LiputanIslam.com – Menurut catatan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), suhu planet bumi semakin kritis dalam rentang 5 abad terakhir mencapai 1,5 derajat celsius pada 2018. Global warming ini disebabkan salah satunya oleh aktivitas pembangunan infrastruktur yang masif di seluruh negara. Memang memiliki dampak positif yaitu kemajuan sebuah negara, tetapi juga memuat dampak negatif bagi ekologi bumi sebagai tempat bernaung manusia di dunia.

Tentu pembangunan infrastruktur baik untuk dilakukan namun seharusnya tidak bersifat ekstraktif dan eksploitatif seperti pembangunan proyek properti, reklamasi, pertambangan, dsn ekspansi perkebunan sawit di tempat-tempat yang seharusnya tetap dijaga untuk keseimbangan ekologi. Pembangunan di kawasan pesisir, laut, dan pulau-pulau kecil seharusnya tidak dilakukan karena tentu akan berdampak negatif pada lingkungan sekitar dan sosio ekonomi masyarakat sekitar.

Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA), Susan Herawati, menyatakan bahwa ancaman serius ysng muncul dari pembangunan ekstraktif dan eksploitatif dihadapi oleh kawasan mangrove (hutan bakau) yang mendiami kawasan pesisir di Indonesia hingga 95.000 kilometer. Mangrove memegang peran penting masyarakat pesisir.

Kawasan mangrove sangat penging untuk dijaga karena sebagai pelindung pantai dari abrasi, penyangg proses rembesan air laut ke tanah, penjaga intrusi air laut, sebagai penahan sedimen, penyerap karbondioksida hingga 800-1.200 ton, dan tempat daur ulang oksigen. Selain itu, mangrove juga memiliki peran sosial dan ekonomi bagi masyarakat pesisir. Pihak KIARA  menyatakan bahwa ada 6.829 desa yang masyarakatnya memiliki pendapatan ekonomi dari mangrove.

Sayangnya menurut Susan, mangrove terus mengalami deforestasi akibat pembangunan berupa proyek reklamasi di daerah pesisir, pertambangan, perkebunan, dan lainnya.

“Penyebab utama deforestasi mangrove adalah ekspansi proyek reklamasi di seluruh pesisir Indonesia, pertambangan di pesisir dan pulau-pulau kecil, serta ekspansi perkebunan kelapa sawit yang saat ini telah memasuki kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil. Pemerintah harus mengevaluasi seluruh proyek ini,” ucapnya.

Tercatat hingga 2018, ada mangrove seluas 4,4 juta hektare yang mengalami deforestasi. Padahal Mangrove Indonesia disebutkan sebagai kawasan mangrove terluas dunia. Ditambah fenomena dieback yang mengancam habitat mangrove makin membuat jumlah mangrove berkurang secara drastis.

Fenomena dieback sebagian besar menyerang mangrove di kawasan Teluk Benoa Denpasar Bali. Akibatnya mangrove mengering dan berwarna abu-abu. Dieback telah menghancurkan sekitar 8,95 hektar area mangrove Teluk Benoa. Penyebab dieback adalah tingginya sedimentasi yang masuk ke dalam area mangrove sehingga menutupi akar.

Selain Teluk Benoa, dieback pernah menghancurkan kawasan mangrove di Pulau Mantehage Sulawesi Utara dan Karimunjawa Jawa Tengah.

Penyebab-penyebab deforestasi mangrove di atas harus segera dihentikan dan ditangani secara baik. Karena jika tidak, tembok alami pengikat tanah yang telah hidup puluhan tahun dapat hilang dan menimbulkan bencana likuifaksi dan hilangnya sejumlah fauna penting. (Ayu/Mongabay)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*