LiputanIslam.com — Dengan dalih bahwa jet tempur Su-24 Rusia melanggar wilayah udara, maka Turki pun bertindak gegabah: menembak hingga Su-24 jatuh. Sementara Rusia bersikeras bahwa Su-24 tidak melanggar wilayah udara Turki sama sekali. Jadi, siapa yang benar?

Mari kita runut dari awal.

Pada tahun 2012, jet tempur Turki melintasi wilayah Suriah, hingga akhirnya ditembak oleh Angkatan Udara Suriah. Buntut dari kejadian itu, pemerintah Turki mengeluarkan aturan terkait zona penyangga. Lima mil (kurang lebih delapan kilometer) dari perbatasan Turki-Suriah ditetapkan sebagai ‘zona penyangga’ dan jika ada yang dianggap mengancam di area tersebut, maka Turki merasa berhak untuk menyerangnya.

Tahukah Anda, apa artinya hal ini?

Benar, Turki telah memperluas batas-batas wilayah di udara. Jadi, sejauh delapan kilometer wilayah udara Suriah diklaim sebagai ‘zona penyangga’ Turki. Akibatnya, ketika Su-24 terbang di sekitar perbatasan Turki-Suriah, maka Turki menganggap hal itu sebagai pelanggaran wilayah udara.

Namun, apakah hal ini masuk akal?

Bagaimana kalau Suriah melakukan hal yang sama? Suriah mencanangkan zona penyangga sejauh delapan kilometer dari batas-batas wilayah udara, niscaya wilayah udara Turki, Irak, dan Yordania akan terklaim juga. Apakah pesawat yang terbang di negara yang berbatasan dengan Suriah harus ditembak jatuh? Jika Suriah mengklaim zona penyangganya hingga di Laut Hitam, maka apakah pesawat-pesawat yang melintas di kawasan Timur Tengah juga bisa ditembak jatuh?

Atau katakanlah di Indonesia. Jika Indonesia tiba-tiba mengklaim ‘zona penyangga’ sejauh delapan kilometer, apakah negara-negara seperti Singapura dan Malaysia akan mematuhinya?

Zona penyangga ala Turki adalah omong kosong. Tidak ada keharusan untuk mematuhi aturan tersebut, karena hanya Turki yang menetapkannya secara sepihak.

Berdasarkan ‘zona penyangga’ Turki inilah, jet tempur Rusia dituduh melakukan pelangaran udara. Misalnya:

“Pesawat Rusia telah melanggar wilayah udara Turki, sebagaimana dilaporkan oleh media. Namun kemudian laporan terkini menunjukkan bahwa klaim tersebut tidak benar. Disebutkan, AS telah menekan Turki untuk melakukan propaganda tersebut,” tulis Reuters, (5/11/2015).

Lalu laporan ini:

“Pesawat Rusia melanggar wilayah udara Turki yang berbatasan dengan Suriah pada hari Sabtu. Akibatnya, 2 pesawat tempur F-16 dikerahkan untuk mencegar. Menteri Luar Negeri telah menyampaikan kepada Duta Besar Rusia, bahwa mereka memprotes pelanggaran tersebut. Turki memperingatkan Rusia untuk tidak lagi melakukan pelanggaran, atau mereka harus bertanggung jawab jika terjadi insiden yang tak diinginkan,” lapor AFP, (5/11/2015).

Namun sebelumnya, McClatchy telah melaporkan pelanggaran wilayah udara sebelum Reuters dan AFP. Disebutkan, “Pesawat Rusia yang terbang sekitar 5 mil dari perbatasan Turki mungkin akan melewati wilayah udara Turki,” sebagaimana disampaikan oleh pihak AS dan Turki.”

Lalu, seorang pejabat militer AS menekankan bahwa kejadian itu rentan memicu konfrontasi bersenjata. Namun kemudian, jet tempur Rusia itu telah meninggalkan area tersebut sebelum Turki merespon.

Memang, jet tempur Rusia terbang di wilayah yang sangat berdekatan dengan perbatasan. Hal itu disebabkan karena faksi-faksi teroris banyak yang mengontrol wilayah perbatasan.

Di pegunungan yang berada dikawasan Lattakia merupakan rute utama sebagai jalan keluar masuk baik jihadis maupun logistik dari Turki menuju Suriah. Jalur ini juga menjadi kunci utama mengalirnya persenjataan yang dikirimkan kepada pemberontak Suriah oleh AS dan sekutunya.

Mungkin saja, pesawat Rusia bermanuver, lalu tanpa sengaja melewati perbatasan. Tetapi alasan utama mengapa AS dan Turki bisa mengklaim bahwa jet tempur tersebut melakukan pelanggaran udara karena Turki secara sepihak telah memajukan (atau dengan kata lain: memperlebar, memperluas) wilayah udara yang berbatasan dengan Suriah sejauh delapan kilometer. Jadi, jet tempur Rusia bukan melanggar wilayah udara Turki, tetapi melintasi ‘zona penyangga’ khayalan Turki.

Apakah hal ini akan dijadikan alasan untuk memulai perang NATO vs Rusia? Padahal, di saat yang sama, AS, Perancis, Inggris, dan Yordania terus menerus melakukan pelanggaran terhadap wilayah udara Suriah, berpura-pura tengah menyerang ISIS. Lalu Turki sendiri menyerang pasukan Kurdi di utara Irak tanpa adanya izin dari pemerintah Irak. Dan bagaimana dengan Israel? Bukankah Israel kerapkali melanggar wilayah udara Lebanon?

Apa yang sebenarnya terjadi? Jerman, Belanda dan AS telah menempatkan pertahanan udara Patriot di Turki, untuk melindungi Turki dan ‘jihadis’ yang mereka dukung di kawasan utara Suriah. Sistem pertahanan udara ini kabarnya telah dicabut. Namun dengan adanya insiden ini, apakah sistem Patriot akan kembali dipasang di Turki?

Simak laporan dari Liputan Islam terkait penembakan jet tempur Rusia oleh Turki:

Tegang, Jet Tempur Sukhoi-24 Buatan Rusia Rontok Ditembak Turki
Pilot Jet Rusia yang Ditembak Turki Ditemukan Tewas
Erdogan Sebutkan NATO, Bagaimana Ketegasan Reaksi Putin?
Jet Tempur Rusia Ditembak Turki, Awal Perang Dunia III?
Lakukan Operasi Pencarian, Heli Mi-8 Rusia Terbakar Dirudal Teroris (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL