Ketika AS Menggali Liang Kuburnya Sendiri di Irak

0
142

LiputanIslam.com – 17 tahun setelah rezim diktator Saddam Hossein terguling, sekian lama setelah 4000 tentara AS tewas dan 33,000 lainnya terluka, dan setelah sebanyak 7 triliun Dolar dihamburkan AS, kini negara yang disebut-sebut sebagai adidaya ini kembali ke posisinya semula di mana ia bahkan tak berdaya membentengi kedubesnya di Baghdad, yang notabene kedubes terbesar di dunia. Semua “pengorbanan” AS itu menguap sia-sia.

Seperti diketahui, di hari terakhir tahun 2019 ribuan massa simpatisan pasukan relawan al-Hashd al-Shaabi dan lain-lain mengalir ke kawasan al-Khadra, Baghdad, serta menyerbu dan melakukan aksi pembakaran di Kedubes AS sebagai bentuk luapan kemarahan mereka terhadap serangan udara AS terhadap Brigade Hizbullah Irak yang menggugurkan puluhan pejuang Irak dan melukai puluhan lainnya.

Baca: Video: Kedubes AS di Baghdad Diserbu Massa, Relawan Berjanji Kepung Semua Kamp Militer AS

AS terlihat sangat percaya diri ketika melancarkan serangan udara terhadap Brigade Hizbullah Irak dengan dalih pembalasan atas terbunuhnya seorang kontraktor AS dan terlukainya puluhan tentara dalam serangan beberapa roket ke pangkalan K1 yang menampung tentara AS di Kirkuk. Padahal, ketika drone termahalnya, Global Hawk, ditembak jatuh oleh Iran di angkasa Selat Hormuz karena melanggar zona udara Iran pada Juni 2019 AS sama sekali tak bernyali untuk melancarkan serangan balasan ke kedalaman wilayah Iran.

Mengapa demikian? Jawabannya sederhana, yaitu bahwa Presiden AS Donald Trump hanya berani mengobarkan perang proksi anti Iran di wilayah Irak, setidaknya untuk sementara waktu ini, karena AS khawatir mendapat balasan dengan skala yang mengejutkan dari Iran, balasan yang bisa jadi menyebabkan perang terbuka di mana AS akan menanggung derita kerugian yang tak kepalang tanggung besarnya.

Apalagi, penembak jatuhan drone sedemikian jitu terhadap obyek yang melesat di ketinggian optimal praktis menimbulkan ketakutan karena peristiwa ini tak ubahnya dengan keterujian Iran dan keberhasilannya menaklukkan puncak industri militer berteknologi mutakhir. Peristiwa itu mengindikasikan kemampuan Iran mendatangkan berbagai kejutan lebih lanjut.

Baca: Ayatullah Khamenei Kutuk Serangan Udara AS Terhadap Hizbullah Irak

Fenomena lain yang juga perlu diingat ialah kepalsuan janji Trump untuk membela sekutunya dengan kekuatan militer, yang terungkap ketika fasilitas Aramco di Abqaiq dan Khurais, Arab Saudi, diterjang rudal dan drone Yaman. Apa yang dapat dilakukan oleh AS saat itu hanyalah menuding Iran berada di balik serangan itu, tanpa ada pembelaan dalam bentuk aksi pembalasan.

Dalam perkembangan situasi terkini di Irak, reaksi al-Hashd al-Shaabi atas serangan terbuka AS tampaknya tidak akan sebatas aksi protes dan penyerbuan Kedubes AS di Baghdad. Bukan tak mungkin aksi protes itu, cepat atau lambat, akan disusul dengan gempuran-gempuran roket mematikan terhadap pasukan AS yang tersebar di barat dan utara Irak, yang konon jumlahnya mencapai 5200 personil.

Dengan melancarkan serangan udara terbuka ke posisi-posisi Brigade Hizbullah Irak, AS tak ubahnya dengan menggali kuburnya sendiri Irak, atau bahkan di kawasan Teluk Persia dan Timur Tengah secara keseluruhan.

Baca: Setelah Main Gertak, Trump Akhirnya Malah Mengaku Tak Ingin Berperang dengan Iran

Trump rupanya belum mengenal bangsa Irak dan militansi para pejuangnya, dan tidak pula mengambil pelajaran dari realitas keterhinaan militer AS di Irak sehingga pendahulunya, Barack Obama, terpaksa menarik keluar seluruh pasukan AS pada akhir tahun 2011 demi mencegah kerugian jiwa dan materi lebih besar.

Irak sekarang sudah tidak lagi lemah akibat blokade sewenang-wenang seperti yang pernah dialaminya selama 13 tahun ketika menjadi sasaran invasi, agresi dan pendudukan AS sejak tahun 2003. Irak kini sudah lebih bersenjata, dan menjadi anggota Poros Resistensi, yaitu poros kekuatan besar di Timur Tengah yang didukung lebih dari setengah juta rudal dengan berbagai ukuran, dimensi, dan hulu ledak.

Karena itu, sebagaimana AS terhina dan terpaksa menarik keluar pasukannya dari Irak pada tahun 2011, pada tahun 2020 ini bukan tak mungkin pasukan AS juga akan terhalau lagi dari Irak, dan bahkan juga dari Suriah. (mm/raialyoum)

DISKUSI: