LiputanIslam.com – Narasi berikut ini mengandung falasi logika-material. Narasi seperti ini biasa kita dengar dari kubu Zionis.
“Palestina itu tidak layak dibela. ISIS dan Al-Qaeda punya slogan pembelaan terhadap Palestina. Organisasi-organisai ekstrem dan radikal juga pasti menyuarakan pembelaan kepada Palestina. Jadi, untuk apa bersuara yang sama seperti mereka?”
Narasi ini merupakan salah satu model proposisi bersyarat (if-clause). Dalam format yang baku, narasi di atas bisa dikemukakan dengan kalimat seperti ini. “Palestina hanya layak dibela jika tak ada ISIS dan Al-Qaeda yang ikut mendukung.”
Ketika kita jadikan sebagai proposisi yang universal (premis mayor), kalimatnya menjadi:
“Tak ada satupun gerakan yang baik ketika gerakan itu didukung oleh pihak yang buruk.”
Maka, ketika faktanya (premis minornya) menunjukkan bahwa:
“Dukungan kepada kemerdekaan Palestina itu juga datang dari kelompok teroris”,
Maka, kesimpulannya adalah:
“Palestina tak layak untuk didukung.”
Secara formal, silogisme di atas tak bermasalah. Akan tetapi, secara material (konten atau substansinya), ditemukan kecacatan pada premis mayor. Proposisi “Tak ada satupun gerakan yang baik ketika gerakan itu didukung oleh pihak yang buruk” adalah premis yang keliru.
Ada cara yang sangat sederhana untuk menguji keliru atau tidaknya materi dari sebuah premis mayor. Hubungkan saja dengan premis minor lainnya. Misalnya, hubungkan dengan gerakan kemerdekaan bangsa Indonesia. Faktanya, kemerdekaan bangsa Indonesia itu juga didukung oleh kelompok yang saat ini disepakati mayoritas bangsa Indonesia sebagai kelompok yang buruk, yaitu PKI. Nah, jika mereka konsisten dengan premis mayor di atas, maka, mereka juga seharusnya tidak mendukung upaya perjuangan bangsa Indonesia dulu. Bukankah PKI juga mendukung kemerdekaan Indonesia?
Dihubungkan dengan Palestina, memang benar bahwa para pendukung kemerdekaan Palestina itu datang dari berbagai kelompok, faksi, organisasi, golongan, dan milisi. Kemerdekaan Palestina memang menarik simpati banyak kelompok. Bahkan, sejumlah informasi menyebutkan bahwa ada kelompok LGBT yang mendukung kemerdekaan Palestina. Motivasi para pendukung kemerdekaan Palestina itu memang beragam. Ada yang mendukung karena murni ingin membela Palestina; karena rasa kemanusiaan mereka yang tersentuh. Tapi ada juga yang memanfaatkan isu Palestina untuk kepentingan pribadi dan golongan mereka.
Yang pasti, Palestina adalah bangsa yang terjajah. Maka, dukungan atas kemerdekaan Palestina adalah langkah yang benar, terlepas dari fakta bahwa sebagian pendukung kemerdekaan Palestina itu adalah pihak-pihak yang buruk. (os/liputanislam)