadian yang asli. Hal ini seakan ingin membawa para jamaah bersatu dalam lintas waktu dan lintas tempat, ke masa lalu bergabung bersama kafilah Husein di Karbala, di mana peristiwa sebenarnya terjadi. Ini semua tak mungkin dilakukan tanpa rasa cinta mendalam.

Seperti telah menjadi simbol duka, sebagaimana pakaian para jamaahnya, sekitar ruangannya juga dihiasi dengan kain hitam dan beragam simbol kedukaan. Warna baliho, kain yang berdasar merah di selingi dengan warna hitam seperti bercak-bercak darah yang mengering, serta beragam tulisan dan ungkapan berbahasa Arab, seperti ‘labbaika ya Husein’ yg berarti ‘kami memenuhi panggilanmu ya Husein’ menghiasinya. Beberapa bait syair juga tertulis di sana.

Begitu pula, selain nama Sayidina Husain terdapat juga nama-nama lainnya, seperti Ali Akbar, Abul Fadhl Abbas, serta nama Nabi Saw dan keluarganya: Muhammad, Fatimah, Ali bin Abi Thalib, al-Hasan, al-Husein, Ali Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja’far as-Shadiq, Musa al-Kadzim, Ali al-Ridha, Muhammad al-Jawad, Ali al-Hadi, Hasan al-Askari dan Muhammad al-Mahdi. Muhammad adalah Nabi dan Rasul terakhir, adapun Fatimah az-Zahra adalah satu-satunya puteri Rasululllah Saw yang memiliki keturunan untuk melanjutkan nasab Rasulullah Saw yang bersuamikan Ali bin Abi Thalib ra. Ali bin Abi Thalib dan anak keturunannya yang memiliki nama-nama lainnya itu, yang seluruhnya berjumlah 12 orang, adalah orang-orang yang diyakini sebagai imam (pemimpin-pemimpin) resmi yang menggantikan kepemimpinan Rasulullah Saw, yang harus dipatuhi dan taati. Mereka bukan Nabi, tetapi mereka adalah imam-imam yang diangkat Nabi Muhammad menjadi penerus kepemimpinannya. Ketaatan kepada mereka adalah bukan didasari pada ketakutan dan paksaan, tetapi karena rasa cinta. Sebab, di antara makna cinta adalah ketaatan. Bukankah kita akan taat kepada orang yang kita cintai?

Syair-syair yang begitu memilukan hati ini dilantunkan beramai-ramai di pimpin oleh seorang pemandu yang bersuara merdu dan syahdu di iringi dengan tepukan-tepukan tangan ke dada setiap jamaahnya. Mereka menepuk dada sebagai simbol kesedihan, laiknya orang-orang bertepuk tangan sebagai simbol kesenangan. Tentu saja simbol ini tak bisa kita salahkan, karena setiap perbuatan memiliki simbolnya sendiri dalam setiap kebudayaan. Suara syair ini bercampur dengan suara gemuruh isak tangis yang tak tertahankan dari para jamaah baik pria maupun wanitanya hingga anak-anak mereka.

Jadi, ritual Asyura (asyura artinya sepuluh) merupakan peringatan syahidnya Sayidina Husein yang merupakan cucu Rasulullah Saw pada 10 Muharram 61 H di Karbala, Irak. Sejak masa itu, tempat ini menjadi salah satu tempat sakral bagi umat Syiah di dunia, sebab bukan hanya menyimpan luka sejarah, tetapi di tempat ini pula jasad Sayidina Husein tersebut dimakamkan.

Dengan demikian, bagi komunitas Syiah ritual Asyura adalah peringatan untuk membangkitkan jiwa dan kecintaan kepada Sayidina Husein. Peristiwa itu terus menerus dikenang mereka, karena peristiwa ini bersifat universal, lintas tempat dan lintas zaman. Pesan-pesan dan hikmah peristiwa Karbala akan tetap abadi sampai hari kiamat, yakni semangat umat Islam untuk senantiasa melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Jadi atas dasar cinta itulah mereka mengenang, memperingati, berdoa, bertindak, untuk menyatukan jiwa dan semangat mereka, dengan jiwa dan semangat Sayidina Husain. Semuanya hadir di dalam ritual Asyura. (hd/liputanislam.com)

Bersambung ke bagian ketiga

—-

*Pengamat Sosial-Keagamaan

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL