Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Kajian Islam

Antara Syahid Muthahari dan Ki Hadjar Dewantara

Published 02/05/2015 7 Min Read
Share
7 Min Read
SHARE

Oleh Ismail Amin

motahhari1-khSetiap tanggal 12 Urdibehest [bulan kedua dalam penanggalan kalender Hijriah Syamsi] di Iran diperingati secara nasional sebagai hari guru. Penetapan hari guru ini untuk mengenang kesyahidan Ayatullah Murtadha Muthahari pada tanggal 12 Urdibehest tahun 1358 HS [bertepatan dengan tanggal 2 Mei 1979] yang terbunuh di tangan kelompok anti Revolusi. Ayatullah Muthahari adalah seorang ulama besar Iran yang bukan hanya mengajar di Hauzah Ilmiah [sejenis pesantren yang khusus untuk mengkaji ilmu-ilmu agama] namun juga mengajar di Universitas-universitas ternama di Teheran.

Beliau diantara sedikit ulama saat itu yang bisa memadukan ilmu-ilmu hauzah dengan ilmu-ilmu pengetahuan modern yang diajarkannya di Universitas. Karya-karyanya sangat beragam yang meliputi banyak bidang, baik teologi, tasawuf, filsafat, logika, fiqh, politik, pendidikan, akhlak dan ilmu-ilmu sosial, yang kesemuanya mendapat sambutan luas masyarakat, bahkan sampai sekarang masih terus dicetak ulang tanpa kehilangan aktualitasnya.

Pada tahun 1934, dalam usia 36 tahun, ia mengajar logika, filsafat, dan fiqh di Fakultas Teologia, Universitas Teheran. Ia juga menjabat sebagai Ketua Jurusan Filsafat. Keluasan ilmunya tampak pada nama-nama kuliah yang diasuhnya: kuliah fiqh, kuliah Al-Ushul, kuliah Ilmu Kalam, kuliah Al-Irfan (Tasawuf), kuliah logika, dan kuliah Filsafat.

Kecemerlangan otak dan keluasan ilmunya, serta jabatan-jabatan penting yang dipegangnya semestinya dapat memberikan kehidupan yang nyaman dan mapan untuknya. Namun Ayatullah Muthahari malah memilih badai daripada damai. Sebagai ulama dan muballigh Islam, ia aktif berdakwah. Tidak jarang, khutbahnya di radio-radio Tehran memerahkan telinga rezim Syah saat itu. Sebagai murid Ayatullah Khomenei, ia juga terlibat dalam pergerakan politik untuk menjatuhkan rezim Syah Pahlevi.

Pada tahun 1963 ia ditahan bersama Imam Khomeini. Saat sang guru diasingkan ke Turki, ia yang menggerakkan para ulama mujahidin untuk terus melakukan penentangan terhadap kezaliman rezim Pahlevi. Masjid Al-Jawad yang ia menjadi imam masjidnya, tidak hanya dijadikannya sebagai tempat ibadah an-sich, namun juga menjadi pusat gerakan politik Islam. Dianggap mengganggu stabilitas Negara, pada tahun 1972 Masjid Al-Jawad dilarang secara politik oleh rezim Syah dan kembali Ayatullah Muthahhari dijebloskan ke Penjara. Berkali-kali dipenjara, tidak mengubah pendirian dan arah perjuangannya. Setelah bebas, ia kembali melanjutkan aktivitas politiknya. Pada akhirnya tahun 1978, rezim Syah melarang total semua kuliah dan khutbahnya.

Keaktifannya di berbagai organisasi politik seperti Husyainiya-yi Irsyad dan Jami’ayi Ruhaniyat-i Mubariz membuatnya diangkat sebagai ketua Dewan Revolusi Islam oleh Imam Khomeini yang saat itu masih berada dalam pengasingannya di Paris, pada tanggal 12 Januari 1979. Revolusi Islam Iran meledak tanggal 11 Februari 1979 dibawah pimpinan Imam Khomeini, dan Ayatullah Muthahari tetap memegang jabatannya sebagai ketua Dewan Revolusi Islam pasca Republik Islam Iran berdiri.

Hanya peluru yang kemudian berhasil menghentikan aktivitasnya. Tanggal 1 Mei 1979, Ia dibunuh oleh kelompok Furqan yang anti Revolusi. Sepulang dari memimpin rapat Dewan Revolusi Islam,  ia diterjang sebuah peluru yang menembus bagian atas kelompak matanya dan bersarang dikepalanya. Pada keesokan harinya 2 Mei 1979, masyarakat Iran membanjiri upacara pemakamannya di areal Haram Sayyidah Maksumah di kota Qom. Mereka berdatangan dengan berpakaian serba hitam sembari membawa setangkai bunga yang kemudian menumpuk di atas pusaranya. Sekolah-sekolah, hauzah, universitas dan lembaga-lembaga penelitian diseluruh penjuru Iran pada hari itu diliburkan, semuanya larut dalam kedukaan atas wafatnya sang guru bangsa.

Hari itu juga oleh Imam Khomeini, 12 Urdibehest atau tepatnya 2 Mei ditetapkan sebagai hari guru nasional. Ayatullah Syahid Muthahari mewakili sosok guru yang sejati, ia belajar, mengajar dan berjuang sampai mencapai kesyahidan.

Selanjutnya, di Iran setiap hari guru tiba, murid-murid sekolah hari itu membawa setangkai bunga atau kado untuk diberikan kepada guru-gurunya. Guru sangat dimuliakan dan diistimewakan di Iran. Bahkan menjadi profesi yang favorit. Rakyat Iran memandang tanpa peran guru, generasi muda bangsa tidak akan mendapat pendidikan yang memadai untuk melanjutkan estafet pembangunan bangsa. Imam Khomeini rahimahullah berkata, peran guru tidak ubahnya peran para Anbiyah As.

Menariknya pada hari yang sama yaitu 2 Mei, di Indonesia diperingati Hari Pendidikan Nasional. Kalau di Iran, untuk mengenang jasa besar Ayatullah Syahid Muthahari pada dunia pendidikan Iran dengan menjadikan hari kesyahidannya sebagai hari guru, di Indonesia hari kelahiran tokoh pendidikan Ki Hadjar Dewantara ditetapkan oleh Pemerintah sebagai hari Pendidikan Nasional.

Sama halnya Ayatullah Muthahari, Ki Hadjar Dewantara, yang dari kalangan priyayi dan keluarga kaya [dengan nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat] memilih meninggalkan kehidupan mapannya untuk memperjuangkan nasib bangsanya. Karena kekritisan dan kecamannya terhadap kolonialisme Belanda, ia diasingkan ke Belanda. Ia juga dikenal sebagai penulis handal, tulisan-tulisannya tersebar di Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara.

ki-hajarTidak ubahnya Ayatullah Muthahari bagi rakyat Iran, Ki Hadjar Dewantara mampu membangkitkan semangat anti kolonial rakyatnya melalui tulisan-tulisan dan orasi-orasinya yang patriotik.  Jika Ayatullah Muthahari bersama Ali Syariati dan tokoh-tokoh intelektual Islam Iran lainnya mendirikan Husyainiya-yi Irsyad untuk membangkitkan semangat rakyat Iran dalam menghadapi kezaliman rezim Syah saat itu, Ki Hadjar Dewantara  bersama Douwes Dekker (Dr. Danudirdja Setyabudhi) dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo, mendirikan Indische Partij (partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia) pada tanggal 25 Desember 1912 yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka.

Kalau Ayatullah Muthahari dijebloskan ke penjara karena menentang perayaan mewah memperingati 2500 imperium Persia ditengah-tengah kemiskinan dan kemelaran rakyat Iran, Ki Hajar Dewantara harus mengalami pembuangan ke pulang Bangka  karena memprotes perayaan seratus tahun bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Prancis dengan menarik uang dari rakyat jajahannya untuk membiayai pesta perayaan tersebut.

Kedua  tokoh ini terus dikenang oleh bangsanya karena pengorbanan, perjuangan dan jasa-jasanya yang besar bagi rakyat dan masa depan bangsanya. Keduanya dikenang karena semangat altruisme yang mereka miliki, semangat untuk berguna bagi sebanyak-banyaknya orang, meskipun itu harus meninggalkan kenyamanan sendiri. Sama halnya di Iran, sudah semestinya di Indonesia guru dihargai dan dihormati, lebih dari apa yang telah mereka dapatkan selama ini. (hd/liputanislam)

*sumber diambil dari FB Ismail Amin, https://www.facebook.com/notes/10155481798455494/?pnref=story

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Kajian Islam

Hakekat Dzul Qarnain

By Rachel
Kajian Islam

Citra Buruk Yahudi dalam Al-Quran

By Farid
Kajian Islam

Mendekati Tuhan dengan Menjadi Orang yang Berilmu

By Farid
otong sulaiman
Kajian Islam

Falsafah Kematian: Mengenang Gugurnya Soleimani

By Farid
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account