Oleh: Sofia Abdullah

silsilah Arief Muhammad (foto: Sofia)

silsilah Arief Muhammad (foto: Sofia)

Bila menurut silsilah ini, Arif Muhammad adalah keturunan ke-8 dari Rasulullah saw, dari cucu beliau Imam Husen yang berputra Imam Ali Zaenal Abidin atau Seh Jenal Abidin berputra Seh Mashur berputra Seh Masajid berputra Sultan Arif berputra Sultan Seh Maulana Maghribi berputra Sultan Arif Muhammad, sultan Arif Muhammad inilah yang dikatakan sebagai Eyang Mbah Dalem Arif Muhammad.

Dalam urutan silsilah akan terlihat bahwa Arief Muhammad hidup sekitar tahun 800-an Masehi, yang artinya beliau hidup dan memimpin wilayah Cangkuang dan sekitarnya kurang lebih 1200 tahun yang lalu! Dan yang terpenting adalah dengan penelusuran tokoh Arief Muhammad ini, melalui silsilah yang ada kita mengetahui bahwa 1200 tahun yang lalu Islam telah menjadi agama resmi wilayah ini dengan dengan tokoh wali-wali muslim sebagai pemimpinnya. Jabatan kepemimpinan ini dapat dilihat dari gelar Almarhum yang sudah melekat dengan nama beliau, seperti yang kami temukan di wilayah ini, gelar Mbah Dalem, Sunan, dan sebagainya.

Untuk mengetahui masa hidup beliau, karena Mbah Dalem Arief Muhammad masih keturunan Rasulullah saw, melalui silsilahnya kami membandingkannya dengan keturunan Rasulullah yang lain juga menjadi Imam besar bagi para pengikut ajaran keluarga nabi pada masanya, yaitu Imam Muhammad al Jawad yang hidup tahun 817 M-842 M.

Berikut adalah urutan perkiraan tahun dari nama yang kami peroleh dari silsilah Eyang Mbah Dalem Arif Muhammad di atas;
Muhammad Rasulullah saw 570 M-632M
Ratu Fatimah (605M-632M)+Sayidina Ali kw (600M-661M)
Imam Husen (625 M-681 M) [1]
Seh Jenal Abidin (Imam Ali Zaenal Abidin 658 M- 713 M)
Seh Mashur (salah seorang putra dari imam Ali Zaenal Abidin, hidup satu masa dengan Imam Muhammad al Bagir-juga salah seorang putra Imam Ali Zaenal Abidin yang hidup pada tahun 676 M- 732 M)
Seh Masajid (satu masa dengan putra imam Muhammad al Bagir; Imam Ja’far as Shadiq yang hidup pada tahun 702 M-765M)
Sulthan Arif (satu masa dengan putra imam Ja’far as Shadiq; Imam Musa al Kadhim yang hidup pada tahun 750 M-805 M)
Sulthan seh Maulana Maghribi (satu masa dengan putra Imam Musa al Kadhim; Imam Ali ar Ridho yang hidup pada tahun 770 M-825 M)
Sulthan Arif Muhammad (satu masa dengan putra Imam Ali ar Ridho; Imam Muhammad al Jawad yang hidup pada tahun 817 M- 842 M)

Selain makam Arif Muhammad, di Kampung Pulo ini juga terdapat ratusan makam kuno lain yang tersebar di berbagai wilayah di Kampung Pulo ini. Dan seperti pada umumnya pemakaman pada masa itu, setiap makam memiliki bangunan makam atau cungkup makam yang berbentuk persis sama dengan yang kita kenal sebagai Candi sekarang. Bangunan makam atau cungkup makam ini pada umumnya terbuat dari bata atau batu andesit atau yang lebih dikenal dengan batu candi atau batu alam yang terdapat di sekitar lokasi makam.

Penduduk nusantara pada masa lalu adalah bangsa yang sangat menghargai leluhurnya. Meskipun nenek moyang nereka telah berpulang, mengunjungi makam atau berziarah ke makam leluhur adalah suatu ritual istimewa yang diselenggarakan dari mulai golongan para pemimpin hingga rakyat biasa, tradisi ini melambangkan tradisi ajaran Millah Ibrahim atau agama Brahmanik. Ketika mayoritas penduduk negeri ini telah memeluk Islam tradisi ini tetap berjalan karena tradisi ziarah tidak BERTENTANGAN dengan ajaran Islam. Pentingnya tradisi ziarah bagi bangsa Indonesia telah menjadikan pemakaman sebagai tempat ibadah untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta dan dengan tradisi ziarah mengingatkan manusia akan kefanaan dirinya.

Pemakaman di nusantara memiliki lokasi dan bangunan khusus yang mendukung ritual berziarah tetap terlaksana, ketika Islam telah menyebar dikalangan penduduk nusantara bangunan makam menjadi satu bagian dengan bangunan Masjid. Salah satu bangunan khusus yang hingga kini masih terjaga adalah fakta bahwa hampir setiap makam kuno di nusantara memiliki bangunan makam atau cungkup makam atau bekas-bekas cungkup makam, seperti gambar makam Sunan Pangadeggan ini.

Situs Makam Sunan Pangadeggan (foto: Sofia, dari museum Cangkuang)

Situs Makam Sunan Pangadeggan (foto: Sofia, dari museum Cangkuang)

Situs makam Sunan Pangadeggan, berbentuk punden berundak, makam dengan bentuk punden berundak terdapat di beberapa lokasi di situs Cangkuang, makam dengan bentuk punden berundak sebenarnya banyak tersebar di berbagai wilayah di Indonesia hanya saja asumsi Hinduisme yang telah mengakar, seringkali situs pemakaman ini di jadikan situs Hindu atau Budha (foto koleksi pribadi diambil dari museum Cangkuang)

Cungkup makam umumnya terbuat dari batu alam, batu bata yang dikombinasi dengan kayu pada bagian atapnya.Dilihat dari bentuk bangunan, bangunan makam hampir tidak bisa dibedakan dengan bangunan candi, hanya satu hal yang membedakan yaitu keberadaan arca dan relief.(LiputanIslam.com)
Bersambung ke bagian-5

Baca bagian 3

Catatan kaki:
[1] Imam Husein adalah cucunda Nabi Muhammad saw putra dari siti Fatimah az Zahra yang syahid dalam pertempuran tidak seimbang melawan tentara Yazid putra Muawiyyah di padang Karbala pada 681 M. peristiwa paling biadab dalam sejarah umat manusia ini berawal sejak syahidnya Imam Ali ketika menjabat sebagai khalifah ke-4, dan terpilihnya Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib oleh suara mayoritas muslim pada saat itu sebagai khalifah ke-5, Muawiyyah yang sejak awal menginginkan jabatan khalifah menolak pilihan rakyat ini dan memilih untuk memerangi Imam Hasan, demi perdamaian kaum muslim Imam Hasan pada saat itu mengalah dan mundur dari jabatannya dengan syarat yang disaksikan oleh kaum muslim saat itu bahwa setelah Muawiyyah wafat penggantinya adalah Imam Hussein, Muawiyyah menyetujui persyaratan ini pada awalnya hingga ia kemudian mengangkat dirinya menjadi raja dan menunjuk Yazid sebagai penggantinya. Demi menyelamatkan Islam dari pemimpin seperti Yazid, Imam Husein menolak untuk berbaiat, hingga terjadilah peristiwa pembantaian keluarga nabi di Karbala atas perintah Yazid bin Muawiyyah.

Singkat kisah, pasca syahidnya Imam Husein kaum musllim pun banyak yang tersadar hingga terjadi pemberontakan di berbagai wilayah kekuasaan Yazid, dari mulai peristiwa inilah semua pecinta keluarga nabi dikatakan Rafidhah atau pemberontak, banyak pula diantara keturunan nabi (dzuriyyah nabi) dan para pengikutnya yang akhirnya hijrah kenegara lain karena selalu diburu oleh para penguasa pada zamannya. Indonesia dan negeri-negeri di Asia adalah tempat hijrahnya kaum Muhajirin pasca peristiwa karbala ini. Pasca peristiwa Karbala ini (tahun 700-an Masehi) adalah gelombang hijrah muslimin terbesar dalam sejarah Islam, gelombang hijrah ini kemudian di susul gelombang-gelombang hijrah berikutnya yang berasal dari wilayah-wilayah para dinasti yang terus melakukan ekspansi dengan mengatas namakan Islam, dan besar kemungkinan Mbah Dalem Arief Muhammad ini adalah keturunan dari muhajirin gelombang pertama yang hijrah ke Nusantara.

[2] Ibunda Imam Ali ar Ridho berasal dari Maghrib, Maghrib adalah sebutan lain dari Maroko, orang yang bersal dari Maghrib disebut Maghribi, salah satu gelar yang di sandang oleh Imam Ali ar Ridho adalah Maulana Maghribi.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL