Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Kajian Islam

Mengenal Sosok Nasaruddin Umar, Imam Besar Masjid Istiqlal

Published 02/02/2016 6 Min Read
Share
6 Min Read
SHARE

nasaruddin-umar1Pada hari Jum’at, 22 Januari 2016, Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin melantik Prof. KH. Nasaruddin Umar sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal masa bakti 2015 – 2020. Dalam seremonial pengukuhan dilaksanakan di Kantor Kementerian Agama, Jl. Thamrin, Menag mengatakan, “Saya percaya bahwa Saudara [Prof Nasaruddin Umar] akan mampu melaksanakan tugas dan pengabdian sebaik-baiknya serta amanah, guna mengembangkan, membangun, memakmurkan Masjid Istiqlal demi bangsa dan negara.

Penunjukan Nasaruddin sebagai Imam Besar Istiqlal sepertinya sangat berkaitan dengan harapan Menag terhadap masjid Istiqlal, yaitu menjadi benteng umat Islam dari pengaruh budaya asing yang bertentangan dengan agama dan ideologi bangsa.

“Masjid ini harus dapat berperan sebagai pusat pembinaan umat dan generasi muda dengan nilai-nilai Islam dan dakwah secara komprehensif. …Atmosfir masjid sebagai pusat ibadah dan kebudayaan Islam dalam memancarkan tauhid, ukhuwah dan kemajuan, kedamaian, keadaban serta rahmatan lil alamin,” tegas Menag.

Nasaruddin sendiri menyampaikan visi-misinya, antara lain pertama, Masjid Istiqlal harus tetap menyimbolkan negara dengan ciri keislaman moderat, bercorak rahmatan lil alamin. Kedua, Masjid Istiqlal dinilainya harus menjadi lambang persatuan dan kesatuan umat Islam, dan sebagai simbol pemersatu umat Islam dari berbagai mahzab. Ketiga, Masjid Istiqlal harus menjadi simbol toleransi antarumat beragama. Hal ini karena ada rumah ibadah agama lain di dekatnya. Dan keempat, Masjid Istiqlal perlu menjadi paru-paru spiritual Indonesia.

Profil KH Nasaruddin Umar

Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar MA lahir di Ujung-Bone (Sulawesi Selatan) pada tanggal 23 Juni 1959 dari ayah bernama Andi Muhammad Umar dan ibu bernama Andi Bunga Tungke. Nasaruddin menikah dengan Dra. Helmi Halimatul Udhma dan memiliki 3 anak yang bernama Andi Nizar Nasaruddin Umar, Andi Rizal Nasaruddin Umar, dan Cantik Najda Nasaruddin Umar.

Pendidikan dasarnya dilalui di SD Negeri di Ujung-Bone, lalu dilanjutkan di Madrasah Ibtida’iyah di Pesantren As’adiyah Sengkang. Kemudian, masih di pesantren yang sama, ia melanjutkan pendidikan guru agama (PGA). Gelar sarjana diraihnya dari Fakultas Syari’ah IAIN Alauddin Ujung Pandang pada tahun1984. Kemudian, ia melanjutkan ke program S2 dan S3 di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia menjadi alumni terbaik S3 IAIN Syarif Hidayatullah tahun 1998 dengan disertasi berjudul“Perspektif Jender Dalam al-Qur’an”.

Nasaruddin pernah mengenyam pendidikan di berbagai negara, antara lain menjadi Visiting Student di Mc Gill University Canada (1993-1994), Visiting Student di Leiden University Belanda (1994-1995), mengikuti Sandwich Program di Paris University Perancis (1995), serta pernah melakukan penelitian kepustakaan di beberapa perguruan tinggi di Kanada, Amerika Serikat, Jepang, Inggris, Belanda, Belgia, Italia, Ankara, Istanbul, Srilanka, Korea Selatan, Saudi Arabia, Mesir, Abu Dhabi, Yordania, Palestina, dan Singapore, Kualalumpur, dan Manila. Pada tahun 2002, ia dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Tafsir pada Fakultas Ushuluddin IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

KH Nasaruddin pernah menjabat berbagai posisi penting, antara lain Wakil Rektor UIN Jakarta, Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama, dan Wakil Menteri Agama. Dia saat ini juga menjabat sebagai Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Selain mengajar di Fakultas Ushuluddin dan beberapa perguruan tinggi lain, Nasaruddin merupakan penulis produktif. Ia rajin menulis artikel media masa, artikel jurnal, dan buku-buku. Di antaranya, berjudul Tasawuf, Gender dan Deradikalisasi Tafsir Agama, Ketika Fiqih Membela Perempuan, dan Tasawuf Modern.

 

Ulama yang Menyejukkan Umat

KH Nasaruddin dikenal sebagai ulama yang giat menyerukan ukhuwah. Beliau juga dengan terus-terang mengkritik kelompok-kelompok radikal dan takfiri melalui pernyataan maupun tulisannya. Misalnya, dalam artikel opini yang dimuat di koran Kompas (1/8/2015), KH Nasaruddin menulis bawah dalam era reformasi saat ini, semua teologi, aliran, dan mazhab bebas untuk hidup di republik ini. Namun perlu diwaspadai agar teologi radikal yang mengancam NKRI tidak berkembang, karena “Tidak mustahil muncul larangan tidak boleh berhormat kepada Bendera Merah Putih, tidak boleh lagi memperingati Hari Kemerdekaan RI, dan tidak boleh ziarah ke makam pahlawan karena dianggap bidah. Tidak boleh menyanyikan lagu kebangsaan dan lagu wajib lainnya, tidak boleh memasang simbol Garuda dan foto pemimpin di ruangan kantor karena dianggap musyrik. Seperti apa wajah NKRI tanpa Aswajah?” tulis Nasaruddin.

 

KH Nasaruddin sangat menekankan pentingnya persatuan umat. (baca: Kunjungan Mantan Wamenag ke Iran Patut Direnungkan). Sebagai Mustasyar PBNU, beliau menegaskan bahwa NU lebih menekankan aspek titik temu, bukan aspek perbedaan. “PBNU merupakan “tempat berteduh” kelompok minoritas karena bagi NU hampir tidak pernah dijumpai kosakata “orang lain”. NU dapat membuktikan universalitas Islam dapat diterapkan tanpa harus menyingkirkan budaya lokal. NU memiliki wawasan multikultural, dalam arti kebijakan sosialnya bukan melindungi tradisi atau budaya setempat, melainkan mengakui manifestasi tradisi dan budaya setempat yang memiliki hak hidup di republik tercinta ini,” demikian tulis KH Nasaruddin Umar. (LiputanIslam.com)

 

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Kajian Islam

Hakekat Dzul Qarnain

By Rachel
Kajian Islam

Citra Buruk Yahudi dalam Al-Quran

By Farid
Kajian Islam

Mendekati Tuhan dengan Menjadi Orang yang Berilmu

By Farid
otong sulaiman
Kajian Islam

Falsafah Kematian: Mengenang Gugurnya Soleimani

By Farid
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account