bimaOleh: Bima Endaryono*

Ironis, baru saja Indonesia mengirimkan wakilnya untuk mengikuti Konferensi Internasional tentang dampak perubahan iklim di Peru pada bulan Desember 2014, pada bulan yang sama di Indonesia terjadi bencana tanah longsor di Banjarnegara yang menghilangkan nyawa. Di Bogor, terjadi tanah longsor yang memakan korban jiwa. Di Jakarta, 20 Januari 2015 diprediksi oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai dimulainya masa puncak banjir. Semua bencana ini memunculkan pertanyaan, apakah ini kerusakan alamiah atau faktor perilaku manusia?

Badan PBB untuk Strategi Internasional Pengurangan Bencana (UNISDR) menyebutkan bahwa untuk bencana tanah longsor, Indonesia menduduki peringkat pertama dari 165 negara, dengan jumlah korban manusia sebesar 197.327. Untuk banjir, Indonesia peringkat ke 6 dari 162 negara dengan jumlah 1.101.507 orang terkena dampaknya. Ada dua faktor utama penyebabnya. Pertama, rendahnya kualitas pengelolaan lingkungan dan pelanggaran tata-ruang wilayah atau kota. Kedua, ancaman perubahan iklim.

Perubahan iklim perlu kita cermati bersama. Pemanasan Global atau lebih tepatnya Gangguan Iklim Global sesungguhnya sangatlah berbahaya. WHO mencatat sejak 1960, setiap tahun angka kematian rata-rata di dunia lebih dari 60 puluh ribu jiwa. Pada tahun 2000 saja, 150 ribu jiwa melayang akibat dampak langsung perubahan iklim seperti banjir, badai dan angin topan serta kebakaran hutan yang semakin banyak terjadi.

Dampak tak langsung perubahan iklim antara lain meningkatnya malaria dan DBD, serta penyakit lain yang disebarkan oleh vektor yang berhubungan dengan kenaikan temperatur, curah hujan, kelembaban, dan kepadatan populasi vektor. Penyakit lain menyebar lewat air, seperti diare, kolera, tipus. Penyakit-penyakit ini berhubungan dengan berkurangnya kualitas dan suplai air, serta banjir dan kekeringan.

Kondisi Perubahan Iklim di Indonesia
Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak potensi bencana sekaligus potensi alam yang luar biasa. Diapit 2 samudera, 2 benua, dilintasi katulistiwa, diikuti deretan gunung berapi mulai dari Sabang sampai Merauke. Dihiasi pula oleh hutan Borneo yang merupakan paru-paru dunia serta lapisan es abadi di Puncak Jaya.

Pegunungan Puncak Jaya (4884 dpl) yang terletak di provinsi Papua merupakan lokasi satu-satunya yang terdapat gletser di wilayah “kolam hangat” ekuatorial Samudera Pasifik. Di dalamnya terkandung informasi yang sangat berharga-perspektif klimatologi- mengenai perubahan iklim dan lingkungan di wilayah tersebut yang dipengaruhi siklus antar-tahunan El Nino-Southern Oscillation (ENSO) dan sistem monsun Austral-Asia. Peristiwa ENSO adalah bentuk nyata proses interaksi laut dan atmosfer dalam sekala besar yang mempengaruhi iklim regional. Dampak ENSO sangat terasa di Indonesia yang secara geografis posisinya berada pada dua sisi basin Samudera Pasifik tempat berlangsungnya peristiwa ENSO.

Sayangnya, akibat perubahan iklim, lapisan es abadi di Puncak Jaya akan segera menghilang. Padahal data historis es Puncak Jaya dapat dijadikan acuan data tentang laju perubahan iklim. Setidaknya data historis yang pernah diambil pada ekspedisi penelitian yang dilakukan oleh BMKG ke Puncak Jaya pada tahun 2009 berguna untuk memprediksi perubahan iklim di masa yang akan datang.
Suhu global yang meningkat setiap setengah derajat per tahun akibat perubahan iklim merupakan bencana dahsyat di dunia. Hal ini terus terjadi dengan cepat tanpa diimbangi upaya perbaikan alam yang konkrit dan serius dari negara-negara maju sebagai negara penyumbang kerusakan iklim terbesar.

Mitigasi Merupakan Solusi
Para pakar yang mengikuti Konferensi Perubahan Iklim menyebutkan, ada 2 opsi untuk menghadapi gangguan global ini. Pertama, mitigasi, yaitu upaya mengurangi kecepatan dan kekuatan laju perubahan iklim global yang diakibatkan oleh kegiatan manusia. Kedua, adaptasi, yaitu mengurangi dampak negatif pada kehidupan. Mitigasi adalah pilihan yang sepantasnya diambil.

Banyak upaya telah dilakukan, baik oleh pemerintah, maupun masyarakat sipil, meskipun belum maksimal. Pada era Presiden Jokowi, Hari Penanaman Pohon pada bulan lalu diisi dengan pesan yang jelas, bahwa semua elemen masyarakat harus ikut menanam pohon. Pemerhati lingkungan independen yang menyerukan Gerakan 100 juta pohon di Indonesia juga ramai dibicarakan dalam jaringan media sosial. Kabar terbaru, telah dimulai Gerakan Menanam Pohon Kurma untuk Indonesia (Gema Indonesia) yang bekerjasama dengan Go Green Organizer (G2O). Gerakan ini mengkampanyekan gerakan penghijauan dengan menanam pohon kurma.

Mengapa Kurma?
Pohon kurma, pohon yang disebut oleh sejarah dalam Al-Quran lebih dari 10 kali, merupakan pohon penyelamat manusia dengan segala keistimewaannya. Dalam kerangka ilmiah, pohon kurma setinggi 1 meter dapat mengubah karbon dioksida menjadi oksigen dengan volume yang cukup untuk 2,5 orang per hari. Kemampuan beradaptasi pohon kurma terhadap lingkungan sangat tinggi.

Pohon kurma dapat tumbuh di suhu 7-40 derajat celcius. Di luar suhu itu, kurma tidak mati namun tidak juga tumbuh, alias berhibernasi. Pohon tropis tangguh ini hidup di panasnya gurun Arab, sekaligus bertahan saat salju turun, seperti kondisi di Iran bagian utara. Tidak hanya buahnya, batangnya bisa disodet dan cairannya dapat dijadikan minuman sirup penyegar atau bisa menjadi kayu batangan untuk industri furnitur. Daunnya dapat dijadikan atap rumah dan perluasan industri kerajinan seperti anyaman. Tidak seperti sawit yang merusak tanah dan menghabiskan cadangan air tanah, pohon kurma malah memperkuat struktur tanah dan menyediakan cadangan air di dekatnya.

Upaya penghijauan yang dilakukan Gema Indonesia bisa menjadi solusi dari krisis yang melanda negeri ini, mulai dari longsor hingga kekeringan. Masyarakat perlu ikut ambil bagian dalam gerakan ini dengan mulai menanam kurma di lingkungan masing-masing.(LiputanIslam.com)

*Penulis adalah Sarjana Komunikasi UNPAD dan fungsional pranata Humas di Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*