Kemenangan Hizbullah dalam Perang Urat Saraf dengan Israel

0
59

LiputanIslam.com – Terjadi perkembangan situasi di wilayah perbatasan Libanon-Israel (Palestina pendudukan 1948) belakangan ini, yang mencerminkan sebuah strategi baru penuh misteri dan teka-teki dari kelompok pejuang Hizbullah, dan karena itu mereka tak membuat pernyataan rinci mengenai aktivitas militernya di sana, terutama terhadap pasukan Israel, sehingga keadaan justru menjadi semakin mencekam bagi pasukan Zionis penjajah Palestina tersebut.

Pernyataan yang sudah dirilis oleh Hizbullah hanya berupa bantahan terhadap semua narasi dan klaim Israel bahwa pasukan Zionis berhasil menggagalkan upaya penyusupan elemen Hizbullah dari wilayah pertanian Sheeba, Libanon selatan. Hizbullah mengumumkan bantahannya itu, namun sembari bersumpah akan membalas darah anggota seniornya, Ali Kamel Mohsen, yang gugur dalam peristiwa serangan udara Israel ke Damaskus, Suriah, belum lama ini.

Jika memang telah terjadi upaya penyusupan anggota Hizbulla kemudian terdeteksi dan terpantau oleh satuan-satuan militer Israel, lantas mengapa mereka tidak menembak para penyusup itu? Dan untuk apa pula Israel menggelar drama serangan artileri ke daerah Sheeba, padahal tidak menimbulkan apapun kecuali kerusakan pada sebuah rumah kosong?

Jawabannya jelas bahwa Israel sedang panik, ketakutan, dan tidak ingin membuka konfrontasi dengan Hizbullah dalam situasi sekarang di mana Perdana Menteri Israel sedang mengalami tiga krisis; pertama, krisis kesehatan di mana dia gagal mencegah penyebaran virus corona (Covid-19; kedua, krisis politik di mana perpecahan serius terjadi dalam koalisi dewan kabinetnya serta turunnya puluhan ribu massa ke jalanan yang memrotes dan menuntutnya mundur; ketiga, krisis pribadi di mana dia terjerat kasus-kasus hukum terkait dengan praktik korupsinya.

Terlepas dari narasi kontradiktif Israel itu, apa yang terjadi di perbatasan Libanon-Israel belakangan ini justru menguntungkan Hizbullah yang tak melepaskan tembakan barang satu peluru dan tidak pula mengumbar statemen. Kondisi yang ada lebih merupakan perang urat saraf, dan dalam suasana demikian Hizbullah telah membuktikan kepiawaian dan kematangan pengalamannya setelah sekira 30 tahun berkecimpung di gelanggang konflik sehingga bahkan dapat mengirim tenaga-tenaga pakar untuk para sekutunya di kawasan Timteng atau bahkan mungkin lebih jauh lagi.

Dalam perang itu Hizbullah tampil sebagai pemenang. Betapa tidak, dengan hanya bermodal ancaman untuk membalas darah anggotanya yang terbunuh di Suriah, semua orang di Israel, pejabat serta publiknya, kalang kabut sehingga Netanyahu yang dikenal sebagai sosok arogan bahkan terpaksa berusaha mencegah eskalasi dengan cara mengirim surat kepada Hizbullah melalui UNIFIL berisi pengakuan tidak mengetahui keberadaan elemen Hizbullah di lokasi yang diserangnya di Damaskus. Sebulan sebelumnya, drone Israel juga sengaja tak menyerang mobil yang membawa empat komandan lapangan Hizbullah di daerah lain perbatasan Suriah-Libanon.

Di tengah kekalutan Israel itu, Hizbullah tetap berpegang pada sumpahnya untuk membalas darah Kamel Mohsen. Bahwa kapan, di mana, dan  bagaimana Hizbullah akan membuktikan sumpahnya itu, justru di situ Hizbullah dapat memperpanjang tekanan mental pada Israel, karena bagaimanapun juga kelompok pejuang pimpinan Sayid Hassan Nasrallah itu selama ini selalu konsisten pada apa yang mereka katakan. (mm/raialyoum)

Baca juga:

Israel Mengaku Tahu Tempat Persembunyian Sekjen Hizbullah

[Video]: Israel Kerahkan Barisan Tank di Perbatasan Libanon-Suriah

Kembali Kirim Pesan ke Hizbullah Lewat Perantara, Israel: Kami Tak Mau Perang!

 

DISKUSI: