TelAviv, LiputanIslam.com – Saluran 12 TV Israel pada Rabu malam (31/1) mengungkapkan bahwa pemimpin Mossad David Barnea mengungkapkan kepada Dewan Perang Israel sebuah “dokumen prinsip” untuk kemungkinan kesepakatan pertukaran tahanan dengan Hamas, yang mencakup pembebasan 35 tawanan Israel di Jalur Gaza pada fase pertama, dengan imbalan gencatan senjata selama 35 hari.
Saluran tersebut mengatakan bahwa dokumen yang diserahkan oleh Barnea kepada Dewan Perang “mencakup pembebasan 35 orang tawanan yang selamat dari kalangan perempuan wanita, serta tawanan yang terluka, dan orang tua, dengan imbalan gencatan senjata yang berlangsung selama 35 hari, yang berarti satu hari gencatan senjata untuk setiap orang yang diculik (yang ditawan Hamas dalam serangan 7 Oktober 2023).”
Dia menambahkan, “Setelah itu, ada kemungkinan untuk memperpanjang masa tenang selama satu minggu tambahan, untuk mengadakan perundingan mengenai kemungkinan menyelesaikan kesepakatan tahap kedua, yang mencakup pembebasan pemuda, dan semua orang yang disebut Hamas sebagai tentara.”
Saluran tersebut menilai bahwa “inti dari perselisihan di pihak Israel tidak selalu terletak pada jumlah tahanan keamanan (tahanan Palestina) yang akan terpaksa dibebaskan oleh Israel dari penjara, namun pada kualitas mereka.”
Media itu menyebutkan bahwa kesepakatan akan “mencakup pembebasan sejumlah besar tahanan Palestina, yang dihukum oleh Tel Aviv karena terlibat dalam serangan yang mengakibatkan terbunuhnya orang Israel”, dan pembebasan tahanan Palestina ini “akan sulit dicerna oleh masyarakat dan politisi.”
Channel 12 menyatakan sejauh ini “belum ada kesepakatan mengenai jumlah tahanan (Palestina) yang akan dibebaskan (oleh Israel).”
Kepala Biro Politik Hamas, Ismail Haniyeh, Selasa lalu mengumumkan pihaknya telah menerima proposal kesepakatan yang diedarkan dalam rangka upaya menghentikan perang Israel di Jalur Gaza dan menyelesaikan perjanjian pertukaran tawanan, dan bahwa pihaknya sedang mempelajarinya.
Dalam sebuah wawancara dengan AFP dia juga mengatakan, “Jalur Gaza saat ini tidak layak untuk ditinggali.” (mm/raialyoum)