Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Kajian Islam

Wahyu dan Akal dalam Studi Islam (2-selesai)

Published 17/04/2014 5 Min Read
Share
5 Min Read
SHARE

alquranMenurut Abid al-Jabiri, dalam karya pentingnya Bunyah al-Aql al- Araby (1990) menyebutkan bahwa dalam studi Islam berkembang tiga nalar epitemologis, yaitu nalar bayani, nalar burhani, dan nalar irfani. Nalar bayani pada aplikasinya menjelma pada studi fiqih dan tafsir, nalar burhani terimplementasi pada kajian filsafat dan kalam (teologi), sedangkan nalar irfani berujud pada kajian sufistik atau tasauf.

Ketiga nalar di atas menempatkan wahyu dan akal pada posisi strategis menurut spesifikasi kajian dan telaah yang dilakukan. Tetapi perlu ditegaskan, walaupun orientasi dan fokus kajian masing-masing menempatkan salah satunya (wahyu atau akal) pada posisi superior dan yang lainnya inferior, namun pada praktisnya, wahyu dan akal berjalin kelindan dengan saling dukung dan saling mengukuhkan untuk menghasilkan temuan-temuan berharga dalam disiplin ilmu masing-masing. Dalam nalar bayani misalnya, wahyu mendapat posisi superior (inti) sedangkan akal inferior (tambahan), maka dalam nalar burhani sebaliknya, akal berposisi superior (inti) sedangkan wahyu menempati posisi inferior (tambahan). Adapun dalam nalar irfani, kekuatan intuisi dan kesucian ruhaniah menjadi landasan terpenting untuk mendapatkan ma’rifatullah.

Begitu akrabnya persahabatan wahyu dan akal, sehingga sangat sulit bagi kaum muslimin untuk memisahkan bahkan membedakannya kecuali hanya berdasarkan teks-teksnya. Al-Quran dan sunnah memiliki teks ilahiyah, namun segala tambahan yang dinisbahkan kepadanya tidak dapat dikatakan sebagai wahyu, melainkan hasil kreasi nalar manusia. Karenanya, pembagian ilmu-ilmu keislaman kepada naqliyah (perennial knowledge) dan aqliyah (acquired knowledge) tidaklah valid, bahkan mengesankan seolah-olah ilmu-ilmu naqliyah bebas nalar dan ilmu-ilmu aqliyah bebas wahyu, meskipun pembagian itu bisa dipahami berdasarkan sumber dan tingkat penggunaanya.

Sebagai misal, ilmu fiqih dan ushul fiqih, yang merupakan ilmu paling terhormat dalam sejarah Islam dan dikategorikan sebagai ilmu-ilmu naqliyah, namun jika dicermati dalam praktisnya sungguh sangat sarat dengan penggunaan nalar akal. Sebaliknya, teologi atau ilmu kalam, sangat kental dengan dasar-dasar wahyu meskipun penggunaan nalarnya begitu tinggi.

Begitu pula, secara umum dapat kita katakan bahwa manusia membutuhkan pandangan dunia (al-ru’yah al-kauniyah) yang menjelma menjadi ideologi dan keyakinan yang dianut. Menurut Allamah Muthahhari, semua agama, ajaran, aliran dan filsafat sosial, mau tidak mau bertumpu pada suatu bentuk pandangan dunia dan itu merupakan asas dari pola pemikiran agama tersebut. Tujuan-tujuan yang dipaparkan oleh sebuah agama, perintah dan anjuran untuk berjalan menuju tujuan tersebut, berbagai metode dan cara yang ditentukan dalam usaha mencapai tujuan tersebut, perintah dan larangan yang ada, munculnya berbagai tugas dan tanggung jawab, semuanya itu merupakan hasil dari suatu pandangan dunia dan membuat akal manusia meyakini semua perkara itu (Muthahhari, Kumpulan Artikel, 2003, hal. 226).

Pandangan dunia secara sederhana mengindikasikan tentang kesimpulan nalar manusia (mikrokosmos) akan nilai dan model harmonisasi tatanan semesta dalam kehidupan duniawiyah (makrokosmos). Ideologi dan keyakinan akan dihasilkan sejalan dengan gambaran duniawiyah yang di internalisasikan melalui analisis yang cermat dari realitas jagat raya yang terbentang luas. Prof. Muhsin Qira’ati (2004, hal. 4) menyebutkan bahwa ciri-ciri pandangan dunia yang baik mengandung tiga hal, yaitu :

  1. Pandangan dunia senantiasa berpijak di atas berbagai argumen akal (logika)
  2. Pandangan serta proses penafsirannya harus sesuai dengan fitrah penciptaan alam.
  3. Selain memiliki nilai, pandangan dunia juga mengobarkan semangat, harapan, serta rasa bertanggung jawab.

 Al-Quran seakan ingin mengenalkan pandangan dunia mengemukakan firman ilahi, “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi dan pergiliran malam dan siang terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk ulil al-bab. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring, dan senantiasa berpikir akan penciptaan langit dan bumi, (dan mereka berkesimpulan) Ya Tuhan kami, tiada kebatilan pada ciptaan ini, Maha Suci Engkau, maka jauhkanlah kami dari siksa api neraka.”

Dengan demikian, wahyu dan akal senantiasa selaras dan tidak bertentangan dan akan menjadi kekuatan tiada banding jika dipotensikan dengan baik. Karena wahyu ditujukan untuk manusia maka seluruh potensi manusia mampu untuk memahaminya, yang salah satunya adalah akal. Sebab mustahil Allah swt berbuat yang menyalahi akal manusia. Contoh terbaik penyatuan wahyu dan akal adalah dalam diri nabi dan rasul, berarti ajarannya adalah sesuai dengan wahyu dan akal. Wallahu a’lam. (cr/liputanislam.com).

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Kajian Islam

Hakekat Dzul Qarnain

By Rachel
Kajian Islam

Citra Buruk Yahudi dalam Al-Quran

By Farid
Kajian Islam

Mendekati Tuhan dengan Menjadi Orang yang Berilmu

By Farid
otong sulaiman
Kajian Islam

Falsafah Kematian: Mengenang Gugurnya Soleimani

By Farid
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account