Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Kajian Islam

Amanah Terakhir Sang Syuhada : Biografi Abdul Aziz al-Rantissi

Published 03/03/2015 6 Min Read
Share
6 Min Read
SHARE

al-RantissiHamas tidak bisa lepas dari peran penting Abdel Aziz Ali Abdul Majid al-Rantissi. Ia adalah salah satu pendiri Hamas. Rantisi menjadi pemimpin politik Hamas dan juru bicara di Jalur Gaza menyusul pembunuhan terhadap Syeikh Ahmad Yassin oleh Israel pada 22 Maret 2004. Seperti anggota Hamas lainnya, Rantisi menentang kompromi dengn Israel dan menyerukan pembentukan negara Palestina dan perlawanan militer terhadap Israel.

Al-Rantissi lahir pada 23 Oktober 1947 di desa Bina, antara Askalan dan Yafa, dekat Jaffa. Sejak kecil ia tinggal di sana. Namun, karena terjadi perang Arab-Israel pada 1948, keluarganya mengungsi ke Jalur Gaza. Pada 1956, ketika ia berusia sembilan tahun, tentara Israel membunuh pamannya di Younis Khan. Pembunuhan tragis ini begitu mewarnai hidupnya, yang membuatnya mulai mengerti kebiadaban Zionis Israel dan kelak ditentangnya dengan segenap jiwa dan raganya.

Pada usia enam tahun, al-Rantissi masuk bangku sekolah yang dikelola oleh lembaga bantuan untuk para pengungsi Palestina milik PPBB (UNRWA). Namun dalam proses pembelajarannya, hambatan pun menghadang. Kondisi ekonomi keluarga yang sulit, memaksanya harus bekerja pada umur enam tahun. Namun, ia tetap bisa menyelesaikan sekolahnya.

Setelah itu, ia masuk pendidikan tinggi, dan hijrah ke Mesir, tepatnya di Universitas Alexandria. Di Universitas ini, Rantissi belajar kedokteran pediatrik dan genetika. Ia termasuk salah satu mahasiswa berprestasi dan lulus pertama di kelasnya. Pada tahun 1972, ia berhasil menyelesaikan sarjananya dengan peringkat memuaskan.

Setelah selesai pendidikannya dan mempunyai sertifikat dokter, ia kembali ke jalur Gaza. Namun, dua tahun kemudian, ia kembali lagi ke Alexandria untuk menyelesaikan program master di bidang kedokteran anak.

Pada tahun 1976, ia kembali ke Gaza. al-Rantissi menduduki beberapa posisi dalam organisasi kemasyarakatan, di antaranya anggota Dewan Majma’ Islami, organisasi kedokteran di Jalur Gaza, dan anggota Bulan Sabit Merah Palestina. Dalam bidang akademis, ia menjabat sebagai dosen sekaligus dekan di Universitas Islam Gaza pada tahun 1987. Rantissi menikah dengan Rasha al-Adloni, dan dikarunia enam orang anak.

al-Rantissi menyaksikan berbagai ketidakadilan dan penindasan yang dilakukan Zionis Israel. Untuk itu, bersama Syaikh Ahmad Yasin, ia mendirikan organisasi gerakan perlawanan Islam, Hamas, pada 1987.

Perjuangannya menentang Israel harus ditebusnya dengan keluar-masuk penjara. Di mulai pada 4 maret 1988, Zionis menangkap dan menjebloskannya ke penjara selama dua setengah tahun sampai 4 september 1990. Namun, baru tiga bulan menghirup udara bebas, ia ditangkap kembali pada desember 1990 dan dipenjara selama setahun. Selanjutnya, pada 17 Desember 1992, ia dan 400 orang lainnya dari pejuang Hamas dan Jihad Islam dideportasi ke Libanon Selatan. Saat itu, ia tampil sebagai juru bicara resmi deportan dan melakukan demonstrasi menuntut pengembalian mereka ke Palestina. Akhirnya tuntutan mereka dipenuhi.

Namun, tak lama berselang, ia kembali ditangkap oleh Israel. Melalui sidang pengadilan Israel, al-Rantissi di vonis penjara sampai tahun 1997. Setelah keluar dari penjara, seperti tak kenal jera, ia kembali melakukan perlawanan terhadap Israel. Tidak lama berselang, pada Oktober 1997, Syaikh Ahmad Yassin juga kembali ke Jalur Gaza. Untuk konsolidasi pergerakan pasca wafatnya Salah Shehade dan Ibrahim Macadma, al-Rantissi menjadi tangan kanan Syaikh Ahmad Yasin. Ia banyak berperan dalam memimpin, menginstruksikan, dan menetapkan kebijakan termasuk aksi-aksi penyerangan.

Sikap perjuangan ini terus berlanjut. Pada 6 Juni 2003, Rantissi berdiskusi dengan Perdana Menteri Palestina Mahmud Abbas, di mana Abbas menyatakan untuk melakukan penghentian perlawanan bersenjata. Namun, secara tegas al-Rantissi menolaknya dan perlawanan terhadap Israel harus dilakukan terus. Sebagai balasannya, empat hari pasca pertemuan itu, Israel berusaha membunuhnya dengan melakukan penyerangan terhadap mobil yang dikendarainya. Tetapi, ia lolos dari maut.

Sejak saat itu, ia menjadi target Israel untuk dilenyapkan, sehingga ia harus menghabiskan waktunya dalam persembunyian. Tetapi, semangat juangnya yang tidak padam, membuatnya harus keluar dari persembunyiannya, dan memutuskan melakukan penyerangan langsung dan terang-terangan kepada Israel. Namun, ketika ia keluar dari persembunyiannya itu dan menuju Gaza, di tengah perjalanan bersama tiga orang rekannya, ia diserang dari udara dan menghantam mobil yang dikendarainya. Ia pun syahid pada 17 April 2004. Hal ini sesuai dengan keinginannya. Dalam suatu kesempatan, ia berkata, “Kematian, apakah dengan pembunuhan atau kanker, itu sama saja. Tiada yang akan mengubah jika itu ialah Apache (helikopter tempur) atau perhentian jantung. Tetapi, aku lebih suka terbunuh dengan Apache,”

Suatu kisah menarik diakhir hidupnya adalah sedekah terakhir yang diberikannya. Sehari sebelum syahidnya, al-Rantissi mengambil semua uang tabungan gajinya selama mengajar di Universitas Islam Gaza. Dengan uang itu ia membayar semua hutangnya dan memberikan bantuan untuk pernikahan anaknya, Ahmad. Setelah itu ia berkata, ‘Sekarang, jika aku menemui Tuhanku, maka aku dalam keadaan bersih, tidak memiliki apa-apa dan tidak ada tanggungan apa-apa’.

Tidak hanya itu, Syaikh Abu Bakar al-Awawidah, anggota Rabithah Ulama Palestina di Syria, mengisahkan, bahwa saat-saat terakhir dalam kehidupannya setelah dihantam roket Israel, ketika badannya dipenuhi darah, al-Rantissi menunjuk-nunjuk ke arah kantong bajunya, tetapi pengawalnya tak mengerti maksudnya. Pengawal itu pun memasukkan tangannya ke kantong baju al-Rantissi tersebut, maka didapatlah beberapa lembar uang. Dengan kondisi tubuh yang lemah, al-Rantissi berkata, “Berikan uang tersebut kepada si Fulan.” Rupanya, Allah berkehendak ia meninggalkan dunia tanpa beban dan tanggungjawab apapun, serta menunaikan amanah untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya. Semoga kita semua bisa meneladaninya. (hd/liputanuslam.com)

*Sumber, Buku “Hamas : Death or Freedom karya Wahid Prabowo, 2013.

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry1
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Kajian Islam

Hakekat Dzul Qarnain

By Rachel
Kajian Islam

Citra Buruk Yahudi dalam Al-Quran

By Farid
Kajian Islam

Mendekati Tuhan dengan Menjadi Orang yang Berilmu

By Farid
otong sulaiman
Kajian Islam

Falsafah Kematian: Mengenang Gugurnya Soleimani

By Farid
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account