Sayid Nasrallah: Nabi Dihujat Saudi Bungkam, Perang Yaman Dikecam Malah Geram

0
337

Beirut, LiputanIslam.com –  Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah dalam sebuah pidatonya, Kamis (11/11), menyatakan bahwa Arab Saudi menghendaki perang saudara di Lebanon, tapi sekutunya tak sanggup memerangi Hizbullah, dan bahwa kunjungan Menlu Uni Emirat Arab (UEA) Abdullah bin Zayed ke Damaskus tak ubahnya dengan pengakuan atas kemenangan Presiden Suriah Bashar Al-Assad atas oposisi bersenjata yang didanai oleh negara-negara Arab Teluk Persia.

Sekjen Hizbullah juga menegaskan bahwa AS tak dapat berdominasi sepenuhnya di Lebanon adalah berkat perjuangan para syuhada.

“Sampai sekarang kami belum dapat membebaskan Lebanon dari pengaruh dan hegemoni AS, Lebanon belum keluar dari pengaruh AS, tapi tak ada hegemoni mutlak. Kami telah mencegah hegemoni AS atas Lebanon yang sudah dapat berdiri di atas kaki sendiri dengan melakukan kehendaknya… Lebanon sudah sekian tahun mendapat tekanan, yang berlipat ganda di masa pemerintahan Trump, tapi Lebanon dapat menghadapinya berkat prestasi para syuhada,” papar Sayid Nasrallah.

Dia menekankan keharusan menolak dikte asing, karena “negara yang menerima dikte ini (pastilah) berdusta ihwal kedaulatan”.

Mengenai krisis hubungan Lebanon-Arab Saudi belakangan ini, Sekjen Hizbullah menyebut Saudi sengaja mencari-cari alasan untuk membangkitkan krisis dan eskalasi dengan cara menunjukkan reaksi yang amat dan sangat berlebihan dalam bereaksi terhadap pernyataan Menteri Informasi Lebanon George Kordahi tentang Perang Yaman.

“Reaksi Saudi terhadap pernyataan Menteri Kordahi sangat, sangat dan amat berlebihan. Ada para pejabat AS dan diplomat Arab yang bahkan menyebut perang terhadap Yaman dengan ungkapan yang lebih tajam daripada pernyataan Kordahi… Ada negara-negara yang menghujat Rasulullah dan melindungi para penghujat itu tapi Saudi sama sekali tak berbuat apapun terhadap mereka… Saudi menampilkan dirinya sebagai sahabat bagi sebagian besar bangsa Lebanon, tapi apakah patut  sahabat berperangai demikian?”  cecar Nasrallah.

Dia melanjutkan, “Suriah yang kami sebut sahabat bagi Lebanon sama sekali tak bertindak apapun terhadap Lebanon meskipun negara kami ini mencelanya selama 16 tahun. Suriah tak mencegah masuknya gas dan listrik ke Lebanon meski mendapat serangan, hujatan dan agresi… Iran juga terus melanjutkan kesiapannya membantu tanpa berharap pamrih dari siapapun meski juga mendapat serangan dan hujatan. Lantas apakah patut sahabat berperilaku demikian terhadap sebuah negara hanya lantas bermasalah dengan seorang menteri?”

Menanggapi desakan supaya Kordahi mundur, Sayid Nasrallah menegaskan dan menyoal, “Kami menolak pemecatan atau pengunduran diri Menteri Informasi Lebanon. Apakah pengunduran diri atau pemecatan mencerminkan negara berdaulat dan bermartabat? Apakah persoalan akan selesai dengan adanya Saudi? Tuntutan dan persyaratan Saudi tak akan berakhir di Lebanon, dan apakah kemaslahatan nasional terletak ketundukan dan terhinaan? Salah satu kemungkinan dari krisis ini ialah bahwa Arab Saudi mencari-cari alasan untuk membuat krisis dengan Lebanon.”

Sayid Nasrallah menyebutkan, “Kami tahu peran dan agitasi Saudi dalam Perang Juli (Hizbullah vs Israel  tahun 2006) agar perang ini berkelanjutan. Saudi juga ingin para sekutunya di Lebanon terlibat perang saudara dengan Hizbullah demi melayani Israel dan AS….  Saudi tak memberi bantuan apapun selama bertahun-tahun, karena menghendaki perang saudara, tapi di Lebanon ada dua tipe orang; satu tak menginginkan perang saudara, dan yang lain tak berkemampuan memasuki perang demikian.”

Sekjen Hizbullah juga berbicara tentang Israel dengan menyebut negara Zionis ilegal itu sekarang sedang cemas setelah dulu pernah menyebut Arab Springs sebagai lingkungan yang kondusif baginya.

“Latihan-latihan militer Israel berulang kali di wilayah utara Palestina pendudukan merefleksikan kecemasan Israel terhadap Lebanon. Latihan-latihan itu mencerminkan ketakutan Israel terhadap serbuan Lebanon ke permukiman di Al-Jalil (Galilee), dan mencerminkan pula kekhawatiran bahwa kubu resistensi (Hizbullah) akan masuk ke Al-Jalil,” ungkapnya.

Sayid Nasrallah menegaskan bahwa Israel tahu persis besarnya kekuatan militer dan strategi Hizbullah dan para sekutunya, dan bahwa “jika kubu resistensi masuk ke Palestina (Israel) utara dan Al-Jalil maka dampaknya sangat besar bagi entitas rezim pendudukan.” (mm/raialyoum)

Baca juga:

10 Fakta di Balik Kunjungan Resmi Menlu UEA ke Suriah

Petinggi Militer Israel: Teheran hanya Bisa Dihadapi Washington, Bukan Tel Aviv

Perwira UEA Hina Saudi, Bin Zayed Menolak Pengambilan Tindakan terhadapnya

 

DISKUSI: