Oleh : Nur el-Fikri*

ashura091Siapa Yang Melakukan Hiper-Realitas : Syiah Atau Saudara Azeza?

Dalam tulisan tentang ritual Asyura di http://www.islampos.com/ritual-asyuro-antara-darah-dan-rasa-sakit-palsu-151281/ (11/12/2014) tersebut, Sdr. Azeza membawakan teori Jean Baudrillard tentang hiper-realitas (hiperrelaity) dan hiper-kriminalitas dalam bentuk simulasi kekerasan (simulacrum of violence). Kedua konsep ini dibawanya untuk menggambarkan bahwa ritual Asyura yang dilakukan komunitas syiah adalah suatu realitas semu bukan realitas asli dan mengarah pada kekerasan sosial.

Masalahnya sekarang, mari kita lihat, apakah komunitas Syiah atau Sdr. Azeza itu sendiri yang melakukan hiper-realitas dan hiper-kriminalitas?

Untuk mendiskusikan hal ini, ada dua istilah kunci yang harus dipahami, yaitu “kenyataan” dan “pengetahuan”. Peter L. Berger dalam The Social Construction of Reality (1966) menyebutkan bahwa “kenyataan” merupakan suatu kualitas yang terdapat dalam fenomena-fenomena yang diakui keberadaannya (being) secara otonom yang tidak terikat kepada konsepsi manusia, sehingga manusia tidak bisa meniadakannya dengan pikirannya. Sedangkan “pengetahuan” dimaknai sebagai kepastian bahwa fenomena-fenomena itu nyata (real) dan memiliki karakteristik-karakteristik yang spesifik.

Kemudian perlu dipahami, Jean Baudrillard di dalam The Transparancy of Evil (1993) menyebutkan berbagai bentuk hiper-kriminalitas. Salah satu bentuk hiper-kriminalitas ini adalah ‘simulasi kekerasan’ (simulacrum of violence), yaitu rekayasa kejahatan atau kekerasan, yang mana digambarkan seakan-akan kelompok masyarakat tertentu melakukan kekerasan, kejahatan atau pelanggaran. Padahal ini hanyalah bersifat imajinasi tanpa bukti atau rekayasa yang dituduhkan melalui skenario besar politik-media. Konflik sosial baik bersifat fisik ataupun non fisik diciptakan oleh “penguasa”—melalui hasutan, isu, teror, dan intimidasi—sehingga kekerasan yang muncul baik fisik (pembunuhan, pengusiran) maupun non fisik (pengkafiran) dianggap wajar saja.

Untuk memahami hal ini, perhatikan contoh kasus Sampang. Dalam kasus Sampang, di mana pembunuhan, pembakaran, kekejaman, hingga pengusiran, terhadap komunitas Syiah, dianggap sebagai tindakan wajar oleh kelompok tertentu—padahal semestinya dipandang sebagai tindakan kurang ajar. Hal itu, dikarenakan tuduhan dan pembentukan opini publik kepada masyarakat Sampang dengan melabelkan sesat, kafir, penghina sahabat dan isteri nabi, memalsukan Alquran, hingga ritual melukai diri, yang dikemas seolah-olah nyata (real). Padahal itu sebenarnya adalah suatu rekayasa yang berifat fiktif. Inilah yang disebut oleh Baudrillard di dalam Simulation (1981) sebagai hiper-realitas (hyper-reality), yakni realitas berlebihan atau realitas fiktif.

Hiper-realitas (realitas fiktif) dibentuk dengan melakukan distorsi atau bahkan penyembunyian informasi melalui media massa. Hiper-realitas adalah menyampaikan kepada publik sesuatu yang telah disaring, disensor, dan dipilih sesuai dengan kepentingan tertentu. Misalnya, tulisan Sdr. Azeza yang sibuk melabelkan ritual Asyura sebagai ritual melukai diri, ritual aneh, ritual pagan, ritual kafir, atau lainnya—yang merupakan realitas fiktif—dan dipihak lain, melakukan penyembunyian realitas yang sesungguhnya—yakni kekejaman Yazid dan pembantaian keluarga Nabi di hari Asyura. Jadi, sebenarnya Sdr. Azeza sendirilah yang sedang melakukan hiper-realitas terhadap ritual Asyura, melalui tulisannya di media Islampos.com tersebut, bukan komunitas Syiah. Apa yang dilakukannya disebut dengan the hyperreality of media yang dengan memanfaatkan media melakukan tindakan penyembunyian kejahatan asli dibalik tuduhan kejahatan pihak lain. Ini disebut oleh Baudrillard (1995) dengan the perfect crime (kriminalitas sempurna).

The perfect crime dalam hal ini dilakukan dengan menyembunyikan kejahatan Yazid dan kroni-kroninya pada hari Asyura yang melukai dan membunuh keluarga Nabi saw—, sehingga ia tidak pernah atau tidak ingin diketahui, yang kemudian dikemaslah secara halus “model-model imajinasi kejahatan” yang dituduhkan kepada pihak lain—dalam hal ini ritual asyura kaum syiah yang dituduh sebagai ritual melukai diri, ritual agama pagan, ritual aneh, darah dan rasa luka palsu, dan lainnya. Inilah sebenarnya yang disebut dengan the simulacrum of violence. Inilah “kejahatan” terselubung yang dilakukan oleh saudara Azeza lewat media Islampos.com—yang memang media ini sering melakukan manipulasi data, terutama terhadap komunitas yang tidak disenanginya.

Sdr. Azeza, tanpa bukti yang memadai, menggambarkan seolah-olah peringatan Asyura adalah pelanggaran dan kejahatan agama. Namun sebaliknya, tak pernah menyinggung perlakuan kejahatan Yazid dan kroni-kroninya yang memiliki bukti-bukti akurat tanpa bisa ditolak sama sekali, sebagai dasar pelaksanaan asyura.

The perfect crime juga dilakukannya dengan cara disinformasi tentang komunitas Syiah, sehingga tercipta opini publik yang buruk terhadap komunitas tersebut, misalnya pelabelan sesat, kafir, tidak sesuai dengan Islam. Disinformasi itu, direkayasa dengan argumen-argmen yang seolah-olah masuk akal (pesudo science). Hal ini dilakukan oleh saudara Azeza hampir setiap kalimat dalam tulisannya, Perhatikan rentetan kalimat-kalimatnya berikut ini yang berisi berbagai tuduhan tanpa pembuktian sama sekali, seperti :

“faham Syi’ah yang meniru ajaran-ajaran Islam”

“…mereka kerap melecehkan para sahabat, ummahatul mu’miniin dan bahkan Al-Qur’an”; 

“banyak sekali ritual-ritual aneh…ritual melukai diri yang diadakan dalam perayaan Asyuro”.

“Ritual menyakiti diri seperti yang dilakukan para penganut Syi’ah justru ditemukan dalam tradisi Kristen radikal dan beberapa agama pagan”;

“Dalam tinjauan sejarah, klaim Syi’ah yang memuliakan Ali ra di atas para sahabat Nabi lainnya tidak mendapat justifikasi ilmiah. Semua pakar sejarah Islam sepakat bahwa tidak ada perebutan kekuasaan antara Khulafa’ Rosyidin”;

mereka menggunakan teori marxisme (benturan kelas) dan permainan psikologis (merawat dendam terhadap sahabat Nabi)”;

“semangat meneladani perjuangan Hussein telah dipelintir sedemikian rupa untuk memenuhi kepentingan serta misi-misi Syi’ah”; 

“rasa sakit, luka dan mungkin darah yang didapat saat perayaan Asyuro, tidak lebih dari hiperealitas yang menyesatkan”;

“Ritual melukai diri ini pada akhirnya adalah budaya pembodohan yang dipelihara terus menerus demi melanggengkan ide-ide ‘ketertindasan’ kaum Syi’ah yang kemudian dimanfaatkan untuk memenuhi ambisi politik mereka”. 

Saudara Azeza harusnya sadar bahwa apa yang dilakukannya dalam tulisannya tersebut di atas adalah bukti paling nyata hiper-realitas dan the perfect crime atau juga simulacrum of violence. Sebab apa yang ditulisnya itu sangat sulit untuk dibuktikannya kecuali hanya sebagai propaganda fiktif saja, yang sering diulang-ulang para penulis untuk menanamkan opini publik. Ingatkah Anda pada pameo, “Kebohongan yang diulang-ulang akan dianggap sebagai kebenaran”? Inilah yang nampaknya dilanjutkan Sdr. Azeza. Sebab, bagi siapa saja yang terbiasa dengan studi perbandingan mazhab dan memiliki jiwa terbuka untuk belajar, maka akan mengetahui dengan baik bagaimana perbedaan ajaran dan hubungan Sunni dan Syiah. Saya sendiri beberapa kali menghadiri peringatan Asyura kaum Syiah, tetapi tidak menemukan tradisi melukai diri tersebut. Bahkan dari tulisan para ulama Syiah, terlihat indikasi yang jelas larangan melukai diri dalam peringatan Asyura.

Meskipun begitu, anggaplah ada kenyataan orang yang melakukan tindakan “melukai diri” pada peringatan Asyura, hal itu semestinya dipahami sebagai tindakan kriminal individual, yang dikecam oleh ulama-ulama Sunni dan Syiah. Jadi, sebuah kesalahan berpikir (fallacy), jika kita menghukumi kriminal individu sebagai tindakan umum ajaran agama/mazhab. Apakah Sdr. Azeza akan terima, jika Islam dituduh sebagai agama teroris dengan ritual bunuh diri, hanya dikarenakan ada segelintir orang Islam melakukan tindakan teroris dan bom bunuh diri. Tentu tidak bukan?

Dengan memahami hal-hal di atas, maka sungguh sangat disayangkan, Saudara Azeza Ibrahim Rizki yang menyebut dirinya sebagai pengamat budaya komunikasi, akan tetapi dirinya sendiri tak memiliki “budaya komunikasi” yang baik.  Sebab, budaya komunikasi yang dibangunnnya adalah tendensius, kasar, dan lebih ironisnya lagi dipenuhi manipulasi informasi. Perhatikan kembali ungkapan-ungkapan dalam tulisannya tersebut dan bandingkan dengan tulisan-tulisan asli para ulama atau cendekiawan Syiah. Setelah itu, dengan mudah kita bisa menentukan siapa yang melakukan hiper-realitas? (hd/liputanislam.com)

*Pengamat sosial-keagamaan

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL