Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Kajian Islam

Luas dan Sempitnya Makna Sahabat Nabi (1)

Published 21/05/2015 5 Min Read
Share
5 Min Read
SHARE

sahabat-nabiIstilah ‘sahabat’ berasal dari bahasa Arab, yakni Al-Ashhab, Ash-Shahabah, Shahaba, Yashhubu, Suhbatan, Shahabatan, dan Shahibun, yang artinya ‘teman bergaul, sahabat, teman duduk, penolong, dan pengikut. Ash-Shahib diartikan sebagai kawan bergaul, pemberi kritik, teman duduk, pengikut, teman atau orang yang melakukan dan menjaga sesuatu’. Di dalam al-Quran, hanya ditemukan derivasi dari kata ini seperti Tushahibni, shahibahuma, shahibahu, shahibatahu, ashhab, dan ashhabun, yangterulang sebanyak 97 kali. Berdasarkan penelaahan atas sejumlah ayat-ayat al-Quran, kata-kata tersebut memiliki beberapa makna, baik bermakna positif maupun bermakna negatif.

Menurut bahasa, kata ‘sahabat’ adalah musytaq (pecahan) dari kata Shuhbah, artinya orang yang menemani yang lain, tanpa ada batasan waktu dan jumlah. Kata ini digunakan untuk menyatakan kegiatan persahabatan itu, baik terjadi dalam frekuensi minimal maupun maksimal. Jadi, jika seseorang menemani seseorang selama sepanjang masa, atau satu tahun, atau satu bulan, atau satu hari, atau bahkan satu jam, maka mereka telah dianggap saling bersahabat. Konsep ini dipegang oleh mayoritas ulama.

Kata Ash-Shuhbah dapat diterapkan kepada hubungan antara seorang mukmin dengan mukmin lain, antara seorang anak dengan orang tuanya yang berbeda keyakinan, antara dua orang yang bersama-sama melakukan perjalanan, antara pengikut dengan orang yang diikuti, antara seorang mukmin dengan orang kafir, antara orang kafir dengan orang kafir lainnya, antara seorang nabi dengan kaumnya yang kafir yang berusaha menghalangi dari kebaikan dan mengembalikannya pada kesesatan. Kata ini pun bermakna memiliki pengaruh, misalnya seseorang dapat terpengaruh perangainya setelah berteman dengan orang yang berprilaku buruk. Kata ini pun berarti ketundukan pada akidah Ilahi atau kesetiaan mutlak kepada pemimpin politik, seperti ketundukan keluarga nabi terhadap akidah Ilahi atau pengorbanan mereka serta kesetiaan para sahabat pada kepemimpinan Rasulullah saw.

Secara terminologi, banyak sekali pandangan ulama tentang definisi sahabat. Mengenai batasan tentang siapa sahabat itu sampai saat ini masih diperselisihkan. Mayoritas ulama mendefinisikan kata ‘sahabat’ secara luas. Misalnya, seperti dilaporkan oleh Al-Syahrazuri, dan ‘Ajaj al-Khatib, para ahli hadits menulis bahwa “Sahabat adalah setiap Muslim yang pernah melihat Nabi Muhammad saw”. Imam Bukhari menyatakan bahwa “Di antara kaum Muslimin yang pernah menyertai Nabi Muhammad saw atau pernah melihat beliau, maka sudah termasuk sahabat Nabi saw”. Imam Ahmad mengungkapkan bahwa “Setiap orang yang pernah menyertai Nabi Muhammad saw selama satu tahun atau beberapa bulan, sehari atau satu jam, bahkan sekedar pernah melihat beliau termasuk sahabat Nabi saw.”

Sementara itu, Ibn Hazm menulis bahwa “Sahabat adalah setiap orang yang pernah bermajlis dengan Nabi Muhammad saw, meski hanya sesaat, mendengar dari beliau meski hanya satu kata, menyaksikan beliau menangani suatu masalah dan tidak termasuk orang-orang munafik yang kemunafikannya berlanjut sampai populer dan meninggal dalam keadaan seperti itu”.

Kemudian Abu al-Muzaffar al-Sam’aniy pernah berkata bahwa “Para pakar hadits menyebut istilah sahabat untuk orang yang meriwayatkan dari nabi Muhammad saw, satu hadits atau satu kata. Lalu mereka melonggarkan pengertian itu, sehingga mereka menganggap orang yang pernah melihat sekali saja kepada nabi saw sebagai sahabat. Ini tidak lain karena kemuliaan status nabi saw. Mereka memberikan status sahabat kepada siapa saja yang pernah melihat nabi saw”.

Berdasarkan keterangan al-Waqidi, para ahli ilmu berkata “Setiap orang yang pernah melihat Nabi Muhammad saw, telah baligh, lalu masuk Islam, memahami persoalan agama, dan rela kepada beliau, maka ia dapat disebut sebagai sahabat nabi Muhammad saw meski hanya sesaat di siang hari”. Ibn Hajar al-Asqalani menulis “Sahabat adalah orang yang pernah bertemu dengan Nabi Muhammad saw dalam keadaan beriman, hidup bersamanya baik lama atau sebentar, meriwayatkan hadits atau tidak. Begitu pula orang yang pernah melihat Nabi saw walaupun sebentar, atau pernah bertemu dengan beliau namun tidak melihat beliau karena buta”. Sementara al-Qasimi menulis bahwa “Sahabat adalah orang yang pernah bertemu dengan nabi Muhammad SAW walaupun sesaat, dalam keadaan beriman kepadanya, baik meriwayatkan hadits dari beliau atau tidak.

Jadi, pada prinsipnya, keluasan makna sahabat di atas dapat diberlakukan dengan memenuhi dua unsur. Pertama, pernah bertemu dengan Rasulullah saw, walaupun sekejap. Dan kedua, beragama Islam sampai meninggal dunia. Alhasil, jika seseorang tidak pernah bertemu nabi Muhammad SAW, atau pernah bertemu beliau, tetapi tidak dalam keadaan beriman, atau bertemu dalam keadaan beriman tetapi meninggal dalam keadaan tidak beriman, maka ia tidak bisa disebut sebagai sahabat nabi Muhammad SAW. (hd/liputanislam)

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Kajian Islam

Hakekat Dzul Qarnain

By Rachel
Kajian Islam

Citra Buruk Yahudi dalam Al-Quran

By Farid
Kajian Islam

Mendekati Tuhan dengan Menjadi Orang yang Berilmu

By Farid
otong sulaiman
Kajian Islam

Falsafah Kematian: Mengenang Gugurnya Soleimani

By Farid
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account