Heboh Drone Hizbullah Masuk Israel

0
895

LiputanIslam.com –   Drone “Hassan” milik Hizbullah berhasil masuk dan melanglang angkasa Israel selama sekira 40 menit sejauh 70 km dari perbatasan tanpa bisa dirontokkan oleh sistem rudal Israel. Drone itu kembali pulang ke pangkalannya dengan selamat sembari membawa gambar-gambar penting pangkalan-pangkalan militer Israel pada Jumat 18 Februari.

Sejak itu, pembicaraan seputar drone semakin riuh di tengah para pemimpin politik dan komandan militer bukan hanya di Israel melainkan juga di tengah para sekutu barunya di Timteng, sebagaimana terlihat dari dua peristiwa sebagai berikut;

Pertama, Menteri Kecerdasan Buatan Uni Emirat Arab (UEA), Omar Sultan Al-Olama, dalam simposium di pameran UMEX yang diadakan di Abu Dhabi, menyerukan kepada negara-negara sekutu supaya bekerjasama membangun “perisai” yang melindungi mereka dari bahaya drone setelah UEA menjadi sasaran target Ansarullah (Houthi) Yaman pada awal bulan ini.

Kedua, sumber keamanan Israel kepada saluran 12 milik Israel mengungkap pembentukan aliansi segi empat yang mencakup Israel dan tiga negara Arab, terutama Arab Saudi dan UEA, untuk menghadapi ancaman drone terhadap keamanan dan kepentingan mereka.

Drone berbiaya rendah (sekira $1000) dengan akurasinya tinggi dalam membidik sasaran telah menjadi dilema yang memusingkan para sekutu Amerika Serikat (AS) di kawasan Arab. Drone itu, terutama yang canggihnya, sulit dideteksi bahkan oleh radar canggih, sehingga drone Hizbullah pekan lalu berhasil menembus angkasa Galilea dan kemudian pulang dengan membawa informasi sensitif.

Krusialnya lagi, helikopter, pesawat tempur dan rudal Israel gagal menjatuhkannya, menurut pengakuan resmi juru bicara tentara Israel sendiri. Kalaupun semua itu dapat merontokkannya, biayanya akan sangat menguras dana, apalagi jika menggunakan sistem Patriot atau  Thaad yang paling mutakhir dalam persenjataan  AS, sebab biaya setiap rudalnya berkisar 1 juta-5 juta dolar.

Hizbullah diperkirakan memiliki lebih dari 2000 drone, sebagaimana disebutkan dalam laporan militer yang dikutip surat kabar Jerusalem Post, dan sebagian besar di antaranya diproduksi sendiri oleh Hizbullah di pabrik-pabrik di pegunungan Lebanon selatan.

Kekhawatiran Israel praktis memburuk, padahal ini bukan sedang membicarakan rudal balistik Hizbullah yang jumlahnya diperkirakan oleh Israel sendiri mencapai lebih dari 150,000, yang sebagian besar di antaranya berpresisi tinggi dengan rasio melesat dari target hanya sekira 10 meter.

Jika kabar dari Israel benar bahwa telah terbentuk aliansi segi empat Israel-Emirat-Saudi, dan yang keempat kemungkinan adalah Bahrain, untuk menghadapi senjata drone yang menakutkan itu, maka negara-negara Arab Teluk itu ibarat berlindung dari amuk api justru dengan kobaran api, sebab keberadaan Israel dalam aliansi ini hanya akan memperburuk bahaya yang ingin mereka hindari.

Lagi pula, Israel yang terbukti gagal menghadapi drone Hizbullah bagaimana mungkin dapat diandalkan untuk membantu sekutu Teluknya dalam menghadapi bahaya  yang meneropong dari dua arah; pertama, dari arah utara, yaitu dari kelompok misterius Brigade Janji Yang Benar, yang ada di wilayah Irak dan telah meluncurkan lima drone ke Abu Dhabi pada awal bulan ini; dan kedua, dari arah barat daya , yang tak lain dari Ansarullah di Yaman.

Itupun masih belum menyentuh soal drone Iran di front timur, yang diperkirakan berjumlah puluhan ribu dan oleh para ahli militer Barat dinilai tergolong paling maju dan canggih di dunia.

Alhasil, era pesawat tempur canggih AS yang dimiliki Israel dan pernah membuat rezim ini dulu berhasil memenangi perang melawan sejumlah negara Arab dalam tempo beberapa jam kini telah berakhir dan tak akan pernah kembali, berkat drone modern dan rudal balistik yang diproduksi di dalam terowongan-terowongan Gaza, Saada dan Libanon selatan.

Pada hakikatnya, apa yang mengancam keamanan dan stabilitas sebagian besar negara-negara Teluk belakangan ini adalah normalisasi dan kemudian aliansi mereka dengan Rezim Zionis Israel. Solusi terbaik dan termurah adalah kembalinya mereka kepada Pan-Arabisme, dan meninggalkan Israel, yang sudah tak mampu melindungi dirinya sendiri, dan cepat atau lambat akan menjadi sasaran misil dan drone Arab dan Islam dari Lebanon selatan, Palestina selatan dan bisa jadi pula dari Yaman. (mm/raialyoum)

Baca juga:

Kajian di Prancis Ungkap Kerapuhan UEA di Depan Drone dan Rudal Yaman

Laporkan Pembentukan Aliansi Anti-Iran, Media Israel Sebut Iran Miliki 40,000 Drone

Kubah Besi, F-16 dan Apache Israel Gagal Jatuhkan Drone Hizbullah, Ini Dampaknya

DISKUSI: