Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Kajian Islam

Buya Syafii Maarif : Haji, Kolusi, Korupsi dan Doa Si Miskin

Published 04/06/2014 5 Min Read
Share
5 Min Read
SHARE

Oleh : Buya Syafi’i Ma’arif*

Syafii-MaarifTulisan ini tidak akan membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan ONH (Ongkos Naik Haji), perjalanan haji, dan lain-lain. Yang hendak kita sorot adalah masalah yang lebih mendasar, yaitu kaitan haji dengan perilaku moral seseorang yang sudah bertitel haji.

Posisi sebagai haji mabrur adalah dambaan setiap calon jamaah haji yang hendak berangkat ke tanah suci. Tapi hendaklah diingat bahwa haji mabrur itu tidak semata-mata mengejar surga seperti yang berulang-ulang disampaikan, sesuatu yang bersifat eskatologis. Haji mabrur juga harus punya dampak kekinian dan kedisinian.

Seorang yang sudah bertitel haji seharusnya selalu menjadi teladan moral bagi lingkungannya. Posisi ideal inilah yang tidak mudah kita temukan dalam kehidupan kolektif bangsa kita. Sebagian orang yang sudah menunaikan haji tidak mengalami transformasi moral apa-apa. Bahkan setelah haji sikap rakusnya terhadap harta haram semakin bertambah. Seakan-akan dia berfilsafat, “Naik haji tugas agama, sementara korupsi aalah profesi.” Ungkapan ini pernah dilontarkan oleh Prof. Munawir Sjadzali (mantan Menteri Agama Indonesia).

Tentunya jumlah para haji yang terlibat dalam korupsi tidaklah banyak. Tapi data sosiologis kita menunjukkan bahwa di antara koruptor Indonesia ada yang menyandang  titel haji. Bahkan setelah meninggal, masyarakat dibuatnya heboh karena harta hasil korupsinya menjadi rebutan. Fondasi moral yang rapuh merupakan sebab utama mengapa setelah lama kita merdeka, budaya korupsi, penyelewengan, dan yang sebangsa itu, tampaknya belum juga mencapai titik jenuh. Yang terjadi adalah gelombang korupsi semakin marak dan menghebat. Jumlah koruptor non-haji mungkin jauh lebih besar. Petualangan mereka dalam menggerogoti sendi-sendi perekonomian dan keuangan negara dari hari ke hari semakin tidak dapat dikontrol. Sistem hukum kita yang sangat lemah telah dijadikan lahan yang subur untuk melakukan tindak kebiadaban oleh para petualang itu.

Kolusi antara petualang dan birokrat (yang sebagian bertitel haji) telah semakin merunyamkan keadaan, padahal para birokrat itu telah ditatar P4, sebuah penataran yang gagal total memperbaiki kondisi moral bangsa.

Direktur-direktur bank yang terlibat dalam kolusi di atas telah banyak disoroti mass-media. Dan tidak jarang di antara mereka itu telah menunaikan ibadah haji. Seharusnya setelah pulang dari Mekah, seseorang akan menampilkan sosok yang memiliki integritas moral yang tangguh. Katabelece pejabat, siapa pun pejabat itu, tidak boleh meruntuhkan iman seorang direktur bank, apalagi yang sudah haji. Titel haji seharusnya menjadi tameng bagi seseorang untuk tidak berkurang dalam arus kehancuran moral. Uang negara sekian triliun menguap dengan mudah begitu saja berkat kolusi.

Bila negara tidak berani menyatakan perang total terhadap korupsi yang sudah teramat parah ini, boleh jadi seorang rakyat miskin nun jauh di pelosok akan menadahkan tangannya ke atas sambil berdoa :

“Tuhanku! Apakah masanya belum tiba untuk Engkau luluh-lantahkan para petualang ini hingga kami yang miskin ini sebelum menutup mata sempat juga hendaknya menyaksikan tegaknya keadilan-Mu. Doa ini kusampaikan oh Tuhan karena sistem pengadilan dunia tampaknya masih penuh kepura-puraan dalam menangani masalah korupsi yang sudah menjadi kanker masyarakat ini. Tuhanku! Bila palu-godam keadilan-Mu mulai Engkau ayunkan, aku masih percaya bahwa bangsa ini akan segera taubat kepada-Mu. Oh Tuhan, tiada kekuatan lain kecuali Engkau ya Tuhan yang dapat mewujudkan jeritanku ini. Aku orang miskin, tapi aku masih punya kemampuan untuk berdoa kepada-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”

Harapan kita selanjutnya tentu saja agar doa semacam ini akan didengar oleh mereka yang sudah terbiasa berkolusi, dan kemudian kembali ke jalan yang benar sebelum segalanya terlambat. Doa si miskin yang teraniaya akan diperhatikan Tuhan. Dan para haji yang terlanjur berkubang dosa, juga sebelum segalanya terlambat, surutlah kembali ke jalan yang benar. Keadilan Tuhan tidak pandang bulu. Sangat berbeda dengan keadilan dunia yang penuh topeng dan kongkalikong. (hd/liputanislam.com)

 

* Buya Syafi’i Maarif adalah Cendekiawan Muslim Indonesia, Mantan Ketua PP Muhammadiyah, dan Pendiri Maarif Institut. Tulisan di atas diambil dari buku karya beliau, Membumikan Islam, Jakarta : Pustaka Pelajar, 1995, hal. 156-158.

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Kajian Islam

Hakekat Dzul Qarnain

By Rachel
Kajian Islam

Citra Buruk Yahudi dalam Al-Quran

By Farid
Kajian Islam

Mendekati Tuhan dengan Menjadi Orang yang Berilmu

By Farid
otong sulaiman
Kajian Islam

Falsafah Kematian: Mengenang Gugurnya Soleimani

By Farid
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account