Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Kajian Islam

Inti Keimanan Dalam Cermin Pengingkaran

Published 30/05/2015 6 Min Read
Share
6 Min Read
SHARE

ياحسينياحسين“Tidak ada paksaan dalam agama, (karena) sesungguhnyatelah jelas jalan yang benar dari jalan yang salah, dan siapa yang ingkar kepada taghut dan beriman kepada Allah, sesungguhnya dia telah berpegang pada tali yang teguh dan tidak akan putus, dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Allah itu pelindung orang-orang yang beriman, mereka dikeluarkan-Nya dari kegelapan kepada cahaya yang terang, dan orang-orang yang kafir itu pelindungnya adalah setan, mereka dikeluarkan-Nya dari cahaya yang terang kepada kegelapan. Orang-orang itu isi neraka, mereka tetap di dalamnya.” (Q.S. al-Baqarah: 256-257)

Alangkah mulianya ayat di atas dalam memberikan kekhasan dan kekuatan Islam serta para pribadi yang mendapat celupannya. Firman ini dengan tegas menancapkan pentingnya kesadaran dan ikhtiari kemanusiaan menuju kesempurnaan melalui jalur syariat (agama). Firman ini juga menandaskan bahwa agama adalah unsur pokok dalam fitrah manusia dan diperteguh dengan jalan kebenaran sebagai lawan dari jalan kesalahan. “Jalan kebenaran” merupakan sirath al-mustaqim dan syariat yang diikuti secara kukuh, sedangkan “jalan kesalahan” adalah jalur lalu lintasnya taghut.

Menariknya, dalam firman ini, pengingkaran kepada Taghut di dahulukan daripada keimanan kepada Allah. Hal ini setidaknya mengindikasikan bahwa kita mesti mengikis habis segala bentuk kekuasaan yang mengitari diri kita sehingga kemudian dengan kesadaran penuh dan kepasrahan total, kita menghadapkan wajah bersimpuh di hadapan Allah dengan keimanan yang hakiki, yaitu keimanan secara mutlak pada wajib al-wujud (Allah) yang tidak boleh bercampur dengan keimanan atau kompromistis dengan kekuatan lain yang semu dan menipu.

Karena itu tauhid adalah kemurnian total keyakinan dari kekuatan apapun selain Allah swt. Jika, masih terbersit di hati dan pikiran kita, bahwa Allah memiliki tandingan dalam kekuasannya, maka keimanan pada dasarnya belum masuk ke dalam hatinya. Melalui penolakan atas thaghutlah (tirani) misi tauhid sejati tetap terjaga sepanjang zaman, sebab seringkali yang menjadi perusak tauhid itu adalah para tirani terebut. Lihatlah misalnya Namrud dan Firaun, yang menjadi thaghut di zamannya, yang dengan mudah mengelabui orang dengan kekuasannya. Sebaliknya Nabi Ibrahim dan Nabi Musa sebagai lawannya, dengan kepasrahan, keteguhan hati dan iman serta keyakinan yang mendalam, berhasil selamat dari semua tipu daya bahkan kekerasan yang dilakukan oleh tirani zamannya. Hal ini dilakukan tidak lain sebagai wujud iman sejati dengan mewujudkannya melalui cermin pengingkaran terhadap tirani (taghut).

Begitu juga dengan Nabi Muhammad saw, ketika di awal-awal dakwahnya di Mekah, diminta untuk menghentikan semua kegiatan dakwahnya, dan thagut di zamannya menawarkan kekuasaan, kekayaan, dan kesenangan kepada Nabi saw sebagai pengganti dakwah mulianya, tetapi Nabi tetap bertahan pada pendiriannya untuk tetap mendakwahkan agama yang dibawanya, sehingga penguasa tirani zamannya melakukan penindasan, kekerasan, boikot, hingga target pembunuhan, sampai Allah swt memerintahkan Nabi saw untuk hijrah ke tempat yang lebih aman, “Dan (ingatlah) katika orang-orang kafir memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu atau mengusirmu. Mereka memikirkan strategi, dan Allah adalah sebaik-baik pembuat strategi.” (al-Anfal : 30).

Lima puluh tahun kemudian, putra Nabi saw, Sayidina Husain, juga bangkit melawan thagut di zamannya, untuk menjaga kemurnian agama kakeknya, yang telah diselewengkan oleh penguasa. Misi mulianya ini ditorehkan beliau melalui tinta darah syuhada akan senantiasa hidup disetiap aliran darah dari denyut nadi para pengikutnya. Mereka-mereka inilah yang mendapat rajutan ‘tali Tuhan” yang tidak mungkin putus dimakan zaman, sebab mereka telah melintas di atas “jalan kebenaran” dalam lindungan cahaya ilahiah yang tidak bercampur dengan kegelapan, “Allah itu pelindung orang-orang beriman, mereka dikeluarkan-Nya dari kegelapan kepada cahaya yang terang.” (Q.S. al-Baqarah: 257) .

Sayidina Husain memilih untuk untuk bangkit melawan tirani zamannya, tidak lain karena ketidakmungkinan beliau untuk mendiamkan kezaliman yang terjadi di depan matanya, seperti tersirat dari kata-katanya saat berhadapan dengan pasukan al-Hurr di al-Bidhah :

“Wahai manusia, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda, ‘Barangsiapa melihat penguasa yang menghalalkan yang diharamkan Allah, yang melanggar ikrarnya kepada Allah dan menentang sunnah Rasulullah saw, memperlakukan hamba-hamba Allah dengan jahat dan zalim, dan tidak mengubahnya dengan perbuatan dan perkataan maka adalah hak Allah bila ia akan memasukkannya ke tempat (yang sama) dengan penguasa (tiran) itu”. Awas, orang-orang seperi ini akan tetap taat kepada setan dan meninggalkan ketaatan kepada al-Rahman, melakukan korupsi secara terbuka, dan mengabaikan hukum-hukum, serta memonopoli al-fai.”

Begitu dalam salah satu untaian syairnya Imam Husain as menegaskan :

“Aku bertekad terus maju ke depan, Walau maut menghadang di jalan

Mati bukanlah noda mencemarkan, Bagi seorang berdarah pahlawan

Bila disertai niat ikhlas berkorban, Untuk berjuang membela kebenaran

Kuserahkan segenap jiwa dan raga, Dalam perang suci membela agama

Lebih baik mati daripada hidup terhina

Jika masih hidup aku tak kecewa, Dan jika mati aku tak akan tercela

Alangkah hina hidup di bawah kaki durhaka”

Sayidina Husain, membawa dan mengajarkan pesan moral bahwa kita tidak boleh membiarkan situasi buruk yang dilakukan para penguasa berkembang, kapanpun dan di manapun. Sayidina Husain adalah sosok yang memancarkan kepribadian yang tangguh dalam menegakkan kebenaran yang membangkitkan setiap diri umat Islam agar merasakan gejolak-gejolak pemberontakan bagi setiap penindasan yang dilakukan thagut sepanjang zaman. Inilah dia inti keimanan dalam bingkai perlawanan (hd/liputanislam)

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Kajian Islam

Hakekat Dzul Qarnain

By Rachel
Kajian Islam

Citra Buruk Yahudi dalam Al-Quran

By Farid
Kajian Islam

Mendekati Tuhan dengan Menjadi Orang yang Berilmu

By Farid
otong sulaiman
Kajian Islam

Falsafah Kematian: Mengenang Gugurnya Soleimani

By Farid
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account