Qatar:

  •  Meskipun negara ini mungil, tapi kekayaannya yang melimpah membuat negara ini merasa perlu memainkan peranan signifikan di Timteng.
  • stop isis
  • Di tengah konflik antarnegara besar di sekitarnya, Qatar tidak ingin menjadi pelanduk yang mati di tengah gajah yang bertarung.
  • Trauma akan peristiwa invasi Irak ke Kuwait, negara-negara kecil namun kaya raya semisal Qatar, Uni Emirat Arab dan bahkan Kuwait sendiri lebih senang apabila negara-negara besar yang bertikai pada akhirnya berkeping-keping menjadi negara-negara kecil seperti mereka, karena dengan begitu mereka tidak akan menjadi pelanduk di tengah negara-negara sekitar. Karena itu mereka berinvestasi untuk menciptakan perpecahan negara-negara besar sekitarnya.
  •  Menghalangi pembentangan jalur pipa minyak Iran menuju Eropa.
  • Menjangkau dan menguasai sumber-sumber energi di negara-negara lain semisal Libya dan kawasan utara Irak dan Suriah demi mengembangkan pendapatan.
  • Menunjukkan loyalitas kepada negara-negara besar semisal Arab Saudi, AS dan Inggris yang diharapkan akan terus melindungi mereka, atau demi mengamankan diri dari bahaya mereka.

Negara-Negara Eropa Barat:

Dengan bergerombol di sekitar singa yang bernama AS, negara-negara Eropa Barat sering mendapat jatah keuntungan ekonomi dan pengaruh. Inggris dan Perancis yang pernah berdominasi di Timteng selama beberapa dekade dan menjadi arsitek banyak pertikaian yang terjadi sekarang jelas tidak mungkin rela pengaruhnya menguap begitu saja di Timteng.

Di samping itu, di Eropa juga terdapat warga Muslim dengan jumlah yang cukup signifikan. Mereka yang sebagian besar berdarah non-Eropa sulit membaur dengan masyarakat pribumi karena perilaku diskriminatif masih cukup kental di sebagian negara Eropa. Akibatnya, tak sedikit warga Muslim di sana yang terpikat kepada kelompok-kelompok radikal.

Problema serupa pernah di alami Eropa terkait keberadaan ras Yahudi sehingga kemudian diselesaikan dengan pengasingan mereka dari Eropa atas nama imigrasi kaum Yahudi ke Palestina. Sekarang, solusi serupa juga dipertimbangkan oleh Eropa terkait warga Muslim. Eropa berharap dapat memindahkan mereka ke Timteng.

Israel

  • Boleh dibilang, Rezim Zionis Israel adalah pemain yang paling diuntungkan oleh situasi yang terjadi sekarang di Timteng. Dengan terjadinya konflik antarnegara regional, pasukan negara-negara yang berpotensi mengancam eksistensi Israel setidaknya akan loyo sehingga dalam jangka pendek tidak menjadi ancaman bagi Israel.
  •  Isu pembebasan Palestina dan dukungan terhadap hak bangsa Palestina menjadi isu sekunder negara-negara regional. Dengan demikian Israel menemukan kesempatan untuk meningkatkan kekuatan dan memperkokoh posisinya.
  • Ketabuan hubungan negara-negara Arab dengan Israel menjadi terpecahkan. Negara-negara ini pada akhirnya bisa melakukan perundingan langsung dengan Israel, atau bahkan tak segan lagi membuka kantor perwakilan sebelum kemudian kedutaan besar di Israel.
  • Kelompok-kelompok pejuang Islam, baik Sunni maupun Syiah, dari Hizbullah hingga Hamas, semuanya direpotkan oleh perang saudara sehingga ancaman mereka bagi Israel melemah. Perbedaan sikap serta pro dan kontra mereka di depan kubu-kubu yang terlibat konflik praktis melemahkan pihak yang terlibat perlawanan langsung terhadap Israel.
  • Berkepingnya Timteng menjadi negara-negara kecil memperbesar kemungkinan Israel untuk berdominasi di kawasan ini, memanfaatkan pertikaian-pertikaian yang tak berkesudahan di tengah negara-negara ini, dan jika perpecahan itu bermotif agama dan ras maka Israel menemukan alasan kuat bagi eksistensi negara Yahudi.

Yordania:

Yordania tergolong negara yang paling lemah dari segi ekonomi dan militer sehingga di tengah permainan negara-negara besar ia berusaha mengantisipasi bahaya negara-negara jirannya.

Karena bertetangga dengan Suriah, Irak, Arab Saudi dan Israel, Yordania praktis menjadi tempat lalu lintas semua pandangan politik regional sehingga berpotensi bernasib seperti Suriah dan Libya, apalagi kalangan garis keras, masyarakat berdarah Palestina dan kelompok-kelompok sekular kiri menjadi segmen yang sulit dikendalikan.

Kondisi rawan ini membuat Yordania berusaha mengarahkan semua konflik ke negara-negara jirannya melalui kerjasama dengan negara-negara Barat agar semua perselisihan yang ada dapat diselesaikan di tempat lain.

Bertolak dari semua latar belakang ini dapat diketahui bahwa sebagian besar negara yang berkoalisi dengan AS terlibat dalam krisis dan konflik Timteng dengan berbagai tujuan masing-masing. Dalam beberapa kondisi kepentingan mereka menjadi tumpang tindih sehingga praktis menciptakan kekacauan yang luar biasa pada kubu ini.

(Bersambung)

Mengapa Mereka Takut ISIS Kalah? (Bagian 3/3)

Mengapa Mereka Takut ISIS Kalah? (Bagian 1/3)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL