Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Opini

Pilkada dan Politik Plintat-Plintut

Published 16/09/2014 5 Min Read
Share
5 Min Read
SHARE
foto: birliandri.blogspot.com
foto: birliandri.blogspot.com

Oleh:Budi Lesmana

Sayyidina Abu Bakar Shiddiq ra pernah berkata, bahwa ada lima kegelapan dan ada lima pelitanya. Salah satu kegelapan itu adalah ‘cinta dunia’, dan pelitanya adalah takwa. Rasulullah bersabda, ”Cinta dunia adalah biang segala kesalahan.” (HR Baihaqi)

Hari ini kita melihat betapa mudahnya para politisi kita berbalik pendapat dan saat mempertahankan pendapat masing-masing, seolah-olah mereka sedang memperjuangkan kebenaran sejati. Mereka lupa, kemarin bicara apa. Seolah dalam politik, sah-sah saja untuk menjilat ludah sendiri. Istilah Jawanya, plintat-plintut.

Kisruh RUU Pilkada adalah contoh gamblang sikap plintat-plintut ini. Pagi bilang A, sore bilang B, esok entah bilang apa lagi. Parahnya, ini terjadi di kedua kubu, baik yang pro pilkada langsung, atau pro pilkada lewat DPRD.

Kita simak dulu, argumen para pendukung pilkada langsung. Menurut mereka, pilkada lewat DPRD justru akan membuat proses transaksi politik semakin marak.  Jika hak memilih kepala daerah diserahkan kepada DPRD, tentu para calon akan merogoh banyak uang untuk mengambil hati anggota DPRD. Pengakuan Bupati Solok, Sumatera Barat, Syamsu Rahim cukup mengejutkan. Saat mencalonkan diri sebagai Bupati Sawahlunto tahun 2003, ia dimintai uang 250 juta per anggota DPRD. Ia pun gagal jadi Bupati saat itu. Ia berhasil jadi Bupati pada era pilkada langsung. Jadi, lebih baik pilkada langsung saja, semua orang punya kesempatan untuk maju jadi kepala daerah.

Pertimbangan ini rasanya masuk akal. Hanya saja, ada yang aneh, mengapa tokoh-tokoh yang dulu tidak setuju pilkada langsung, sekarang berbalik arah? Misalnya, ‘ikon’ pro-pilkada langsung,  Wagub DKI Jakarta, Ahok ternyata pernah mengusulkan, agar kepala daerah khusus di ibukota negara, yakni Jakarta, tidak lagi dipilih melalui pilkada langsung, melainkan dipilih presiden dan setingkat menteri. Alasannya, agar tidak berantem dan menghemat anggaran. Atau, Ketua Nasdem, Surya Paloh, pernah berkata, “NasDem mendukung penghapusan Pilkada dan mengembalikannya ke tangan DPRD. Terlalu banyak waktu, energi dan biaya  yang terbuang tanpa adanya hasil yang optimal dari penyelenggaraan Pilkada.”

Kini, mari kita lihat argumen pendukung pilkada lewat DPRD. Mereka menolak pilkada langsung lantaran bertentangan dengan budaya demokrasi, banyak memakan biaya, dan memunculkan konflik horizontal. Mahfud MD, pendukung Koalisi Partai Merah (pro-Pilkada lewat DPRD), bahkan mengingatkan, dulu Bung Karno mencabut aturan pilkada langsung lantaran bertentangan dengan budaya demokrasi di Indonesia.

Lagi-lagi argumen yang terdengar masuk akal. Hanya saja, bukankah mayoritas anggota DPR yang kini ‘memperjuangkan’ pilkada lewat DPRD (Fraksi Golkar, PPP, PAN, Gerindra, dan Demokrat dan PKS – 73 kursi di DPR) dulu bersikap sebaliknya? Dulu, sebelum hasil pilpres ketahuan, bukankah mereka justru mendukung pilkada langsung? Mengapa hanya dalam hitungan pekan mereka berubah sikap?

Ada apa di balik semua ini? Mohon maaf bila saya pesimis atau suuzon. Namun bagi saya, semua ini akarnya ada pada cinta dunia. Saat dunia terlihat lebih manis dengan pilihan A, mereka akan beramai-ramai pilih A. Kalau yang terlihat di mata, dunia indah dengan pilihan B, mereka akan mati-matian memperjuangkan B. Soal kepentingan rakyat atau apa yang sebenarnya dihendaki Tuhan, itu entah nomer berapa. Dan sialnya, bahkan terkadang Tuhan pun dipakai untuk membenarkan pilihan mereka dan memaki pilihan orang.

Inilah yang saya maksud politik plintat-plintut. Terlepas dari argumen masing-masing kubu yang bagi orang awam seolah sama-sama benar, ada hal yang lebih substansial untuk diamati. Yaitu, betapa politisi kita -sayangnya- tidak dapat dipegang. Sikap plintat-plintut mereka menunjukkan bahwa yang benar-benar dibela bukanlah rakyat, tapi kepentingan duniawiah mereka. Karena itu, rakyat sebaiknya tidak terlalu ‘berpegang teguh’ pada sosok politik tertentu, apalagi mendukung dengan membabi-buta, sampai-sampai mem-PHO-sesama rakyat (Perusak Hubungan Orang).  Saling sindir, saling hujat di media sosial. Buat apa? Sampai kapan kita mau dimanfaatkan dan ditunggangi oleh sikap plintat-plintut elit?(LiputanIslam.com)

—

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini, silahkan kirimkan ke [email protected]

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Opini

Perang Opini di Dunia, Israel Kalah Telak Melawan Palestina

By Muhammad
Indonesiana

Seruan Jihad Lewat Adzan, Melawan Siapa?

By Fadel
Indonesiana

Kasus Telkomsel dan Hassan Haikal yang Kian Meradang

By Fadel
Analisis

Dari Palestina Hingga Amerika, Kita Harus Membela Hak Semua Orang untuk Bernapas

By Rachel
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account