Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Kajian Islam

Fanatisme

Published 02/04/2015 4 Min Read
Share
4 Min Read
SHARE

fanatismeTidak jarang orang mencela sikap fanatisme atau siapa yang fanatik. Celaan itu bisa pada tempatnya dan bisa juga tidak, karena fanatisme dalam pengertian bahasa sebagaimana dikemukakan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah: “Keyakinan/kepercayaan yang terlalu kuat terhadap ajaran (politik, agama dan sebagainya)”.

Sifat ini bila menghiasi diri seseorang dalam agama dan keyakinannya dapat dibenarkan bahkan terpuji, tetapi ia menjadi tercela jika sikapnya itu mengundangnya melecehkan orang lain dan merebut hak mereka menganut ajaran, kepercayaan atau pendapat yang dipilihnya.

Umat Islam, walaupun dituntut untuk meyakini ajaran Islam, konsisten dan berpegang teguh dengannya, dengan kata lain harus fanatik terhadap ajaran agamanya, namun dalam saat yang sama Islam memerintahkan untuk menyatakan “Lakum dînukum Wa Liya Dîny” – Buat kamu agamamu dan buat aku agamaku. (Q.S. Al-Kâfirûn [109]: 6).

Bahkan, Rasul saw. diperintahkan oleh Al-Qur’an untuk menyampaikan kepada siapapun yang berbeda kepercayaan bahwa: “…Sesungguhnya kami atau kamu pasti berada di atas  kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. Katakanlah: “Kamu tidak akan ditanyai menyangkut  dosa yang telah kami perbuat dan kami pun tidak akan ditanyai tentang apa yang kamu  perbuat.” (Q.S. Saba’ [34]: 24-25)

Tidak dapat disangkal bahwa setiap penganut agama –termasuk agama Islam– harus meyakini sepenuhnya serta percaya sekukuh mungkin kebenaran anutannya serta kesalahan anutan yang bertentangan dengannya. Namun demikian, hal tersebut tidak menghalangi seorang muslim –dalam konteks interaksi sosial– untuk menyampaikan ketidakmutlakan kebenaran ajaran yang dianutnya  dan menyampaikan juga kemungkinan kebenaran pandangan mitra bicaranya.

Perhatikan redaksi ayat di atas yang menyatakan: “Sesungguhnya kami atau kamu pasti berada di atas  kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata”. Yakni kepercayaan/pandangan kita memang berbeda bahkan bertolak belakang, sehingga pasti salah satu diantara kita ada yang benar dan ada pula yang salah. Mungkin kami, yang benar, mungkin juga Anda, dan mungkin kami yang salah dan mungkin juga Anda.

Fanatisme yang terlarang adalah yang diistilahkan oleh Al-Qur’an Hamîyat Al-Jâhiliyah (Q.S. Al-Fath [48]: 26), yakni semangat menggebu-gebu sehingga kehilangan kontrol dan bersikap picik dan angkuh mempertahankan nilai-nilai yang bertentangan dengan kebenaran dan keadilan.

Fanatisme yang terlarang adalah yang diistilahkan oleh Nabi saw. dengan ‘Ashabîyah atau  Ta’ashshub. Kata ini terambil dari akar kata yang berarti melilit/ mengikat. Dari sini maknanya berkembang sehingga berarti keluarga/kelompok di mana anggotanya terikat satu dengan yang lain. Keterikatan yang menjadikan mereka sepakat dan seia sekata, kendati kesepakatan itu dalam kebatilan. Masing-masing tampil dengan kukuh membela anggotanya kendati mereka salah.

Inilah yang diingatkan Nabi saw. ketika bersabda: “Bukan dari kelompok kita (ummat Islam) siapa yang mengajak kepada sikap Ashabiyah”.Memang dalam masyarakat yang sakit, sikap demikian merupakan fenomena umum. Sedemikian umum sehingga lahir ungkapan “Right or wrong it’s my country“. Ini serupa dengan ungkapan pada masa Jahilah dahulu “Belalah saudaramu baik dia menganiaya maupun teraniaya“.

Pernah suatu ketika, Nabi Muhammad saw. mengucapkan ungkapan itu dalam konteks memberinya makna yang benar. Sahabat-sahabat beliau yang telah memahami ajaran Islam dengan baik berkomentar: “Yang teraniaya memang wajar dibela, tetapi apakah yang menganiaya juga harus dibela?” Nabi saw. menjawab: “Ya, membelanya adalah dengan menghalanginya melakukan penganiayaan.”

Benar atau salah adalah negeri kita, partai kita, keluarga kita, tetapi jika dia salah kita tidak boleh membiarkan kesalahannya berlarut apalagi merestuinya. Kita berkewajiban meluruskan kesalahan itu dan memperbaikinya, kalau tidak mau dinilai agama sebagai seorang yang fanatik buta. Demikian Wa Allah A’lam. ((hd/liputanislam.com)

Sumber http://quraishshihab.com/fanatisme/#more-537

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Kajian Islam

Hakekat Dzul Qarnain

By Rachel
Kajian Islam

Citra Buruk Yahudi dalam Al-Quran

By Farid
Kajian Islam

Mendekati Tuhan dengan Menjadi Orang yang Berilmu

By Farid
otong sulaiman
Kajian Islam

Falsafah Kematian: Mengenang Gugurnya Soleimani

By Farid
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account