stop isisLiputanIslam.com – Banyak orang dibuat pusing oleh perkembangan situasi Timteng dan dunia belakangan ini, namun tak sedikit orang yang dapat membaca ketakutan para pendukung teroris terhadap kekalahan ISIS di Timteng.

Tak dapat dipungkiri bahwa Moammad Gaddafi di Libya terguling dan terbunuh akibat perang proxy yang dikendalikan Barat dan donaturnya yang terdiri atas Turki dan negara-negara Arab Teluk Persia. Kekacauan yang terjadi sekarang di Libya tak lain juga karena perselisihan sikap mereka mengenai negara Libya yang sudah berantakan, sedangkan orang-orang Libya sendiri sudah tak punya peran apa-apa dalam perang.

Sebagian besar orang yang berperang melawan Gaddafi adalah orang-orang bayaran dari luar, bukan rakyat Libya. Mereka disokong Barat dengan serangan udara, informasi dan logistik militer.

Kelebihan perang proxy terhadap Libya ialah negara-negara penyerangnya praktis tidak menanggung beban nyawa, sebab nyawa manusia-manusia bayaran bagi mereka tak ada harganya. Dari sisi pendanaanpun, jika pengiriman satu personil pasukan Amerika Serikat (AS) memerlukan biaya rata-rata USD 1000/bulan untuk gaji, tunjangan dan lain-lain, maka satu personil bayaran dari Somalia, misalnya, cukup dengan bayaran USD 100-200/bulan, sementara targetnyapun juga kurang lebih juga sama tercapainya.

Tergulingnya pemerintah Libya lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya membuat Barat dan sekutunya lupa diri dan gagal menangkap realitas bahwa Gaddafi tamat riwayatnya bukan karena kehebatan dan keterorganisasian pasukan bayaran itu, melainkan karena sebagian besar tentara dan rakyat Libya serta negara-negara lain tak sudi membela rezim Gaddafi, persis seperti apa yang dialami diktator Irak Saddam Hossein.

Menyaksikan kegemilangan agendanya di Libya, aliansi Barat, Arab dan Turki lantas beraksi untuk Suriah dengan mengerahkan balatentara bayarannya ke Suriah, tapi mereka salah strategi akibat kegagalan menangkap realitas Libya tadi. Banyak tentara dan rakyat Suriah yang masih loyal kepada pemerintah sehingga penantian aliansi itu hanya tinggal penantian, apalagi di Suriah juga sudah tertanam kepentingan beberapa negara kuat di kawasan dan dunia semisal Rusia, Iran dan bahkan Cina.

Negara-negara sekutu AS di Timteng yang semula yakin bahwa proyek penggulingan rezim Bashar al-Assad di Suriah akan selesai paling lama tiga bulan lantas kalap sehingga membukakan pintu bagi semua kombatan asing tanpa mengindahkan latar belakang ideologis dan tujuan mereka di Suriah. Akibatnya, berbagai tipe kelompok kombatan terbentuk sebegitu liar dan tak terkendalikan lagi oleh siapapun sehingga menjadi ancaman bukan hanya bagi Suriah, melainkan dunia secara keseluruhan.

Ketika kelompok-kelompok teroris di Suriah sudah tak terkendalikan lagi, Barat dan sekutunya di Timteng mencoba mengembangkan aktivitas kelompok-kelompok yang masih berada di bawah pengaruhnya supaya dapat menjalar ke Irak. Sebabnya jelas; Nouri al-Maliki saat menjabat perdana menteri Irak enggan menjalin perjanjian militer dengan AS seperti yang diharapkan Washington. Saat itu Gedung Putih berharap Baghdad meminta penempatan pasukan militer AS di Irak. Sebagaimana dialami di Libya, aliansi Barat, Arab dan Turki itu juga mengalami blunder di Suriah dan Irak.

Peta Kepentingan Aliansi Barat, Arab dan Turki

Secara garis besar, beberapa interes dan tujuan terpenting aliansi ini ialah sebagai berikut;

Amerika Serikat:

  • Berdominasi di Timteng dan menguasai sumber energi yang diperlukan oleh negara-negara yang berpotensi menjadi rival ekonomi AS semisal Cina dan India.
  • Mengembangkan pengaruh di dunia.
  • Melestarikan eksistensi militer dan pangkalannya di kawasan strategis Timteng.
  • Meningkatkan ketegangan dan konflik antarnegara Timteng agar pendapatan yang mereka peroleh dari minyak terkuras dan banyak digunakan untuk belanja senjata.
  • Melicinkan proyek pengkotakan kembali Timteng dengan patokan prakarsa yang disebut Peta Jalan atau Peta Bernad Lewis, sebab ketika Timteng dikotak-kotak oleh Inggris dan Perancis dan Perjanjian Sykes-Picot, ruang untuk pengaruh AS tidak diperhitungkan. Karena itu, AS yang kini merasa sebagai adidaya dunia berobsesi membuyarkan perjanjian itu sesuai interesnya.
  • Menanamkan pengaruh di negara-negara yang secara tradisional berafiliasi dengan Rusia yang notabene rival AS, sebelum kemudian melemahkan Rusia dengan cara melatih dan memperkuat oposisi, membangkitkan pemberontakan dan pada akhirnya membelah Rusia menjadi beberapa bagian.

Arab Saudi:

  • Melawan ekspansi pengaruh Iran dan kaum Syiah di Timteng, atau kalau bisa juga membendung pengaruh Islamis Sunni yang berafiliasi dengan Turki atau Ikhwanul Muslimin di Mesir.
  • Menguasai pucuk kekuasaan di negara-negara Arab dengan cara menyingkirkan para pemimpin nasionalis yang menjadi rival di negara-negara ini.
  • Memimpin negara-negara Islam untuk kemudian menyebarluaskan faham wahabisme di dunia dan pada puncaknya ialah menghidupkan kembali kekhalifahan Islam dengan ibu kota Mekkah al-Mukarramah.
  • Menyingkirkan negara-negara yang berpotensi menjadi ancaman bagi keamanan nasional Saudi.
  • Menjauhkan bahaya revolusi dari negara-negara yang rakyatnya mendambakan demokrasi.

Turki:

  • Melampiaskan dendam terhadap negara-negara Arab yang dalam Perang Dunia I enggan menyokong dinasti Ottoman dan malah ada yang melakukan pemberontakan terhadap Turki.
  • Meski sudah terbentuk pemerintahan baru di Turki, negara ini masih berambisi terhadap wilayah negara-negara jirannya, dari Cyprus hingga wilayah utara Suriah (provinsi Raqqah, Aleppo, Idlib dan lain-lain) dan wilayah utara Irak (provinsi Nineveh) serta semua tempat yang banyak warganya berdarah Turki. Turki masih mengasumsikan semua wilayah itu sebagai bagian dari wilayah Turki. Kecenderungan neo-Ottomanisme ini terjadi pada pemerintah Turki sekarang, dan inilah sebab mengapa Turki tak segan-segan terlibat konflik dengan semua negara jirannya.
  • Menghidupkan kembali kekhalifahan Ottoman berdasarkan pandangan Ikhawanul Muslimin dan menampilkan dirinya sebagai pemimpin Dunia Islam.
  • Menjangkau sumber-sumber minyak dan gas Irak dan Suriah.
  • Mengantisipasi bahaya terbentuknya negara Kurdi yang akan menjangkau sebagian wilayah Turki.

Mengapa Mereka Takut ISIS Kalah? (Bagian 2/3)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL