10 Fakta di Balik Kunjungan Resmi Menlu UEA ke Suriah

0
1211

LiputanIslam.com –  Sambutan meriah yang diterima Menlu Uni Emirat Arab (UEA) Abdullah Bin Zayed saat berkunjung ke Damaskus, ibu kota Suriah, untuk pertama kalinya selama Suriah dilanda krisis sejak sekira 10 tahun silam, dan pertemuannya dengan Presiden Suriah Bashar Al-Assad di Istana Al-Shaab memperlihatkan setidaknya 10 fakta sebagai berikut;

Pertama, pemimpin Suriah selama ini mengutamakan dan lebih berfokus pada kondisi dalam negeri ketimbang situasi luar negeri, termasuk kebijakan politik dunia Arab. Dengan kata lain, pemerintah Suriah menjadi lebih pragmatis, dan apa yang menjadi kepeduliannya sekarang ialah pemecahan blokade AS, upaya mendatangkan investasi untuk mengatasi krisis ekonomi, dan memperbaiki kesejahteraan hidup warganya.

Kedua, pemerintah Suriah sedang menjalani perjuangan rekonstruksi secara bertahap tanpa menutup diri di depan negara manapun yang bersedia berpartisipasi, kecuali Israel. Dan inilah sebab mengapa Suriah juga menyambut kedatangan delegasi Arab Saudi yang dipimpin oleh Jenderal Khalid Al-Humaidan, kepada intelijen Saudi, ke Damaskus. Al-Humaidan disambut di Istana Kepresidenan Suriah, dan Al-Assad kemudian segera mengadakan kontak telefon dengan Putra Mahkota Abu Dhabi Mohammad bin Zayed,  serta mempererat hubungan dengan Oman.

Ketiga, pemerintah UEA yang telah bertindak ceroboh meneken Perjanjian Abraham untuk normalisasi hubungan dengan Israel bermaksud menebus kesalahannya ini dengan satu dan lain cara, termasuk dengan membuka diri terhadap Suriah, negara yang tetap solid menggenggam bara pan-Arabisme dan pantang menerima segala bentuk perdamaian yang tak beraraskan ketentuan internasional dan hak sah bangsa Palestina serta penarikan pasukan Zionis dari semua wilayah pendudukan, terutama Dataran Tinggi Golan. UEA bisa jadi bermaksud menciptakan sebentuk keseimbangan diplomatik dan meringankan bebannya dalam normalisasi hubungan dengan Israel, keputusan yang menuai banyak kecaman di media sosial, yang sebagian besarnya bahkan  menganggap UEA sebagai pengkhianat.

Keempat, isolasi terhadap Suriah sudah terdobrak dan pecah. Desakan agar Suriah kembali ke Liga Arab kini bahkan datang lebih besar dari dunia Arab ketimbang Suriah sendiri. Hal ini terjadi terutama setelah konspirasi AS yang didukung oleh sejumlah rezim Arab gagal menggulingkan pemerintahan Al-Assad, dan Tentara Arab Suriah (SAA) pun tetap resisten dan bahkan bertekad untuk membebaskan wilayah Suriah yang masih belum mereka kuasai. Sejumlah negara Barat dan Arab juga sudah mengabaikan oposisi bersenjata Suriah, apa yang disebut “Sahabat Suriah” sudah berantakan, dan kran bantuan dana dan senjata kepada kubu oposisi sudah tak lagi mengucur.

Kelima, sebagian besar negara Arab Teluk Persia, termasuk UEA, yang sejak awal krisis Suriah terlibat dalam proyek penggulingan pemerintahan Al-Assad kini sudah menyadari bahwa hubungan antara Damaskus dan Teheran merupakan garis merah pemerintah Suriah yang tak boleh diusik oleh pihak manapun, Arab maupun non-Arab, betapun besarnya tekanan militer maupun iming-iming konsesi finansial.  Betapa tidak, seandainya para pemimpin Suriah sejak awal bersedia menjauh di Iran maka perang Suriah yang berkobar sejak 10 tahun silam tidak akan terjadi.

Keenam, meningkatnya frekuensi laporan politik dan militer yang mengukuhkan kekandasan proyek AS di Timur Tengah dan sekitarnya, mulai dari Afghanistan hingga Irak dan Suriah, sehingga Washington bahkan sudah mendekati titik penarikan pasukan AS dari Irak dan Suriah. Para komandan militer AS di Timteng bahkan telah menarik lebih dari 250 unit perlengkapan militer beratnya dari bagian timur laut Suriah ke pangkalan-pangkalan militernya di Irak.

Ketujuh, ekspresi kemarahan pemerintah AS atas kunjungan Bin Zayed ke Damaskus hanyalah sandiwara belaka, sebab Washington tahu persis UU Caesar yang mereka terapkan untuk memblokade Suriah sudah ambruk total, dan karena itu AS membiarkan organisasi internasional sepenting Interpol membuka kembali kantornya di Damaskus dan menjalin koordinasi dengan pemerintah Suriah sehingga menjadi sebentuk pengakuan terbuka atas keabsahan pemerintahan Bashar Al-Assad.

Kedelapan, Bin Zayed menyerahkan kepada Al-Assad undangan resmi dari Mohamed bin Zayed yang juga penguasa de facto Abu Dhabi, untuk berkunjung ke ibu kota UEA ini. Undangan ini tak mungkin diberikan tanpa persetujuan AS dan restu semua ataupun sebagian negara anggota Dewan Kerjasama Teluk (GCC).

Kesembilan, Presiden Aljazair Abdelmadjid Tebboune mengkonfirmasi bahwa Suriah akan kembali menempati kursi keanggotannya di Liga Arab dan akan mengikuti Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Liga Arab yang rencananya akan diselenggarakan di Aljazair pada bulan Maret 2022. Pemimpin Mesir juga menyambut baik kembalinya Suriah ke Liga Arab, sebagaimana dikonfirmasi oleh Menlu Mesir Sameh Shoukry dalam pertemuan dengan sejawatnya dari Suriah, Faesal Mekdad, di sela-sela sidang Majelis Umum PBB September lalu. UEA pun lantas berjanji menyokong langkah itu.

Kesepuluh, Rusia memberikan dukungan kuat kepada kembalinya Suriah yang notabene sekutunya ke Liga Arab dan pemulihan posisi Damaskus dalam kerja kolektif Arab. Sumber-sumber diplomatik Arab di Moskow mengkonfirmasi bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin dan Menlunya, Sergey Lavrov, menggaris bawahi masalah ini dalam setiap pertemuan keduanya dengan para delegasi Arab yang berkunjung ke Moskow.

Pertanyaan yang kini melejit dengan sendirinya menyusul 10 fakta tersebut bukan ihwal bahwa Assad telah menerima undangan resmi untuk berkunjung ke Abu Dhabi, sebab masalah ini sudah terselesaikan, melainkan kapan Al-Assad akan memenuhi undangan ini, sebelum atau sesudah KTT Liga Arab mendatang? Dan bagaimana jaminan akan keamanan Al-Assad yang banyak musuh dalam kunjungannya nanti?

Pertanyaan berikutnya yang tak kalah pentingnya ialah siapa saja menlu Arab yang akan menyusul datang berkunjung ke Damaskus setelah Menlu UEA? Menlu Mesir, Bahrain, atau Saudi? Cepat atau lambat pertanyaan ini akan terjawab, dan hampir pasti bahwa tahun 2022 adalah tahun safari para pejabat Arab ke Damaskus. (mm/raialyoum)

Baca juga:

Perwira UEA Hina Saudi, Bin Zayed Menolak Pengambilan Tindakan terhadapnya

Video:] Pertahanan Udara Suriah Tangkis Serangan Israel

DISKUSI: