Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Kajian Islam

Amanat Wakil Rakyat Bukan Wakil Partai

Published 03/10/2014 4 Min Read
Share
4 Min Read
SHARE

Oleh : Nur el-Fikri

suasana ricuh sidang DPR (foto; Kompas)
suasana ricuh sidang DPR (foto; Kompas)

Rabu (01/10/14), sebanyak 560 anggota DPR RI dilantik untuk masa jabatan 2014-2019. Dengan pelantikan ini resmilah mereka bekerja sebagai wakil rakyat. Ingat! wakil rakyat, bukan wakil partai. Artinya, meskipun mereka dicalonkan oleh partai, tetapi mereka dipilih oleh rakyat, karenanya setelah resmi menjadi  aggota DPR, maka mereka resmi pula untuk menjadi juru bicara rakyat, yang mendahulukan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi, kelompok dan partainya. Sebab, selama lima tahun ke depan mereka akan digaji oleh uang rakyat, bukan uang partai.

Hal ini penting diperhatikan, karena tak bisa dinafikan bahwa krisis kepercayaan melanda kita dalam setiap pergantian anggota legislatif ini. Bayangkan, sejak jajaran anggota DPR RI, hingga DPRD Provinsi dan Kabupaten, cukup banyak para wakil rakyat mengkhianati amanat rakyat. Bahkan terdapat aggota DPR terpilih yang telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), bahkan ketua DPR RI yang baru terpilih di sinyalir memiliki potensi terlibat beberapa masalah hukum.

Begitu pula, sidang perdana anggota DPR yang kita saksikan mempertontonkan jati diri mereka yang lebih mementingkan syahwat kekuasaan, dari pada nalar kebijaksanaan. Amanat rakyat seolah tak lagi melekat pada jiwa dan hati mereka. Yang ada adalah kepentingan kelompoknya (koalisinya) masing-masing. Bahkan ruang sidang tak lebih hanyalah tempat bermain mereka untuk melepaskan syahwat kekuasaan terseut. Hal ini mengingatkan kita kembali  pada peryataan Almarhum Gus Dur, bahwa DPR tak lebih dari kumpulan siswa Taman Kanak-Kanak, bahkan Play Group.

Sebagai anggota DPR, mereka merupakan elit negara, yang menjadi penentu arah maju-mundurnya negara ini, semestinya menjadi tuntunan uswatun hasanah (teladan kebaikan), bukan malah menjadi tontonan dengan sikap-sikap mereka yang memalukan. Itulah mengapa agama mengajarkan untuk memperbaiki diri sebelum memperbaiki orang lain. Ali bi Abi Thalib perah berkata : “Barangsiapa yang menempatkan dirinya sebagai pemimpin manusia, maka dia harus mendidik dirinya sebelum mendidik orang lain; dan menjadikan pelajaran melalui tingkah lakunya lebih dahulu sebelum mengajar dengan lidahnya. Orang yang mampu mendidik dan melatih dirinya lebih berhak dihormati daripada orang yang mendidik dan melatih orang lain.”

Harus disadari, anggota legislatif itu, dianugerahi jabatan politis yang sangat strategis dalam mengelola kehidupan masyarakat dalam berbagai aspeknya. Karenanya, menjadi wakil rakyat itu tidaklah cukup hanya dengan memiliki ilmu pengetahuan tetapi yang jauh lebih penting adalah integritas pribadi. Sebab kondisi di ranah kekuasaan politis adalah kondisi di mana hawa nafsu dan kepentingan pribadi selalu menyelimutinya. Karena itu Ahmad Syauqi Beik pernah berkata mengingatkan para pengemban kekuasaan, “tegak dan kukuhnya bangsa hanyalah mungkin dengan budi pekerti dan moralitas. Jika mereka tak lagi berbudi pekerti, tunggu saja kehancurannya”.

Jadi, dalam dunia politis, yang mana manusia merupakan makhluk terbaik hasil kreasi Tuhan, dijadikan sebagai pengemban amanah untuk memakmurkan jagat raya. Kemakmuran hanya didapatkan dengan sistem amanah bukan kekuasaan. Amanah ini didasarkan pada kepercayaan dan tanggung jawab, sedangkan kekuasaan diazaskan dengan kepemilikan dan kebebasan. Karenanya, pengelolaan negara dengan amanah akan menghasilkan pemeliharaan yang sesuai dengan karakteristik kepentingan rakyat, sedangkan pengelolaan berdasarkan kekuasaan dan kepemilikan hanya akan memberlakukan rakyat sesuai dengan keinginan dan kesenangan. Sebab itu, politik yang amanah akan menjadikan kekuasaan sebagai sarana menuju kemaslahatan negara termasuk mengantarkan masyarakat pada kesejahteraannya.

Untuk mewujudkan itu semua, kita membutuhkan sekelompok orang yang memahami kebutuhan masyarakatnya dan memiliki empati atas penderitaan rakyat. Kita tidak butuh wakil rakyat yang berprinsip ABS (Asal Bapak Senang) atau APS (Asal Partai Senang), yang kita butuhkan wakil rakyat yang berprinsip ARS (Asal Rakyat Senang). Itulah sejatinya wakil rakyat, bukan wakil  partai. Semoga! (hd/liputanislam.com)

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Kajian Islam

Hakekat Dzul Qarnain

By Rachel
Kajian Islam

Citra Buruk Yahudi dalam Al-Quran

By Farid
Kajian Islam

Mendekati Tuhan dengan Menjadi Orang yang Berilmu

By Farid
otong sulaiman
Kajian Islam

Falsafah Kematian: Mengenang Gugurnya Soleimani

By Farid
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account