Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Kajian Islam

Memimpin adalah Menderita

Published 25/08/2017 5 Min Read
Share
5 Min Read
SHARE

Oleh: Dewi Yulia

 

Berita-berita mengenai aksi Pansus Hak Angket KPK, yang dibentuk DPR, yang mengunjungi para koruptor di penjara membuat saya teringat pada kisah seorang pahlawan Indonesia yang memperjuangkan dibentuknya DPR (Dewan Perwakilan Rakyat). Beliau adalah Haji Agus Salim (HAS).

HAS adalah tokoh asal Minang yang dikenal jenius, ahli orasi, dan sangat pandai menulis, kelahiran 1884. Pada tahun 1915, HAS memulai perjuangan melawan penjajah melalui kekuatan penanya, yaitu dengan menjadi redaktur di harian Neratja. Kemudian , ia bahkan mendirikan koran sendiri, bernama Fadjar Asia. HAS juga terjun ke dunia politik dengan bergabung dalam Sarekat Islam. HAS sempat menjadi anggota Volksraad (semacam DPR/MPR) sebagai perwakilan dari Sarekat Islam dan selama itu dia dengan berani mengecam tindakan-tindakan pemerintah Belanda yang menyengsarakan rakyat. Ia juga menuntut kepada pemerintah Belanda agar Indonesia diperbolehkan mendirikan Dewan Perwakilan Rakyat yang sesungguhnya, bukan seperti Volksraad yang hanya sekedar upaya pemerintah Belanda untuk mengetahui opini publik. Dalam DPR yang sesungguhnya, perwakilan rakyat berhak dan bertugas membuat undang-undang yang melindungi kepentingan rakyat, sementara dalam Volksraad, hak itu tidak ada.

Setelah melewati berbagai perjuangan, HAS (dan para pejuang kemerdekaan lainnya) akhirnya berhasil mengantarkan Indonesia menjadi negara merdeka pada 17 Agustus 1945. HAS pun mendapatkan jabatan yang mentereng, antara lain Wakil Menteri Luar Negeri dan  Menteri Luar Negeri, dan mengunjungi berbagai negara sebagai diplomat mewakili Indonesia. Ia bahkan hadir dalam acara pelantikan Ratu Elizabeth II di Inggris.

Namun, siapa sangka bahwa kehidupannya tetap bersahaja, bahkan cenderung miskin? Dikisahkan, untuk memenuhi kebutuhan hidup, HAS rela berjualan minyak tanah, padahal ia pernah menjabat sebagai Menlu dan Duta Besar Indonesia di PBB. Dia tinggal di rumah kontrakan dan menemui diplomat-diplomat Eropa dengan jas yang ada jahitan di sana-sini untuk menutupi kekoyakan. Mengapa ia menjalani hidup demikian? Mengapa tak digunakannya jabatannya untuk mendapatkan rumah yang layak bagi keluarganya?

“Memimpin adalah menderita, bukan menumpuk harta,” demikian kata HAS menjawab pertanyaan itu.

Dalam riwayat Islam, nama Khalifah Umar bin Abdul Aziz sangat dikenal sebagai teladan kesederhanaan. Dia tak menjadikan jabatan sebagai sarana untuk mencari uang. Bahkan uangnya jauh berkurang ketika meninggal dunia.

Abu Ja’far al-Manshur pernah bertanya kepada Abdul Aziz (putra Umar bin Abdul Aziz), ”Berapa kekayaan ayahmu saat mulai menjabat sebagai Khalifah?”

Abdul Aziz menjawab, ”Empat puluh ribu dinar.”

Ja’far bertanya lagi, ”Lalu berapa kekayaan ayahmu saat meninggal dunia?”

“Empat ratus dinar. Itu pun kalau belum berkurang,” kata Abdul Aziz.
Bila kita bandingkan etos kepemimpinan HAS dan Khalifah Umar bin Abdul Aziz dengan para caleg yang stress itu, sungguh bak bumi dan langit. Para caleg itu telah mengeluarkan modal besar untuk kampanye, bayar mahar, dan bayar sana-sini, demi terpilih menjadi anggota DPR. Apa yang mereka harapkan? Sudah tentu ingin balik modal, kalau bisa berlaba besar. Ketika impian tak tercapai, bak orang kalah judi, jiwa mereka terguncang dan masuk rumah sakit jiwa. Sungguh jalan hidup yang sia-sia belaka.

Thaher  bin Husain pernah menulis surat kepada anaknya, Abdullah, yang akan menjadi pemimpin (wali negeri) di Riqqah dan Mesir,  “Shalat itulah yang diutamakan lebih dahulu di dalam memegang pemerintahan. Sebabnya maka itu ayah suruh mengutamakan shalat lantaran Allah telah berfirman, bahwasanya shalat itu adalah pencegah perbuatan yang keji dan yang munkar, sehingga tertolaklah bala kemungkaran dari pekerjaan itu darimu dan rakyatmu. Kemudian itu hendaklah engkau kerjakan sunah Rasulullah dan ikuti contoh-contoh dari salaf yang saleh sesudah Rasul.”

Bagaimanakah sunnah Rasulullah SAW dalam memimpin? Mari kita kenang kisah berikut ini.

Suatu hari, para sahabat mendapati Rasulullah SAW mengikat perutnya dengan kain;  di dalam kain itu ada batu-batu tipis. Para sahabat bertanya, mengapa beliau melakukan hal tersebut. Ternyata Rasulullah melakukannya demi menahan lapar.

Umar bin Khatab r.a. berkata, “Ya Rasulullah! Seandainya saja Engkau memberitahu kami, tentu kami tidak akan tinggal diam.”

Rasulullah menjawab dengan lembut, “Tidak, wahai sahabatku. Aku tahu, apa pun akan engkau korbankan demi diriku. Tetapi, bagaimana aku menghadap Allah nanti, apabila aku sebagai pemimpin menjadi beban bagi umatnya?”

Para sahabat pun terdiam. Rasulullah melanjutkan, “Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah Allah buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini, lebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di akhirat kelak.” (LiputanIslam.com)

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Kajian Islam

Hakekat Dzul Qarnain

By Rachel
Kajian Islam

Citra Buruk Yahudi dalam Al-Quran

By Farid
Kajian Islam

Mendekati Tuhan dengan Menjadi Orang yang Berilmu

By Farid
otong sulaiman
Kajian Islam

Falsafah Kematian: Mengenang Gugurnya Soleimani

By Farid
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account