LiputanIslam.com – Para ahli sepakat bahwa pemanasan global meningkat hingga 4 derajat Celsius (4C) pada tahun 2100 mungkin nyata. Efek dari kenaikan panas tersebut tentu akan lebih ekstrem dan membuat hidup kita berubah drastis.

Peningkatan derajat panas adalah sebuah mimpi buruk, menciptakan gelombang panas tak tertahankan, sehingga seluruh negara tidak bisa dihuni lagi.

Iklim memprediksi bahwa kita akan menghadapi kondisi panas yang meningkat dua kali lipat dari sekarang, sekitar 10C di akhir abad ini.

Peningkatan sebesar 4C akan membuat planet ini tidak bisa dihuni manusia lagi. Segala sesuatu tampak jauh lebih suram di tahun 2100. Selama dekade terakhir, para ilmuan telah mampu menghasilkan gambaran tentang bagaimana kenaikan suhu mempengaruhi kompleksitas pola dan tutupan awan serta ekologi sirkulasi atmosfer dan samudera. Kami melihat zona mati yang begitu luas di lautan akibat kekurangan oksigen dan akan diperburuk oleh keasaman dari CO2. Hal ini akan menyebabkan kematian kerang, plankton, dan karang secara massal.

“Kami akan kehilangan semua terumbu karang beberapa dekade sebelum 2100, di sebuah tempat yang panasnya meningkat antara 2C dan 4C,” jelas Johab Rockstrom, direktur Institut Potsdam Jerman. Ia melakukan penelitian tentang dampak iklim di Jerman.

Permukaan laut akan menjadi lebih tinggi dua meter. Lebih mengkhawatirkan lagi, kita akan berada di jalan menuju dunia yang bebas dari es karena semua lapisan es khususnya di Greenland dan Antartika Barat sudah mencair akibat panas. Karena lapisan es mencair, permukaan menjadi lebih rendah dan hangat. Pada tahun 2100, kita juga akan kehilangan sebagian besar gletser lintang rendah, termasuk dua pertiga dari apa yang disebut kutub ketiga dari pegunungan Hindu Kush-Karakoram-Himalaya dan dataran tinggi Tibet yang mengalir ke banyak sungai-sungai penting di Asia.

Baca Juga: Pembangunan Infrastruktur Masif Mengancam Ekologi Bumi

Sebagian besar sungai di Asia akan lebih sering terkena banjir karena atmosfer bumi lebih panas sehingga menghasilkan banyak badai dahsyat dan curah hujan ekstrem. Bumi menjadi lebih lembab sehingga tekanan panas semakin tinggi di wilayah Asia tropis, Afrika, Australia, dan Amerika. Wilayah-wilayah ini pun menjadi wilayah yang tidak layak huni sepanjang tahun.

Sebagian besar wilayah bumi yang membentang dari Sahara hingga ke selatan dan Eropa tengah mulai menjadi gurun. Sungai termasuk Danube dan Rhine mengering. Curah hujan di hutan hujan Amazon pun meningkat. Airnya mengalir ke sungai-sungai yang lebih besar. Kebakaran pun meningkat, mengubah hutan menjadi padang rumput. Titik kritis untuk Amazon bisa dipicu oleh deforestasi.

Semua alam akan dipengaruhi oleh perubahan iklim. Akan terjadi banyak kepunahan ketika spesies berjuang untuk bermigrasi dan beradaptasi dengan dunia yang benar-benar berubah. Tahun 2100 akan menjadi tahun awal dimulainya kepunahan massal keenam bumi. Dunia menjadi musuh yang berbahaya bagi umat manusia.

Namun manusia tidak akan punah. Beberapa ratus manusia dapat bertahan hidup. Namun peradaban manusia akan berakhir. Banyak tempat tinggal dan tempat bercocok tanam yang mungkin tidak cocok lagi bagi keduanya, untuk tempat tinggal maupun bercocok tanam.

Permukaan laut menjadi lebih tinggi. Pulau-pulau di dataran rendah dan pesisir tidak dapat dihuni lagi. Sehingga pada tahun 2100, sekitar 2 miliar orang mengungsi. Bangladesh saja akan kehilangan sepertiga dari luas datarannya yang sekarang.

Mulai tahun 2030, lebih dari setengah populasi akan hidup di daerah tropis. Namun pada tahun 2100, sebagian besar garis lintang rendah dan menengah tidak dapat dihuni karena tekanan panas atau kekeringan. Meskipun curah hujan lebih kuat. Tanah yang lebih panas akan menyebabkan penguapan lebih cepat dan sebagian besar populasi akan berjuang untuk mendapatkan air tawar. Sehingga kita akan hidup di permukaan tanah yang lebih sempit dengan populasi yang lebih besar.

Memang konsekuensi dari dunia yang lebih hangat sebesar 4C begitu menakutkan sehingga kebanyakan ilmuan lebih suka untuk tidak merenungkannya. Apalagi menyusun strategi untuk bertahan hidup.

Harapan terbaik bagi umat manusia adalah terletak pada kerja sama untuk menata kembali dunia kita secara radikal. Kita perlu melihat dunia baru, melihat sumber daya berada dan kemudian merencanakan populasi, produksi pangan dan energi di sekitarnya.

Baca Juga: Bencana, Perubahan Iklim, dan Pohon Kurma

Manusia pun memindahkan populasi manusia ke garis lintang tinggi seperti daerah Kanada, Siberia, Skandinavia, bagian dari Greenland, Patagonia, Tasmania, Selandia Baru, dan mungkin Antartika Barat.

Manusia akan lebih banyak menjadi vegetarian tanpa ikan dan ternak. Daerah tersebut menjadi daerah penanaman makanan dan oasis terakhir untuk banyak spesies.

Di daerah tersebut pun membutuhkan program infrastruktur besar-besaran untuk mengelola limbah, kualitas udara, kebutuhan air, dan kebutuhan listrik.

Produksi hidrogen pada skala industri akan digunakan untuk transportasi nonelektrik. Fisi nuklir dan tenaga surya akan membantu kehidupan manusia untuk memenuhi kebutuhan listrik. Kemudian penangkapan efektif dari emisi karbon di udara dapat digunakan untuk pembuatan bahan.

Pertanian manusia pun harus berada di garis lintang yang lebih tinggi karena daerah tropis akan terlalu kering atau terlalu panas untuk para pekerja pertanian.

Kita harus mengubah dan menyederhanakan dunia kita selama ribuan tahun ke masa depan dengan ribuan tahun naiknya permukaan laut, lautan yang diasamkan dan suhu tropis yang tak tertahankan karena kita tidak mau berusaha untuk mengubah hal yang sebetulnya hanya berbeda sedikit, yaitu kemakmuran bahan bakar fosil dan kemakmuran yang dipicu oleh sumber energi non-gas rumah kaca. (Ay/Guardian)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*