Oleh: Sofia Abdullah

Situs pemakaman yang ada di situs percandian dan bukti pemakaman kuno yang hingga kini masih terpelihara, cukuplah kiranya sebagai bukti tentang keberadaan situs-situs candi di Nusantara yang dikatakan sebagai candi atau Vihara peninggalan agama Hindu atau Budha adalah pemakaman leluhur yang memiliki kepercayaan atau beragama tauhid, yang juga dikenal dengan ajaran nabi Ibrahim yang juga merupakan ajaran nabi-nabi sebelumnya.

Sampai pada masa Islam, tradisi membangun makam dengan arsitektur bangunan mengikuti budaya setempat tidak mengalami perubahan berarti. Hingga pada akhir abad ke-17, ditandai dengan kekuasaan Mataram baru yang berlandaskan Islam garis keras dan berafiliasi ke Turki Usmani, bangunan-bangunan makam banyak yang dihancurkan, diratakan dengan tanah dengan dalih tidak sesuai dengan sunnah Rasul. Penghancuran makam ini diperparah dengan pemalsuan-pemalsuan bangunan makam dengan dalih pemugaran. Faktanya, pemugaran yang dilakukan pemerintah kolonial telah menghilangkan jejak Islam di Nusantara.

Berikut ini, alur Waktu Candi Cangkuang sejak awal ditemukan hingga selesai dibangun yang membutuhkan waktu selama 2 tahun (1974-1976 M).

1966: ditemukannya sebuah catatan perjalanan seorang Belanda bernama Vorderman. Ia melakukan perjalanan ke wilayah Cangkuang pada tahun 1893 dan melaporkannya dalam jurnalnya yang berjudul “Minutes Bataviaasch Genootschap”. Di dalamnya ia bercerita tentang adanya pemakaman kuno dan patung Siwa yang rusak.
9 Desember 1966: Drs Uka Candrasasmita dan rekan yang melakukan penggalian arkeologis, tidak ada penemuan penting dari hasil penggalian ini, yang dapat ditemukan hanyalah batu-batu andesit yang berserakan di sekitar makam yang diperkirakan sebagai bekas-bekas reruntuhan candi [1], patung Siwa yang rusak dan lubang di bawah tanah berukuran 4,5×4,5 m yang diduga sebagai fondasi candi.
1974-1976: Candi Cangkuang mulai dibangun dari awal karena tidak ada satupun bagian candi yang tersisa. Itulah sebabnya terdapat 2 kesalahan arkeologi dalam pembangunan Candi ini. Yang pertama, bangunan Candi Cangkuang hanya sebuah rekayasa yang bentuknya terinspirasi dari candi-candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Fakta yang ada menunjukkan bahwa pembangunan candi ini justru merusak situs arkeologi yang sebenarnya, yaitu situs pemakaman muslim kuno yang dapat membuka tabir gelap sejarah Islam di Nusantara.

cangkuang-12

proses pencetakan batu-batu tiruan untuk membangun candi yang diduga pernah berdiri di lokasi ini (sumber: Museum Candi Cangkuang)

 

proses pemasangan kaki candi (sumber foto: Museum Cangkuang)

proses pemasangan kaki candi (sumber foto: Museum Cangkuang)

 

penyusunan sementara badan candi

penyusunan sementara badan candi

 

keadaan badan candi setelah tersusun

keadaan badan candi setelah tersusun

 

bagian atap candi, batu baru digabung dengan batu lama dibuat candi

bagian atap candi, batu baru digabung dengan batu lama dibuat candi

Bila dilihat dengan teliti, batu-batu andesit lama yang digunakan untuk bangunan candi ini lebih menyerupai sisa-sisa batu nisan yang diambil dari pemakaman kuno disekitar lokasi candi, sehingga makam-makam itu menjadi tanpa nama. Besar kemungkinan pada awalnya setiap makam di Kampung Pulo ini memiliki bangunan dan ada nama dan nisannya. Kasus yang sama terjadi pada pemakaman Baqi, yaitu pemakaman keluarga dan sahabat nabi yang berlokasi di belakang Masjid Nabi di Madinah. Makam-makam di sana dihancurkan kaum nawasib (pembenci keluarga Nabi) yang berkedok ajaran baru Wahabi.

kondisi bagian dalam Candi Cangkuang dan arca Siwa yang rusak (foto: Sofia)

kondisi bagian dalam Candi Cangkuang dan arca Siwa yang rusak (foto: Sofia)

Bila dilihat dari segala sisi, jelas Arca Siwa ini adalah salah satu arca cacat yang sengaja dibuat pada era kolonial dan dibuang karena gagal dalam pembuatannya. Perhatikan garis fondasi awal pada lantai candi di sekeliling arca yang dikatakan sebagai arca Siwa. Fondasi itu dibuat pada pemugaran tahun 1976 karena tidak ditemukan satu bagian pun bangunan candi. (LiputanIslam.com)

Bersambung ke bagian 6

Baca Bagian 4

—————–

[1] Selain batu bata, batu andesit atau batu candi seringkali juga digunakan untuk membangun bangunan makam kuno, terutama sebelum dan pada masa awal Islam tersebar di Nusantara (sekitar abad ke-7 dan 8). Berdasarkan penelitian kami mengenai “candi sebagai bangunan makam”, bahan dasar bangunan makam yang ada di Indonesia tergantung pada jenis bebatuan dan tanah tempat lokasi bangunan makam berada. Pada umumnya bangunan makam ini terbuat dari batu bata dan batu andesit, dengan ciri bangunan yang serupa dengan candi, hanya saja tanpa arca, dan masih dikenali hingga saat ini sebagai bangunan makam. Salah satu contoh bangunan makam yang terkenal adalah pemakaman kuno di Sendang Dhuwur, yang merupakan makam dari Sunan Sendang Dhuwur, kompleks pemakaman kuno Sunan Giri, Sunan Gunung Jati, Sunan Prapen, dsb.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL