stop isisKubu Lawan

Di luar kubu tersebut terdapat kubu negara-negara lain yang ingin mempertahankan kepentingan nasionalnya di tengah situasi sekarang. Mereka adalah;

Iran

Sebagaimana semua negara lain di dunia, Iran juga ingin mengembangkan pengaruhnya di dunia. Di tengah badai tekanan asing, Iran justru dapat mengangkat posisinya, mulai dari Afghanistan hingga kawasan Laut Mediteranian, bahkan hingga Laut Hitam dan Teluk Aden. Iran yang pernah terpaksa berperang selama delapan tahun melawan semua kekuatan besar dunia untuk memperkuat pijakan kakiknya kini berhasil membangun kubu-kubu pertahanan hingga ribuan kilometer di luar garis perbatasannya sehingga harapan Israel dan beberapa negara lain untuk dapat menyerang Iran menjadi sekedar isapan jempol belaka karena resikonya akan sangat besar.

Iran akan kehilangan dua sekutunya jika Suriah dan Irak sampai jatuh. Karena itu Iran mengerahkan Iran mati-matian mempertahankan kubu-kubunya di dua negara ini. Seperti pada perang delapan tahun melawan Irak di era mendiang Saddam Hossein, Iran ingin menggiring pihak lawan kepada perang attrisi.

Musuh-musuh Iran menyadari bahwa di bawah tekanan hebat embargo internasional Iran malah bisa menjadi seperti sekarang. Karena itu, pasca pencabutan embargo tekanan justru akan diperhebat, dan Iran berusaha mendapatkan kesempatan untuk menggagalkan tekanan itu.

Rusia

Rusia sekarang adalah adikuasa yang mulai menggeliat lagi. Pasca Uni Soviet, AS beranggapan sudah tak memiliki rival lagi di dunia sehingga banyak bertingkah di kancah internasional dan tak segan-segan menabrak semua rambu dan kesepakatan yang pernah dijalinnya dengan Uni Soviet sebelum federasi ini buyar. Kawasan dari Eropa Timur hingga Suriah sekarang menjadi target serangan Barat.

Selama beberapa waktu Kremlin terpaksa diam menyaksikan agresi Eropa ke wilayah pengaruhnya, demi membenahi struktur perekonomian Rusia. Tapi sekarang situasi sudah berubah sehingga Moskow tidak ingin berpangku tangan lebih lama lagi dan karena itu Rusia bangkit melawan gerakan ekspansif Barat di Ukraina dan Suriah. Di mata Moskow bahkan isunya bukan lagi sekedar memelihara pengaruh tradisional, melainkan sudah masuk ke ranah keamanan nasional.

Saudi dan Turki telah mengalirkan banyak ekstrimis berdarah Rusia ke Suriah dan Irak yang selanjutnya diharapkan pulang untuk berjuang mendirikan kekhalifahan di berberbagai wilayah Rusia. Di sisi lain, Barat juga berusaha membenturkan Rusia dengan negara-negara eks-Uni Soviet yang dihuni oleh warga Muslim berdarah Rusia agar Negeri Beruang Merah ini mengabaikan ekspansi Barat di Eropa Timur. Karena itu, Rusia lantas berusaha tampil prima di Suriah demi menangkal bahaya yang mengintai perbatasannya.

Mesir:

Negara ini tahu persis bahwa jika kelompok-kelompok Islam garis keras berkuasa, terutama kelompok Ikhwanul Muslim, maka keamanan nasional mereka akan terancam. Karena itu Mesir enggan mengikuti rencana-rencana Saudi dan negara-negara Arab Teluk Persia lainnya.
Kepentingan nasional Mesir menuntut kebertahanan Bashar al-Assad sebagai presiden yang moderat di Suriah sehingga jika dirasa perlu Mesir bahkan siap mengirim pasukan ke Suriah untuk melawan para ekstrimis, walaupun Kairo tentu berharap pasukannya tetap berkonsentraasi di Mesir sendiri untuk meladeni tingkah para ekstrimis yang masih malang melintang di berbagai wilayah negara ini.

Suriah

Banyaknya tentara dan rakyat Suriah yang loyal kepada Basyar al-Assad adalah kenyataan yang tak terduga sebelumnya oleh Barat dan sekutunya. Akibatnya, semua rencana mereka berantakan. Sebelum krisis Suriah, popularitas al-Assad bisa jadi berada di bawah level 50%, tapi sekarang mayoritas mutlak Suriah mendukungnya. Karena itu, kubu oposisi Suriah tak mungkin berani berlaga melawan al-Assad dalam pemilu. Mereka alergi mendengar kata pemilu karena mereka tahu persis al-Assad pasti menang.

Di awal perang Suriah, digembar-gemborkan usulan kepada al-Assad supaya mundur dan menyerahkan Suriah kepada orang lain, tapi dia menolak mentah-mentah semua usulan yang ada. Di kemudian hari rakyat Suriah menyadari bahwa yang terjadi di Suriah ternyata bukan perang saudara antara pemerintah dan oposisi, melainkan perang di mana pasukan bayaran dari berbagai negara berdatangan untuk menguasai Suriah dan menjadikan negara ini sebagai Libya Jilid II. Karena itu rakyat Suriah memilih loyal kepada pemerintahnya.

Di sisi lain, terciptanya situasi baru setelah Iran dan Rusia terlibat langsung dalam krisis Suriah membuat rakyat Suriah optimis semua wilayah negaranya akan bebas dari cengkraman pihak-pihak asing.

Irak

AS dan sekutunya tidak hanya menghancurkan infrastruktur ekonomi dan militer negara ini, tapi juga konstalasi politiknya. Kemudian, karena kepolisian Irak juga ringkih, semula AS menduga Baghdad akan mudah menerima perjanjian keamanan dalam bentuk apapun, tapi Washington ternyata tak habis berpikir mengapa Baghdad ternyata enggan meneken perjajian keamanan dengan AS dan malah meminta pasukan AS ditarik dari Irak.

Karena itu AS lantas menggunakan para anteknya untuk mengacaukan keamanan Irak agar terbentuk opini bahwa Irak tidak akan aman tanpa pasukan militer AS. Namun demikian, Baghdad tetap berusaha menemukan jatidirinya dan berusaha melawan ancaman asing. Kondisi inilah yang kemudian menimbulkan kasus-kasus di mana pasukan udara AS malah menyerang tentara dan relawan Irak yang sedang bertempur melawan kawanan teroris ISIS. Di saat yang sama, Washington juga berusaha menguatkan pihak Kurdi yang menjadi pesaing pemerintah pusat Irak.

Dewasa ini Irak terancam bahaya disintegrasi, sementara AS memutuskan untuk mendatangkan lagi pasukannya ke Irak tanpa persetujuan Baghdad sehingga AS praktis menduduki Irak. Tak hanya itu, AS juga bermaksud mendatangkan pasukan negara-negara Arab sekutunya, yang justru merasa terancam jika stabilitas, keamanan dan kekuatan Irak pulih kembali.

Aksi AS dan sekutunya itu pasti akan mendapat perlawanan dari orang-orang Irak, dan akibatnya, perjuangan bangsa Irak melawan ISIS terpecah dan akan banyak yang menyasar kepada pasukan negara-negara asing yang menduduki Irak.

Cina, India dan Tunas-Tunas Kekuatan Ekonomi

Ambisi utama AS ialah menguasai sumber-sumber energi yang diperlukan oleh negara-negara ini. Semua perkiraan yang ada membenarkan terjadinya upaya pencegahan barjayanya negara-negara ini di Asia Timur.

Cina, India dan kekuatan-kekuatan ekonomi baru tidak mengharapkan kemulusan hegemoni Washington dan sekutunya di kawasan ini. Karena itu, meskipun mereka selama ini tidak mau terlibat dalam berbagai konflik internasional demi menata dan memperkuat ekonominya, bukan tak mungkin dalam waktu dekat mereka akan terlibat ketika mereka merasa terancam, apalagi mereka juga kuatir terhadap perilaku kelompok-kelompok radikal yang didukung Saudi dan Turki.

Mayoritas Negara Arab

Kecuali Maroko dan Sudan yang memilih menyesuaikan diri dengan negara-negara Arab Teluk Persia akibat faktor keuangan, negara-negara Arab lainnya memiliki pandangan yang sama dengan Mesir.

Di tengah situasi ini, Turki yang takut ISIS berantakan di Suriah dan Irak menjadi kalap hingga memilih datang langsung ke Irak. Sebab, selain memang mengincar Mosul, Turki juga tidak ingin berhadapan dengan Rusia dan Irak di Suriah. Apalagi Turki beranggapan bahwa operasi pembebasan Mosul oleh pasukan Irak akan segera dimulai tanpa mempertimbangkan peranan Ankara.

Terdorong oleh faktor yang sama, AS dan para sekutunya berusaha menduduki Irak lagi agar jangan sampai semua skenario dan agenda mereka berantakan akibat kalahnya ISIS.

Terlihat betapa ironisnya Timteng. Kawasan ini menjadi kantung berbagai macam konflik dan perang multinasional yang melelahkan. Celakanya lagi, di saat ada beberapa negara berusaha memperkuat kubu pemberantasan terorisme demi meredakan gejolak dan mencegah menularnya teroris ke negara-negara lain, Turki dan sejumlah negara malah melakukan tindakan-tindakan yang dapat memicu perang dunia. (mm)

Mengapa Mereka Takut ISIS Kalah? (Bagian 1/3)

Mengapa Mereka Takut ISIS Kalah? (Bagian 2/3)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL